Matahari baru saja menampakkan diri, cahayanya yang keemasan perlahan menyinari kabut tipis di atas permukaan Sungai Martapura. Deru mesin kelotok, perahu-perahu kecil yang berjejer, dan suara riuh para pedagang yang mulai berdatangan dari berbagai penjuru, mengiringi aktivitas pagi di Banjarmasin. Di rumah sederhana Lev, pagi ini dimulai dengan suasana yang sedikit berbeda dari biasanya.
Lev terbangun dengan kepala pusing, bukan karena kopi yang ia tumpahkan semalam, melainkan karena koper yang kini tergeletak terbuka, dengan beberapa bajunya masih basah. Ia menghela napas panjang, menatap Faruq yang sudah rapi mengenakan kemeja dan celana kargo. Faruq sedang duduk di teras, memegang secangkir teh panas, dan matanya menatap lekat ke arah sungai.
"Sudah rapi dari tadi, Faruq?" tanya Lev sambil menguap.
Faruq menoleh. "Aku sudah shalat subuh di masjid. Tadi aku dengar suara azan, tapi kamu seperti tidak bergeming dari kasur."
Lev tersenyum masam. "Setelah insiden kopi semalam, aku terlalu lelah. Maaf, Faruq."
Faruq tidak menjawab, hanya tersenyum tipis. "Sudah, sana cepat mandi. Setelah ini kita sarapan di warung acil biasa."
Lev mengangguk, lalu bergegas ke kamar mandi. Saat ia kembali, Faruq sudah menyiapkan teh dan sepiring kue bingka kentang, makanan khas Banjar kesukaannya.
"Makan ini dulu, Lev. Biar perutmu tidak kosong," kata Faruq.
Mereka berdua berjalan menuju sebuah warung sederhana di pinggir sungai, yang dikenal dengan nama Warung Acil Ipah. Warung ini bukan sekadar tempat makan, tapi juga tempat berkumpulnya warga sekitar. Di sini, mereka tidak hanya sarapan, tapi juga bertukar cerita, berkelakar, dan bersilaturahmi.
Lev mengeluarkan kamera dari tasnya, mengambil beberapa foto pemandangan sungai di pagi hari. Matanya berbinar melihat aktivitas warga yang begitu hidup. Di sebuah sudut, seorang kakek sedang bercengkrama dengan anak muda, di sudut lain, para ibu-ibu sibuk memilih ikan di perahu pedagang.
"Nah, ini yang mau kau foto, kan? Kehidupan nyata di Banjarmasin," kata Faruq, yang melihat Lev tampak terkesima.
"Iya, Faruq. Ini lebih indah dari yang aku bayangkan. Setiap sudutnya punya cerita," jawab Lev, sambil terus memotret.
Mereka duduk di kursi kayu panjang. Acil Ipah, pemilik warung yang sudah tua tapi masih lincah, menghampiri mereka sambil tersenyum.
"Nah, datang juga kalian. Lama tidak terlihat. Mau makan apa?" tanya Acil Ipah.
"Nasi sop saja, Acil. Seperti biasa," jawab Faruq.
Lev tersenyum. "Kalau saya, nasi sop juga. Tapi sambalnya jangan terlalu pedas, Acil. Semalam saya habis minum kopi banyak, perutnya masih belum terbiasa."
Acil Ipah tertawa. "Memang ada-ada saja kamu ini, Lev. Sudah siap untuk perjalanan jauh, ya? Hati-hati di jalan, nak. Banyak-banyak berdoa."
Sambil menunggu pesanan, Lev melihat ke arah sungai. Matanya menangkap momen yang menghangatkan hati. Sebuah perahu kelotok kecil yang membawa seorang ibu dan anak, berpapasan dengan perahu yang membawa seorang nelayan. Mereka saling sapa dan melempar senyum. Sebuah pemandangan yang sederhana, tapi penuh arti.
"Aku akan memotret momen ini, Faruq," bisik Lev.
Faruq mengangguk. "Itu inti dari perjalanan kita, Lev. Bukan hanya memotret tempat-tempat indah, tapi juga memotret keindahan dari interaksi manusia di dalamnya."
Setelah nasi sop mereka datang, mereka mulai sarapan sambil menikmati pemandangan di depan mata. Tiba-tiba, Lev tersedak. Ia mencoba meminum teh, tapi malah salah mengambil gelas milik Faruq. Faruq menggelengkan kepala, tersenyum kecil.
"Jangan pernah ganti-ganti gelas ya, Lev. Minummu pasti berbeda, kan?"
"Iya," jawab Lev, sambil meminum tehnya, "ini terasa lebih manis."
Mereka berdua tertawa. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah.
Setelah sarapan, mereka berjalan kembali ke rumah. Mereka melihat beberapa anak-anak kecil sedang bermain di jalanan, riang gembira. Lev mengangkat kameranya, memotret anak-anak itu.
"Bagaimana, Lev? Sudah siap?" tanya Faruq.
Lev tersenyum lebar. "Siap, Faruq. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Faruq tertawa, "Aku juga tidak akan membiarkanmu mengecewakanku."
Mereka berdua menaiki taksi, menuju ke terminal. Lev melihat ke belakang, melihat rumahnya, sungai, dan warung Acil Ipah. Ia akan merindukan semua itu. Tapi ia tahu, perjalanan yang akan ia jalani akan membawa lebih banyak kenangan dan cerita yang tak terlupakan. Perjalanan yang akan mengajarkannya banyak hal, termasuk belajar menjadi lebih baik, dari setiap kekonyolan yang ia lakukan.
