Pagi itu, udara dingin Chelyabinsk tak lagi terasa menusuk, melainkan hanya sebagai pengingat konstan bahwa Andriy telah melihat ratusan musim dingin berlalu. Kesedihan atas perpisahan yang akan datang dengan Kolya, seperti yang disadarinya di kafe kemarin, masih menyelimuti hatinya, namun ia telah terbiasa menyembunyikannya. Keabadian adalah guru yang kejam, yang mengajarkan cara mengubur kesedihan di bawah tumpukan rutinitas.
Rutinitasnya pagi ini, bagaimanapun, sedikit berbeda. Bukannya langsung menuju toko buku, Andriy mendapati dirinya sedang mengejar seekor kucing oranye gemuk di sepanjang jalanan es. Kucing itu memakai syal mini berwarna merah cerah dan terlihat sangat tenang, seolah mengejar seorang elf berumur ratusan tahun adalah rutinitas pagi baginya.
"Dasar makhluk sialan!" gerutu Andriy, melompati tumpukan salju. "Pulangkan lagi kaleng ikan sardenku!"
Kucing itu, yang diberi nama Ogon (artinya "Api"), menoleh ke belakang, matanya yang kehijauan berkedip nakal. Ia hanya memegang kaleng ikan sarden yang baru dibeli Andriy di mulutnya, lalu mempercepat langkahnya, melompati pagar dan menghilang di balik gang.
Andriy menghela napas. Ogon bukan kucing biasa. Ksenia menemukan Ogon beberapa bulan yang lalu, saat ia hampir ditabrak truk di tengah jalan. Tanpa pikir panjang, Ksenia menariknya ke pinggir, dan dalam prosesnya, Ogon secara tidak sengaja mengaktifkan sihir teleportasi. Ksenia menyadari ada yang tidak beres, apalagi setelah Ogon secara rutin mulai mencuri kaleng sarden dan mentransportasikannya ke tempat-tempat aneh di seluruh Chelyabinsk.
Keberadaan Ogon adalah rahasia lain yang harus dijaga Andriy. Seorang elf di dunia modern sudah cukup merepotkan, apalagi jika ada kucing ajaib yang gemar mencuri makanan. Andriy merasa seperti pahlawan komik yang terjebak dalam komedi situasi.
"Ogon! Sini kau!" Andriy berlari ke gang, lalu mengumpat saat terpeleset. "Arrrgh!"
Andriy jatuh terduduk di tumpukan salju. Ksenia, yang kebetulan sedang melewati gang itu sambil merekam vlog kuliner, melihatnya dan tertawa terbahak-bahak.
"Andriy! Apa yang kau lakukan di sana? Bersembunyi dari para penagih utang?" tanya Ksenia sambil terus merekam.
"Bukan! Kucing sialanmu itu mencuri kaleng sardenku!" balas Andriy, mencoba berdiri dengan anggun, namun berakhir dengan celana yang basah kuyup.
"Hahaha, itu Ogon," kata Ksenia, lalu menghentikan rekamannya dan menghampiri Andriy. "Kau sudah tahu 'kan kalau Ogon suka mencuri sarden? Kenapa kau tidak menyembunyikannya?"
Andriy menatap Ksenia, wajahnya memerah. "Aku menyembunyikannya di dalam kantung belanjaan! Dia entah bagaimana bisa teleportasi ke sana!"
"Oh, ya ampun," kata Ksenia, menyembunyikan senyumnya. Ia menunjuk ke ujung gang, tempat Ogon duduk tenang, menjilati kaleng ikan sarden yang kini sudah kosong.
"Ogon!" gerutu Andriy, membuat Ogon menoleh dan mengeong dengan suara yang sangat, sangat puas.
"Kau harus lebih waspada, Andriy. Sihirmu bukan satu-satunya hal yang ajaib di Chelyabinsk," kata Ksenia, sambil menyerahkan sebuah tisu pada Andriy untuk mengeringkan celananya.
Andriy menerima tisu itu dengan wajah cemberut. "Ini semua salahmu. Kenapa kau tidak memelihara kucing normal saja?"
"Karena Ogon adalah takdir!" jawab Ksenia, dengan nada dramatis. "Selain itu, dia membuat hidupmu lebih berwarna, bukan? Tidak melulu tentang teh chamomile dan kesedihan."
Kata-kata Ksenia menusuk ke dalam hati Andriy. Gadis itu memang cerdas, ia bisa membaca hati Andriy dengan baik. Bagi Ksenia, Ogon adalah sebuah keajaiban yang menyenangkan. Bagi Andriy, Ogon adalah pengingat bahwa keajaiban tidak selalu datang dengan cara yang indah. Kadang-kadang, ia datang dengan cakar yang tajam dan selera makan yang aneh.
"Aku akan kembali ke kafe," kata Andriy, menepuk-nepuk celananya yang masih lembap. "Aku harus membersihkan salju ini."
"Aku ikut!" seru Ksenia. "Aku butuh ide untuk video selanjutnya, dan wajah cemberutmu terlihat sangat menarik!"
Andriy hanya menghela napas, mengikuti Ksenia yang berjalan di depannya, mengobrol riang tentang vlog dan ide-ide kuliner. Ia melihat Ksenia, dengan rambut merah terangnya, jaket berwarna cerah, dan energi yang meluap-luap. Ia melihat Kolya, pria tua yang bijaksana dan penuh cinta. Ia melihat Ogon, kucing ajaib yang gemar mencuri ikan sarden.
Mereka semua adalah bagian dari kehidupan barunya di Chelyabinsk, kehidupan yang ia jalin setelah kehilangan semua yang ia cintai di masa lalu. Ia telah melihat ribuan manusia datang dan pergi, dan setiap perpisahan meninggalkan luka yang tak pernah sembuh. Namun, bersama mereka, ia menemukan sedikit kegembiraan yang sempat ia lupakan.
Andriy berpikir, mungkin itulah mengapa ia ada di sini. Mungkin ia ditakdirkan untuk melihat manusia tumbuh, jatuh cinta, dan meninggalkan kenangan. Mungkin takdirnya adalah untuk menjadi saksi, untuk menjadi pelindung bagi kisah-kisah kecil yang, bagi manusia, terasa begitu besar.
Di tengah-tengah jalanan bersalju yang dingin, Andriy tersenyum tipis. Ia mengerti bahwa hidup, bahkan bagi seorang elf abadi, adalah tentang menemukan keajaiban di dalam hal-hal kecil.
Dan mungkin, hanya mungkin, menemukan kembali kaleng sardennya yang hilang.
