Vania Larasati: Mahasiswa PGSD ULM dan Sang Pelukis Senja di Banjarmasin
Berbeda dengan Lev yang introvert, dunia Vania Larasati selalu dipenuhi warna. Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) di ULM ini memiliki semangat yang menular. Ia sering menghabiskan waktu di sebuah taman kota di Banjarmasin, dikelilingi anak-anak kecil yang selalu riang. Di sana, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi mereka untuk berani bermimpi.
"Kak Vania, lihat! Lukisan perahuku!" teriak seorang anak kecil dengan antusias, memperlihatkan gambarnya yang masih kotor.
Vania tersenyum. "Wah, bagus sekali! Tapi jangan takut pakai warna-warni, ya. Dunia ini terlalu indah kalau cuma digambar pakai pensil.
Anak-anak itu tertawa. Bagi mereka, Vania bukan hanya kakak-kakak manis yang mengajari mereka cara menggambar. Vania adalah sumber inspirasi. Vania Larasati, si calon guru, dengan jiwa seninya yang mengalir, selalu berhasil membuat orang di sekitarnya merasa bahagia.
Pertemuan tak terduganya dengan Lev Ryley di Pantai Takisung beberapa hari lalu masih terbayang-bayang di benaknya. Sosok pria pendiam itu begitu kontras dengan dirinya, namun terasa begitu menarik. Vania masih ingat betul tatapan Lev saat ia berhasil menyelamatkan kanvasnya dari ombak. Ada ketulusan di mata itu, sama seperti di setiap halaman novel romantis yang ia baca.
"Ada apa, Vania? Senyum-senyum sendiri," goda Rina, teman kuliahnya.
Vania tersipu. "Tidak ada apa-apa."
"Pasti ingat cowok yang ketemu di Takisung, kan? Ceritakan padaku!"
Vania menceritakan pertemuannya dengan Lev secara singkat. Tentang seorang mahasiswa pustakawan ULM yang pendiam, yang tertarik dengan lukisannya. Tentang obrolan mereka di bawah senja yang indah, yang terasa seperti skenario kisah cinta di sebuah film.
"Tuh kan! Aku sudah bilang. Ini pertanda baik!" Rina menyenggol lengannya. "Apa dia tahu kamu tinggal di Banjarmasin juga?"
Vania mengangguk. "Ya. Kami berencana bertemu lagi di sini. Tapi belum tahu kapan."
Pikirannya melayang ke hari itu. Vania mengambil pensil dan mulai menggambar sketsa sederhana di buku kecilnya. Ia menggambar sebuah perpustakaan dengan rak-rak buku yang tinggi, di mana di salah satu sisinya terdapat sosok seorang pria sedang membaca. Sementara di sisi lain, ia menggambar sebuah pantai dengan seorang gadis sedang melukis. Dua dunia yang berbeda, namun entah mengapa, terasa terhubung.
Vania tahu, pertemuannya dengan Lev bukan sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang lebih besar dari itu. Seperti halnya setiap cerita memiliki awal, kisah cinta mereka baru saja dimulai. Dari Pantai Takisung, ke kota Banjarmasin yang penuh warna. Ia, Vania Larasati, sang pelukis impian anak-anak, telah menemukan subjek baru untuk lukisannya: Lev Ryley, si pustakawan pendiam.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Penasaran dengan kelanjutan kisah cinta Vania dan Lev, mahasiswa ULM dari jurusan yang berbeda?
Akankah mereka bertemu lagi di Banjarmasin? Ikuti terus novel romantis ini!
Dua dunia yang berbeda, satu kisah cinta yang tak terduga. #MahasiswaULM #PGSD #VaniaLarasati #Banjarmasin #KisahCinta #NovelRomantis
