Lobi hotel di Dubai pada malam hari adalah sebuah tontonan tersendiri. Lampu kristal raksasa berkilauan, lantai marmer mengkilap seolah baru saja dipoles, dan orang-orang dengan berbagai bahasa serta budaya berbaur menjadi satu. Di tengah kemewahan itu, Lev Ryley merasa seperti seekor ikan sepat yang tersesat di tengah lautan paus biru. Ia canggung, tapi penasaran.
Saat Khadijah mengenalkannya pada kedua temannya, Lev menyalami mereka satu per satu.
“Fatimah,” ucap perempuan berkerudung sederhana itu dengan nada datar, namun matanya memancarkan kecerdasan yang tajam. Ia mengangguk singkat, seolah menilai Lev dalam sekali pandang. Lev langsung tahu, Fatimah bukan tipe orang yang banyak basa-basi.
Kemudian, Aisyah. Perempuan dengan mata yang berbinar dan senyum yang tak pernah luntur itu menjabat tangan Lev dengan antusiasme yang meledak-ledak. “Hai, aku Aisyah! Vlogger!” Ia langsung mendekatkan kamera ponselnya ke wajah Lev. “Senang bertemu denganmu, Lev! Subscribers saya pasti suka ini.”
Lev tersenyum canggung. “Halo, Aisyah. Saya Lev. Dari Banjarmasin.”
“Banjarmasin? Di mana itu?” tanya Aisyah polos, dan Lev terpaksa menjelaskan letak kampung halamannya dengan penuh kesabaran. Khadijah tertawa kecil melihat interaksi mereka.
“Aisyah ini memang begitu, Lev. Jangan terlalu dipikirkan,” kata Khadijah, menenangkan. “Dia selalu mencari konten untuk channel-nya.”
“Jadi, kalian semua... eh, kenalan di sini?” tanya Lev, penasaran.
“Sebenarnya, kami kenal di internet,” jelas Khadijah. “Kami bertukar pikiran di sebuah forum arsitektur Islam. Aku sedang menyelesaikan PhD-ku di sini, Fatimah sedang riset untuk buku terbarunya, dan Aisyah... ya, seperti yang kamu lihat, dia sedang membuat vlog dokumenter.”
“Wait, kamu juga arsitek?” tanya Fatimah, tatapannya kini lebih tertarik.
“Iya, saya lulusan arsitektur,” jawab Lev, merasa sedikit gugup.
Fatimah memicingkan mata, bibirnya menyunggingkan senyum tipis. “Menarik. Banyak orang bilang arsitektur Islam itu cuma bangunan tua. Mari kita buktikan sebaliknya.”
Aisyah berseru, “Kalau begitu, kita harus membuat konten tentang arsitektur Islam bersama! Ini akan sangat keren!”
Lev tersenyum. Ia merasa menemukan teman seperjalanan yang memiliki minat serupa, meskipun mereka datang dari latar belakang yang sangat berbeda. Mereka memutuskan untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk mengobrol. Malam itu, di sebuah sudut kafe hotel yang mewah, mereka berempat duduk di meja bundar, diselimuti aroma kopi dan rempah-rempah.
Khadijah, dengan kebijaksanaannya, menjadi penengah yang baik. Ia menanyakan tentang Banjarmasin, tentang kehidupan Lev di sana. Lev menceritakan dengan gaya yang khas, penuh dengan analogi lucu tentang pasar terapung, rumah panggung, dan bagaimana ia bisa suka dengan arsitektur Islam. Ia bercerita tentang kebiasaannya mengamati motif ukiran di masjid-masjid tua di Kalimantan.
Fatimah, yang kritis dan blak-blakan, seringkali menyela dengan pertanyaan-pertanyaan yang cerdas, memaksa Lev berpikir lebih dalam. “Apakah arsitektur Islam itu bisa terpisah dari politik, Lev? Bukankah itu selalu tentang kekuasaan dan dominasi?”
“Wah, itu pertanyaan berat, Fatimah,” jawab Lev, menggaruk kepalanya. “Kalau kata dosen saya, arsitektur itu memang merefleksikan zamannya. Tapi, inti dari arsitektur Islam itu kan filosofi, bukan cuma politik. Tentang hubungan manusia dengan alam dan Tuhannya.”
Fatimah mengangguk, tampak puas dengan jawaban Lev, walau tidak sepenuhnya setuju.
Aisyah, di sisi lain, sibuk merekam setiap momen. “Oke, guys! Sekarang kita akan membahas tentang filsafat arsitektur Islam! Gimana menurut kalian? Gimana kalau kita sebut saja ‘empat paspor, satu meja, satu tujuan’?”
“Jangan aneh-aneh, Aisyah,” tegur Fatimah, tapi wajahnya tidak menunjukkan ketidaksukaan, justru ada sedikit senyum yang terselip.
“Aku suka ide itu!” timpal Lev, membuat Aisyah bersorak gembira.
Percakapan mereka mengalir, dari yang serius tentang arsitektur hingga yang ringan dan konyol tentang perbedaan budaya. Lev menceritakan kebingungannya saat memesan makanan, membuat yang lain tertawa. Khadijah bercerita tentang tantangan kuliah di luar negeri. Fatimah mengkritik sistem birokrasi di negerinya dengan humor yang sarkastik. Aisyah menunjukkan video-video kocaknya di media sosial, dan membuat semua orang terpingkal-pingkal.
Malam semakin larut, tapi mereka tidak merasa bosan. Lev merasa seperti sudah mengenal mereka sejak lama. Persahabatan ini terasa organik, muncul begitu saja di antara perbedaan yang ada. Sebuah persahabatan yang tidak mengenal batas negara, bahasa, atau budaya. Malam itu, di Dubai, di bawah langit yang bertabur bintang buatan dan gemerlap lampu kota, empat orang dari empat penjuru berbeda menemukan satu sama lain. Mereka belum tahu, bahwa perjalanan ini akan mengubah hidup mereka, selamanya.
