Kemenangan dramatis atas Liverpool menjadi pembuka jalan bagi Lev di Manchester United. Nama Ryley kini bukan lagi asing bagi para penggemar; namanya mulai dielu-elukan, kaus bernomor 11 punggungnya mulai terjual laris. Namun, seperti yang sering terjadi dalam sepak bola, pujian setinggi langit dapat berubah menjadi kritik pedas dalam sekejap.
Bulan-bulan berikutnya, Lev terus menunjukkan performa impresif. Ia berhasil mendapatkan tempat di starting line-up dan menjadi pilihan utama pelatih Rúben Amorim. Umpan-umpan terobosannya yang cerdas menjadi senjata andalan, menciptakan peluang demi peluang untuk para penyerang United. Bryan Mbeumo, Cunha, dan Benjamin Šeško, yang tadinya sedikit meremehkan pemain dari Asia Tenggara, kini mengakui talentanya dan merasa nyaman bermain bersamanya.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Dalam sebuah pertandingan tandang yang krusial melawan Arsenal, Lev membuat sebuah kesalahan fatal. Ia kehilangan bola di area pertahanan sendiri, sebuah kesalahan yang dimanfaatkan lawan untuk mencetak gol. United kalah, dan para suporter yang sebelumnya memujinya, kini berbalik mengkritik. Media-media Inggris, yang tak kenal ampun, segera menjadikannya kambing hitam.
"Lev Ryley, Permata yang Masih Mentah," tulis salah satu surat kabar. "Kesalahan Konyol Lev Ryley Merugikan United," timpal yang lain. Kritik-kritik itu terasa menusuk, membuat Lev merasa seperti kembali ke titik nol. Tekanan dari media dan ekspektasi yang tinggi mulai menggerogoti mentalnya.
Rúben Amorim, menyadari kondisi anak asuhnya, memanggil Lev ke kantornya. "Lihat, Lev," katanya, menyodorkan sebuah tablet yang menampilkan cuplikan pertandingan. "Semua pemain hebat pernah membuat kesalahan. Yang membedakan mereka adalah cara mereka bangkit. Kamu harus belajar dari ini, jangan biarkan ini merusak mentalmu."
Amorim kemudian menunjukkan video pertandingan Wayne Rooney saat muda, di mana idolanya itu juga melakukan kesalahan-kesalahan yang sama. "Rooney tidak menyerah. Dia belajar. Dia berjuang. Dan pada akhirnya, dia menjadi legenda," kata Amorim, tatapannya menenangkan.
Dukungan dari Amorim dan rekan-rekan setimnya membantu Lev bangkit. Ia menghabiskan lebih banyak waktu di pusat latihan, mengasah kemampuannya, dan memperbaiki kelemahannya. Ia tidak lagi melihat kritik sebagai hukuman, tetapi sebagai motivasi untuk menjadi lebih baik.
Dalam pertandingan berikutnya, melawan tim papan tengah, Lev tampil luar biasa. Ia mencetak satu gol dan memberikan dua assist, membuktikan bahwa ia telah belajar dari kesalahannya. Para suporter United kembali menyanyikan namanya, dan media-media yang tadinya mengkritik, kini berbalik memujinya. Lev tahu, badai telah berlalu, tetapi ia harus selalu siap menghadapi badai berikutnya.
Perjalanannya masih panjang, dan ia tahu, jalan menuju puncak kejayaan tidak akan mudah. Namun, ia tidak sendirian. Ia memiliki tim, pelatih, dan dukungan dari jutaan penggemar di Indonesia yang selalu mendoakannya. Lev Ryley, si anak Banjar, telah membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar permata tersembunyi, melainkan mutiara yang siap bersinar di panggung dunia.
