Eva mendapati dirinya terperangkap dalam percakapan ringan dengan Alex Carter. Pemuda itu memiliki energi yang menular, seperti percikan api di tengah tumpukan kayu basah. Ia berbicara dengan antusias tentang seninya, tentang bagaimana ia terinspirasi oleh lanskap Alaska yang tak ada habisnya, dan tentang kesulitan mencari pekerjaan yang layak di kota kecil ini. Eva mendengarkan, dengan mata yang mencatat setiap detail kecil: tawa Alex yang lepas, caranya menyisir rambutnya yang berantakan, dan binar di matanya saat ia berbicara tentang lukisannya.
"Jadi," kata Alex, memegang kanvas di lengannya, "aku melukis ini dari perspektif yang berbeda. Aku mencoba menangkap bukan hanya keindahan gunungnya, tapi juga perasaan yang ditimbulkannya. Perasaan kerdil. Seperti kita adalah titik kecil di tengah keagungan yang besar."
Eva tersenyum. "Sebuah perasaan yang sangat familiar bagiku," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Ia tahu betapa kecilnya keberadaan seorang individu di mata waktu yang tak terbatas.
"Apa kau bilang?" Alex bertanya, tidak begitu jelas mendengar.
"Bukan apa-apa," jawab Eva cepat, mengalihkan topik. "Apakah kau punya tempat untuk memajang karya-karyamu? Aku punya kedai kopi di seberang sana. Mungkin kita bisa memajang beberapa karyamu di sana?"
Wajah Alex berbinar. "Kedai kopi? Itu akan sangat keren!"
Demikianlah, Eva secara tidak langsung telah mengikatkan diri dalam sebuah hubungan baru. Sebuah hubungan yang akan membuahkan kenangan, yang suatu hari nanti, akan berubah menjadi goresan-goresan sedih di hatinya. Tapi untuk saat ini, ia mengabaikan suara kecil yang berbisik itu. Ia hanya ingin menikmati momen, merasakan kehangatan persahabatan yang telah lama hilang.
Keesokan harinya, Alex membawa beberapa lukisannya ke kedai kopi Eva. Kedai itu bernama "Temaram Senja", sebuah nama yang ironis mengingat suasana di dalamnya selalu hangat dan penuh cahaya dari lampu-lampu gantung yang remang. Alex mulai menggantungkan lukisannya di dinding, sementara Eva menyiapkan kopi spesial untuknya.
"Aku suka namamu," kata Alex, sambil menunjuk papan nama. "'Temaram Senja.' Ada kesan melankolis, tapi juga indah."
"Seperti kehidupan, kurasa," jawab Eva, memberikan secangkir kopi hangat pada Alex.
Alex tertawa. "Wow, itu jawaban yang dalam. Aku hanya menganggapnya keren saja."
Alex adalah sosok yang polos dan lugu, berbeda dari orang-orang yang pernah Eva kenal di masa lalu. Dulu, ia bertemu dengan penyair dan seniman yang penuh drama dan filosofis. Alex hanyalah seorang pemuda yang bersemangat dengan kuas dan cat. Itu menyegarkan, dan juga sedikit mengganggu. Mengganggu karena Alex tidak berusaha membedah jiwa Eva, melainkan hanya menerima Eva apa adanya.
Kehidupan Eva di kedai kopi dipenuhi dengan interaksi yang ringan dan lucu dengan Alex. Suatu hari, Alex mencoba membantu Eva membuat latte art. Hasilnya adalah segumpal busa yang tidak berbentuk, yang membuat mereka berdua tertawa terbahak-bahak.
"Sepertinya bakatmu ada di kanvas, bukan di cangkir, Alex," kata Eva, sambil membersihkan kekacauan.
"Ah, kau tidak bisa menyalahkan seorang seniman yang mencoba hal baru!" bela Alex, dengan wajah dibuat-buat.
Namun, di tengah semua momen ringan itu, ada satu momen yang membuat Eva terdiam. Saat Alex sedang menggantungkan lukisannya yang terbaru, ia tanpa sengaja menjatuhkan bingkai foto yang terpajang di dekatnya. Itu adalah foto Eleanor dan Harold. Bingkai itu tidak pecah, tapi Alex melihat foto itu dengan saksama.
"Siapa mereka?" tanya Alex, mengangkat foto itu.
"Teman lamaku," jawab Eva, suaranya sedikit serak.
"Mereka terlihat sangat bahagia," komentar Alex. "Apakah mereka masih hidup?"
Eva menggelengkan kepalanya. "Tidak. Mereka... sudah pergi."
Alex merasakan perubahan nada suara Eva. Ia melihat kesedihan yang mendalam di mata Eva yang tidak sesuai dengan usianya. Ia tidak bertanya lebih jauh, hanya mengembalikan foto itu dengan hati-hati ke tempatnya. Namun, dari tatapan itu, Eva tahu. Alex telah melihat sekilas sebagian dari dirinya yang rapuh. Bagian yang selalu ia sembunyikan.
Malam itu, di pondoknya, Eva merenung. Perkenalannya dengan Alex adalah sebuah pintu yang ia buka dengan sengaja, sebuah kesempatan untuk merajut persahabatan baru, untuk mengisi kekosongan. Namun, setiap kali ia membuka pintu itu, ia tahu, di ujung lorong, akan ada pintu lain yang akan tertutup selamanya. Pertemuannya dengan Alex membuatnya sadar, bahwa ia harus terus berjalan, terus melihat musim dingin berganti, terus menyembunyikan rahasia keabadiannya, dan terus menghadapi perpisahan yang tak terhindarkan.
Ia menyentuh bingkai foto Eleanor. "Kau tahu, teman," bisiknya, "sepertinya aku akan memiliki satu lagi cerita untuk diceritakan."
