Kemenangan atas pasukan Suraji membawa gelombang semangat baru bagi pasukan Samudra. Mereka menyambutnya dengan sorak sorai, rasa bangga, dan keyakinan yang kian menguat. Namun, di tengah perayaan, Samudra menarik diri. Ia duduk di sebuah batu besar, memegang gulungan peta dari Ki Bayu, matanya menatap jauh ke seberang sungai, ke arah Daha. Kemenangan ini hanyalah awal, sebuah langkah kecil dalam perang yang jauh lebih besar.
Bagus dan Sangkuriang menghampirinya. Mereka melihat kekhawatiran di mata pemimpin muda mereka. "Pangeran, kita sudah menang," kata Bagus. "Mengapa kau terlihat begitu muram?"
"Kemenangan ini tidak cukup," jawab Samudra, menyapukan jari telunjuknya di atas peta. "Mereka akan mengirim lebih banyak pasukan. Tumenggung tidak akan menyerah. Kita membutuhkan lebih dari sekadar gerilyawan dan perompak."
Sangkuriang mengamati peta di tangan Samudra. "Peta ini sangat rinci. Ki Bayu pasti berisiko besar mengirimkannya. Kita harus memanfaatkan informasi ini."
Samudra mengangguk. "Aku tahu. Tapi kita tidak bisa menyerang istana hanya dengan pasukan yang kita miliki sekarang. Kita membutuhkan kekuatan yang setara dengan kekuatan istana."
Gendut, yang baru selesai diobati, berjalan mendekat. "Pangeran, kita akan terus bersamamu, apa pun yang terjadi."
"Aku tahu, Gendut," kata Samudra, menatap pengawal setianya. "Tapi kita tidak bisa mengorbankan nyawa semua orang di sini tanpa kepastian. Kita harus mencari bantuan dari luar."
Samudra menunjuk sebuah garis panjang di peta, sebuah garis yang melintasi lautan. "Aku akan pergi ke Jawa. Ke Kesultanan Demak. Aku tahu mereka adalah kekuatan yang besar, dan mereka memiliki motif untuk tidak menyukai Tumenggung, yang setia pada tradisi Majapahit."
Keputusan Samudra membuat semua orang terkejut. "Ke Jawa?" kata Sangkuriang. "Itu perjalanan yang berbahaya, Pangeran. Lautan penuh dengan badai dan perompak."
"Aku adalah keturunan Raja Sukarama," kata Samudra, suaranya mantap. "Aku akan melakukan apa pun untuk merebut kembali takhta. Dan aku yakin, Demak akan mendengarkan permintaanku."
Malam itu, Samudra mengumpulkan para pemimpin pasukannya. Ia menjelaskan rencananya untuk pergi ke Jawa dan meminta bantuan dari Kesultanan Demak. Ia memilih beberapa orang kepercayaan, termasuk Gendut, untuk menemaninya dalam perjalanan. Bagus dan Sangkuriang akan tetap di Banjar, memimpin pasukan, dan mengawasi pergerakan pasukan Tumenggung.
"Kami akan menunggu, Pangeran," kata Bagus. "Kami akan memastikan tanah ini tetap aman dari pasukan Tumenggung."
"Kami akan terus menyerang mereka di sungai," tambah Sangkuriang. "Hingga kau kembali dengan bantuan."
Keesokan harinya, di bawah langit senja yang memerah, Samudra mengucapkan perpisahan. Ia naik ke atas sebuah perahu kecil yang telah disiapkan oleh Sangkuriang, ditemani oleh Gendut dan beberapa prajurit yang dipilih. Mereka meninggalkan hutan, meninggalkan pasukan, dan meninggalkan tanah Banjar, menuju lautan yang luas dan tak dikenal.
Perjalanan mereka penuh dengan tantangan. Mereka menghadapi badai yang mengerikan, ombak yang ganas, dan gelombang yang hampir menenggelamkan perahu mereka. Mereka juga harus menghindari perompak yang berkeliaran di laut. Samudra menunjukkan ketenangan yang luar biasa dalam menghadapi setiap kesulitan. Ia telah belajar dari pengalaman, dan ia tahu, ia harus kuat.
Setelah berhari-hari di laut, mereka akhirnya melihat daratan. Jawa. Jantung Samudra berdebar kencang. Ia tahu, di tanah ini, nasibnya akan ditentukan. Di sinilah ia akan menemukan harapan, atau kehancuran.
Mereka tiba di sebuah pelabuhan kecil di Jawa. Samudra dan rombongannya berjalan ke arah ibu kota Demak, sebuah kota yang ramai dan megah. Mereka mencari tahu di mana istana Demak berada, dan kemudian, dengan hati-hati, mereka menuju ke sana.
Di istana Demak, mereka disambut dengan curiga. Mereka adalah orang asing dari seberang laut, dan mereka membawa berita tentang perang di Banjar. Samudra berhasil mendapatkan audiensi dengan Sultan Trenggono, penguasa Demak yang bijaksana.
Di hadapan Sultan Trenggono, Samudra menceritakan kisahnya: pengkhianatan pamannya, perjuangan rakyat, dan tekadnya untuk merebut kembali takhtanya. Ia juga menjelaskan mengapa ia mencari bantuan dari Demak. "Banjar adalah kerajaan yang kaya," kata Samudra. "Jika jatuh ke tangan yang salah, maka kekayaan itu bisa menjadi ancaman bagi kerajaan-kerajaan lain, termasuk Demak."
Sultan Trenggono mendengarkan dengan seksama. Ia melihat ketulusan di mata pemuda itu, dan ia melihat potensi dalam aliansi ini. Namun, ia tidak akan memberikan bantuan tanpa syarat. "Jika kami membantumu, Pangeran Samudra," katanya, "maka kau harus memeluk Islam. Kau harus menjadikan Islam sebagai agama resmi di Banjar."
Syarat itu mengejutkan Samudra, tetapi ia tahu ini adalah satu-satunya kesempatan. Ia memikirkan semua yang telah ia lalui, semua pengorbanan yang telah ia buat. Ia memikirkan rakyat Banjar yang menderita. Ia mengangguk. "Hamba setuju," katanya, suaranya mantap. "Hamba akan memeluk Islam, dan hamba akan memastikan Islam menjadi agama resmi di Banjar."
Kesepakatan tercapai. Bab ini diakhiri dengan tekad Samudra yang menguat, dan janji suci yang ia buat di hadapan Sultan Trenggono. Perjalanannya ke Jawa telah memberikan hasil yang tak terduga, dan kini, ia tidak lagi berjuang sendirian. Bab ini adalah titik balik, yang akan membawa perubahan besar bagi Samudra, bagi Banjar, dan bagi sejarah.
