September 21, 2019
Badai salju sepanjang malam dan jalan-jalan perkotaan sudah berubah menjadi tanah bersalju. Sebagian teman-temanku di kelas mengeluhkan tentang kaki yang basah dan jari-jari yang kedinginan selama perjalanan pagi yang panjang menuju kelas dan ternyata kelas akan diliburkan untuk beberapa hari karena badai salju yang belum mereda. Saat kembali pulang aku begitu kecewa, memikirkan daripada aku sendiri kembali ke apartemen dan memikirkan kenangan lama ketika aku kesepian aku lebih baik mengajak Nayya untuk berjalan-jalan sebentar lagipula salju ini bukan halangan.
Reddish Vale Country Park, Reddish Vale ini berada di Tame Valley dekat dengan Reddish, Greater Manchester, Inggris. Tempat yang indah untuk datang untuk menikmati berjalan dan memberi makan bebek. Parkir gratis dan sebuah pusat pengunjung yang bagus dengan staf yang ramah. jadi menyegarkan untuk mengunjungi tempat ini tidak buruk harga disini pas dengan kantong tidak terlalu mahal dan ini menumbuhkan sedikit ingatan tentang pedesaan, angin-angin berputar-putar diatas gumpalan salju masih ada disana-sini. Sangat mudah untuk membayangkan tempat ini dimasa lalu, berkilo-kilo meter jauhnya dari manapun satu-satunya suara berasal dari kicauan burung-burung yang berkicau merdu
Aku dan Nayya berjalan di bawah pohon karena disana tidak banyak terkena salju membuat aku nyaman berada disini untuk menceritakan semua keluh kesahku kepada Nayya, aku merasa tenang ketika berada di tempat seperti ini begitu menentramkan hati.
Lalu Nayya mulai berbicara kepadaku "Jadi bagaimana dengan kau sekarang Anin? Apakah hari-harimu lebih baik setelah kau jauh dari kota tempat tinggalmu yang menghantuimu dan bahkan membuatmu sehancur sejak aku melihat kau tiba beberapa minggu yang lalu,"
" Aku belum tahu sebaik apa aku sekarang yang jelas apa yang menghancurkanku? ini pertanyaan yang menggorogoti selama setelah aku berada di kota Manchester ini. Apa yang akan menghancurkanku hingga berkeping-keping hingga aku tak bisa lagi bangkit, tak lagi berguna. Aku terlalu lemah dan kegundahan hatiku ini terus menggorogoti hatiku dan merayap kedalam mimpi-mimpi burukku, aku pikir aku akan baik-baik saja dengan menikmati alam ciptaan Tuhan yang indah namun nyatanya hanya sebentar kapan aku sendirian lagi kenangan lama itu muncul dan menghancurkanku kembali, " ucapku.
" Ternyata aku salah menilaimu, kau memang mencintainya dengan tulus. Aku tidak tahu dengan cara apa kau mencintainya dan belum bisa merelakannya pergi, mungkin kau sendiri tidak tahu. Tapi siapapun yang memperhatikanmu bisa melihat betapa kau sangat menyayanginya sehingga kau masih bersedih sampai sekarang. " Nayya mengatakan dengan wajah serius.
Aku dan Nayya duduk lama dalam keheningan merenungi apa yang di ucapkan Nayya berusan memperhatikan ikatan terbentuk dan menghilang, sebelum Nayya kembali bertanya,
" Bagaimana kalo sekarang kau mencoba untuk sedikit demi sedikit untuk merelakannya? "
Aku memandang wajah Nayya dengan Sedih,
" Aku tak bisa, Nayya. Jelas, aku tidak bisa. Aku menyeret diriku keluar dari mimpi buruk setiap pagi dan ternyata pada saat bangun aku tidak bisa menemukannya dan aku sadar akan kenyataan bahwa dia tidak ada lagi didunia ini. Aku belum bisa merelakannya untuk sekarang dan itu membuat aku semakin kesepian dalam tangisan tanpa suara.
