Bukan dingin yang biasa ia rasakan di Banjarmasin saat musim hujan. Ini adalah jenis dingin yang menusuk hingga ke tulang, yang membuat napas Lev Ryley mengepul bagaikan asap. Begitu keluar dari bandara, Lev langsung memeluk tubuhnya sendiri, menyesuaikan diri dengan suhu Perm yang jauh di bawah nol. Ia melirik termometer di gawainya, terpampang angka minus tiga derajat Celsius. Ia segera mengeratkan syal yang melilit lehernya dan menarik napas dalam-dalam.
Setelah melewati proses imigrasi yang mendebarkan, Lev berhasil menemukan hostel yang sudah ia pesan sebelumnya. Kamar kecil dengan pemandangan jalan bersalju, sederhana namun nyaman. Ia meletakkan kopernya di sudut, mengambil posisi sujud dan menunaikan shalat jamak takhir Maghrib dan Isya, sebagai wujud syukur atas keselamatan perjalanannya. Perutnya bergemuruh. Sudah lebih dari dua puluh jam ia hanya mengandalkan roti dan air mineral selama perjalanan.
Malam itu, Lev memutuskan untuk mencari makan. Dengan peta di tangan, ia keluar dari hostel. Jalanan Perm tampak ramai, dengan lampu-lampu kota yang memendar indah di tengah salju. Langkahnya terhenti di depan sebuah kafe kecil yang terlihat hangat dan ramai. Sebuah papan menu dengan tulisan Sirilik terpampang di kaca. Lev meraba saku jaketnya, memastikan ponselnya masih ada.
"Oke, Google Translate, jangan mengecewakanku," gumamnya. Ia memindai menu dengan kamera ponselnya.
Layarnya memunculkan terjemahan yang kacau. Beberapa kata tidak terbaca, sebagian lagi tidak masuk akal. Namun, ada satu gambar yang menarik perhatiannya: sebuah gambar mirip sate atau kebab, lengkap dengan potongan daging di dalamnya. Tentu saja, mata Lev langsung berbinar. Seingatnya, kebab biasanya menggunakan daging ayam atau sapi, yang aman bagi seorang Muslim. Tanpa berpikir panjang, ia masuk.
Suasana kafe itu hangat dan nyaman. Aroma kopi dan roti memenuhi ruangan. Lev menghampiri kasir yang seorang gadis muda berambut pirang.
"Em… pelmeni, satu," ucap Lev, mencoba melafalkan kata yang ia yakini sebagai 'kebab' dari hasil terjemahan kacau ponselnya, sambil menunjuk gambar di menu dengan mantap.
Si kasir mengerutkan dahinya, tampak bingung. "Anda yakin, Tuan?"
Lev tidak mengerti, ia hanya mengangguk berulang kali dengan senyum lebar. "Ya, ya! Pelmeni! Satu."
Gadis kasir itu mengangguk pasrah. "Baiklah, pelmeni satu. Duduklah. Nanti akan saya antar."
Lev mencari tempat duduk di pojok, melepaskan jaket tebalnya, dan menikmati suasana. Sembari menunggu, ia membalas pesan dari keluarganya, memberitahu bahwa ia sudah tiba dengan selamat. Tak lama kemudian, si kasir datang dengan sepiring makanan.
Mata Lev membulat sempurna. Apa ini? Di hadapannya, bukan kebab, melainkan pangsit rebus, disajikan dengan sesendok krim asam dan taburan daun dill. Itu pelmeni, pangsit khas Rusia. Jelas bukan makanan yang ia harapkan, apalagi yang ia yakini halal. Wajah Lev langsung berubah pucat. Ia hanya menatap piring di depannya dengan putus asa.
"Ada masalah, Tuan?" tanya si kasir, melihat Lev yang terdiam.
Lev hanya menggeleng pelan, tidak bisa berkata-kata. Ia mencoba mencari cara untuk membatalkan pesanan ini, tapi ia tak punya kosakata yang tepat untuk menjelaskan kondisinya sebagai seorang Muslim yang butuh makanan halal.
"Permisi."
Sebuah suara lembut, dengan aksen Rusia yang terdengar merdu, menyapa Lev dari belakang. Seorang gadis, dengan rambut cokelat lurus dan mata yang teduh, berdiri di samping mejanya. Ia memandang piring pelmeni Lev, lalu beralih ke wajah Lev yang cemas.
"Saya lihat Anda seperti tidak suka makanan itu. Anda butuh bantuan?" tanyanya, menggunakan bahasa Inggris yang fasih.
Lev menghela napas lega. Akhirnya, ada yang bisa ia ajak bicara. "Ya... ini... saya kira ini kebab. Saya butuh makanan halal."
Gadis itu tersenyum kecil, lalu menunjuk pangsit itu dengan sopan. "Ini pelmeni. Pangsit daging. Dagingnya biasanya daging babi atau campuran. Tidak halal."
Wajah Lev makin pias. "Ya Tuhan... saya tidak tahu. Ponsel saya tidak bisa menerjemahkan dengan benar."
"Saya melihat Anda dari tadi di kasir. Pilihan kata-kata Anda... sangat meyakinkan," ujar gadis itu, sambil menahan tawa. Ia kemudian mengajak Lev. "Ikut saya."
Gadis itu berjalan ke arah kasir dan berbicara dengan si kasir dengan cepat dalam bahasa Rusia. Setelah percakapan singkat, si kasir mengangguk paham dan pergi ke dapur.
"Saya sudah bicara dengan mereka. Mereka akan membuatkan Anda salad sayuran. Mereka tidak punya daging halal. Tapi setidaknya, Anda tidak kelaparan," jelas gadis itu kembali.
Lev merasa sangat berterima kasih. "Terima kasih banyak. Anda menyelamatkan saya."
"Bukan apa-apa," jawab gadis itu sambil duduk di kursi kosong di depan Lev. "Saya Sofia. Kamu?"
"Lev. Lev Ryley. Dari Indonesia," jawab Lev, mengulurkan tangannya.
Sofia menjabat tangan Lev dengan hangat. "Selamat datang di Perm, Lev."
Lev tersenyum. Dinginnya Perm yang menusuk seolah lenyap seketika, digantikan oleh kehangatan dan kelegaan dari pertemuan tak terduga ini. Ia kini punya teman. Dan petualangannya di negeri asing ini baru saja dimulai, dengan cara yang paling konyol.
