Kemenangan atas Sombra meninggalkan euforia yang terasa singkat. Meskipun para siswa bersorak dan merayakan, Lev tetap merasa ada kekosongan. Dia berhasil, ya. Dia menggunakan kekuatannya dengan cara yang tidak pernah ia duga. Tetapi pertanyaan tentang pria berjubah dan janji kekuatan es masih menggantung di benaknya, meninggalkan sebuah kegelisahan yang sulit dihilangkan.
Setelah pertempuran, para instruktur memberikan pujian, terutama kepada Lev. Kael menepuk bahunya, "Aku tahu kamu bisa, Nak. Kamu hanya butuh waktu untuk percaya pada dirimu sendiri." Pujian itu terasa hangat, tetapi tidak bisa menghapus bayangan pria berjubah yang menawarkan jalan pintas. Lev tahu, jalan yang ia pilih adalah jalan yang benar, tapi godaan itu terasa begitu nyata.
Vania dan Anatasya menghampirinya, wajah mereka berseri-seri. "Lev, itu luar biasa!" seru Vania. "Aku tidak pernah tahu kalau elemen bumi bisa sekuat itu!"
"Itu bukan hanya kekuatan, itu juga ketenangan," tambah Anatasya, mengamati Lev dengan tatapan penuh penghargaan. "Kau tetap tenang, meskipun Sombra menyerang. Kau adalah fondasi yang kita butuhkan."
Mendengar kata-kata itu, Lev merasa hangat, tetapi juga terasa pedih. Ia hampir saja mengkhianati teman-temannya. Ia hampir saja menukar kekuatannya yang sebenarnya dengan janji palsu dari kegelapan. Ia menyadari bahwa pencarian kekuatan esnya bukan hanya tentang ingin menjadi lebih kuat, tetapi juga tentang pengakuan dan penerimaan.
Malam itu, di kamar asramanya, Lev duduk di tepi ranjang. Ia mengambil sebuah buku dari tasnya dan membukanya. Buku itu tentang sejarah Arcanum dan elemen. Ia mencari-cari informasi tentang Sombra dan kekuatan es. Ia ingin tahu apakah ada hubungan di antara keduanya.
Ia menemukan sebuah bab tentang mitos dan legenda. Ada sebuah kisah kuno tentang seorang pewaris elemen yang dikhianati oleh kegelapan. Pewaris itu, yang juga merasa tidak puas dengan elemennya, tergoda oleh janji kekuatan yang tak terduga. Ia akhirnya mendapatkan kekuatan es, tetapi dengan harga yang sangat mahal. Ia menjadi budak kegelapan, dan kekuatannya digunakan untuk menghancurkan, bukan untuk menciptakan.
Lev membaca kisah itu dengan hati yang berdebar kencang. Ia merasa ngeri, tetapi juga penasaran. Ia merasa bahwa kisah itu memiliki kaitan dengan dirinya. Ia menyadari bahwa pria berjubah itu mungkin adalah utusan dari Sombra, yang mencoba memanipulasinya.
Ia kemudian menemukan sebuah catatan kuno tentang kekuatan es. Catatan itu menjelaskan bahwa kekuatan es bukanlah elemen yang alami. Ia adalah elemen yang diciptakan, hasil dari kegelapan dan keputusasaan. Kekuatan itu bisa menghancurkan, tetapi tidak bisa menciptakan.
Lev menutup buku itu. Ia menyadari bahwa ia telah salah. Kekuatan es bukanlah kekuatan yang ia butuhkan. Kekuatan yang ia butuhkan sudah ada di dalam dirinya. Ia hanya perlu menerimanya.
Keesokan harinya, Lev kembali ke lapangan latihan. Ia tidak lagi mencari buku-buku tentang elemen es, melainkan ia mencari Kael. Ia ingin belajar lebih banyak tentang elemen buminya. Ia ingin menjadi fondasi yang kokoh, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk teman-temannya.
Bab ini diakhiri dengan Lev menemukan ketenangan di tengah pertanyaan-pertanyaan yang masih menghantuinya. Ia tahu bahwa ia harus menghadapi pria berjubah itu lagi, tetapi ia tidak lagi takut. Ia tahu bahwa ia tidak sendirian. Ia memiliki Vania dan Anatasya, dan ia memiliki kekuatannya sendiri.