" Ada sesuatu di ekspresi wajah Nayya yang menghentikan dan memelukku," lebih baik kau tidak menyerah, butuh kekuatan sepuluh kali lipat untuk bisa menguatkan diri dibandingkan untuk gagal." Yah Nayya pasti tahu benar. Aku mengambil nafas dalam-dalam, memaksa diriku kembali utuh " semakin kau bisa mengalihkan perhatianmu semakin baik," katanya. " Besok pagi-pagi sekali ketika badai salju di malam hari datang mereda kita cari sesuatu kesenangan lainnya sebelum libur dua hari ini usai."
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu kami merasa baru sebentar berada disini,sekarang matahari kini sudah terlihat mau terbenam dari atas langit dan itu waktunya untuk segera pulang sebelum badai salju datang ketika malam tiba. Aku bergegas merapikan keadaanku serta wajahku yang nampak berantakan akibat airmata yang terus mengalir ke pipiku dengan sendirinya. Aku mencoba mencari air di dekat kran air sana untuk membasuh muka yang begitu berantakan dan setelah nya kami bergegas pulang kembali ke apartment.
Sesampai di depan pintu aku dan Nayya berpamitan pulang ke apartment masing-masing, aku mencoba berbaring sebentar sebelum membasuh tubuhku dengan air yang begitu dingin pada malam hari kemudian aku kembali ke tempat tidur mencoba apa aku bisa tidur untuk sekarang tapi nyatanya tidurku tidaklah tenang. Aku merasa keluar dari dunia yang gelap dengan tempat-tempat berhantu yang kulalui seorang diri membayangkan
Hari ini aku telah kehilangannya, aku akhirnya tahu dunia tanpamu disini aku merasakan kesepian, hanyalah kehampaan yang berada dalam. Dan akhirnya hatiku sekarang. mengingat kembali tangan-tanganmu yang tak bergerak, matamu yang tak berkedip. Aku berdiri disamping jasad mu, melihatnya untuk terakhir kali meninggalkan ruang tempatnya berbaring tapi ketika aku membuka pintu untuk melangkah menuju dunia yang baru tanpamu, hanya ada kekosongan yang mahaluas. Di masa depanku hanya ada ketiadaan yang berwarna pucat kosong dan membeku tanpa ada harapan apapun sekarang.
Sekarang setelah kau pergi, baru bisa aku sepenuhnya menghargaimu betapa aku sangat mencintaimu, mengapa aku tidak banyak menghabiskan waktu bersamamu ketika kau masih hidup. kebaikanmu, keteguhanmu, kehangatan yang mengandung panas tak terduga di baliknya selain ibuku, dan ayah. berapa banyak orang didunia ini yang mencintaiku tanpa syarat? kupikirkan tentang diriku, jawabannya mungkin tidak ada orang yang mencintaiku seperti itu.
Kadang-kadang ketika aku sendirian kuambil kalung dolphin yang pernah kau berikan untukku berusaha mengingat anak Lelaki dengan kesetiaannya, bahu yang kuat menggendongku ketika aku lelah berjalan, ciuman-ciuman yang menghangatkan, membuatku mengingat segala hal yang hilang dalam genggamanku. Tapi apa gunanya, semuanya musnah, dia sudah pergi. apapun yang ada diantara kami sudah musnah yang tersisa adalah janji-janjimu untuk menggantikanmu dengan yang lain. Kuucapkan kalimat ini dalam hati sepuluh kalo dalam sehari, namun aku masih belum bisa ini butuh waktu untuk semua dan proses yang panjang.
Semoga di hari-hari kedepan akan menjadi lebih baik lagi dan perlahan-lahan aku bisa merelakan apa yang telah pergi dan membiasakan hidup tanpa seseorang yang pernah mengajarkan aku semangat menjalani hidup dan tentang arti setia, lagipula hidup ini terlalu singkat untuk mengenang masa lalu, memang mudah untuk mengatakannya tapi menjalaninya ini semua tidak gampang. Harapan apapun yang datang semoga akan berakhir indah dari Tuhan sehingga kau yang telah berada di surga sana bisa tersenyum lega ketika melihatku telah bahagia disini. Aku membiarkanmu pergi dan terbang kemanapun bahkan ke tempat yang tak dapat aku jangkau sekarang.
#akan dilanjutkan setelah Anindya bertemu dengan Levℛyley
