Lev Ryley, seorang pemuda Banjarmasin yang cenderung santai dan kadang ceroboh, tiba-tiba mendapat tugas aneh dari kakeknya: mengunjungi dan mendokumentasikan semua kabupaten di wilayah Hulu Sungai. Misinya bukan sekadar jalan-jalan, tetapi juga mempelajari kehidupan masyarakat, budaya, dan nilai-nilai Islami yang ada di sana.
Bersama dengan sahabatnya yang setia, Rauf, perjalanan Lev berubah menjadi serangkaian kejadian lucu, petualangan tak terduga, dan momen menyentuh. Mereka bertemu dengan berbagai karakter unik, mulai dari pedagang pasar yang cerewet, ulama yang bijak, hingga anak-anak desa yang polos. Di setiap perhentian, Lev tidak hanya menemukan keindahan alam, tetapi juga belajar banyak hal tentang arti syukur, kesabaran, dan kebersamaan.
Judul Novel Bornean Adventures
Bab 1: Tugas dari Kakek
Lev Ryley, pemuda 25 tahun yang lebih sering berteman dengan bantal guling ketimbang dengan sinar matahari pagi, mendengus. Ponselnya berdering lagi, menampilkan nama "Kakek". Ini sudah kali kelima dalam lima belas menit. Ada apa gerangan? Tidak biasanya sang kakek se-agresif ini, kecuali kalau tagihan listrik sudah menunggak atau Lev lupa menaburkan pakan ikan di kolam.
"Assalamualaikum, Kek?" jawab Lev dengan suara serak khas bangun tidur.
"Waalaikumsalam, cucu durhaka! Kamu masih tidur? Matahari sudah sampai di atap rumah, kamu masih tidur? Apa kamu pikir ayam jago di rumah itu pengangguran, hah?" sembur suara Kakek dari seberang telepon. Logat Banjar beliau yang kental dan penuh semangat itu membuat Lev langsung menegakkan duduknya di ranjang.
"Tadi malam saya lembur, Kek. Mencari inspirasi," kilah Lev, mencoba terdengar serius. Padahal, 'lembur' yang ia maksud adalah maraton serial film The Witcher 1 sampai The Witcher 2 dan masih ada The Witcher 3 yang belum habis sampai jam tiga pagi.
"Inspirasi apa? Jadi fotografer yang hasilnya cuma untuk pajangan di media sosial? Cepat mandi, pakai baju yang rapi. Kakek tunggu di rumah. Ada hal penting," perintah Kakek tanpa basa-basi, lalu memutus sambungan.
Lev menghela napas. Tugas dari Kakek selalu datang tak terduga dan sering kali aneh. Terakhir, ia disuruh membuat kue bingka kentang, hasilnya gosong dan hampir membakar dapur. Namun, dibalik semua keanehan itu, Lev tahu Kakek selalu punya maksud baik.
Setelah mandi secepat kilat dan mengenakan kaus polo serta celana panjang, Lev melajukan motor matic-nya dari rumahnya di kawasan Jalan Gatot Subroto menuju rumah kakeknya di Sungai Jingah. Pagi di Banjarmasin terasa hangat, dengan semilir angin yang membawa aroma khas air sungai bercampur masakan pasar.
Rumah Kakek Lev adalah rumah panggung khas Banjar, dengan halaman luas yang dipenuhi tanaman dan kolam ikan lele. Kakek, dengan peci hitam dan sarung andalannya, sedang duduk di teras sambil menyesap teh hangat. Di depannya tergeletak sebuah peta Kalimantan yang sudah usang dan beberapa lembar kertas.
"Sudah datang? Duduk sini," ajak Kakek. Lev duduk di hadapan Kakek, sambil mencuri pandang ke arah peta. Ia melihat beberapa titik merah ditandai di daerah Hulu Sungai.
"Kamu tahu, Lev. Kakek ini sudah tua. Kakek mau kamu melakukan sesuatu yang berguna sebelum kakek tiada," kata Kakek dengan nada serius.
Lev langsung panik. "Kakek ngomong apa sih? Kakek masih sehat!"
"Huss! Dengarkan dulu. Kakek ingin kamu melakukan perjalanan. Mengunjungi semua kabupaten di daerah Hulu Sungai. Merekam, mendokumentasikan, dan menuliskan apa saja yang kamu temui di sana," jelas Kakek, menunjuk titik-titik merah di peta.
Lev melongo. "Hulu Sungai? Semua kabupaten? Dari Kandangan sampai Tabalong?"
"Iya. Kamu harus mempelajari kehidupan masyarakat di sana, budaya mereka, kearifan lokal, dan yang paling penting, bagaimana nilai-nilai Islam bersemayam kuat dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kamu harus membuat cerita, bukan sekadar laporan," Kakek mengutarakan harapannya.
Lev berpikir keras. Merekam, mendokumentasikan, dan menulis? Itu hobi Lev. Tapi, perjalanan ke Hulu Sungai? Itu adalah tugas yang tidak mudah. Ia membayangkan medan jalan yang tak mulus, cuaca yang tak menentu, dan potensi-potensi kejadian lucu nan absurd yang pasti akan menimpanya.
"Hadiahnya apa, Kek?" tanya Lev, matanya berbinar. Ia tahu, kakeknya pasti punya iming-iming.
Kakek tersenyum misterius. "Nanti kakek kasih tahu. Tapi ini bukan hanya tentang hadiah, Lev. Ini tentang pengalaman, tentang mendewasakan diri. Kamu itu terlalu santai, Nak. Kakek mau kamu melihat dunia di luar Banjarmasin."
Lev mengangguk pasrah. Ia tahu, jika kakeknya sudah mengeluarkan jurus 'mendewasakan diri', tidak ada lagi penolakan. Ia mengambil peta dan kertas-kertas yang disodorkan Kakek.
"Kamu berangkat minggu depan. Semua persiapan, kamu yang urus," Kakek memberikan perintah terakhirnya.
Lev berjalan keluar dari rumah Kakek dengan perasaan campur aduk. Ia menatap peta di tangannya, memikirkan petualangan apa yang akan menantinya di tanah Hulu Sungai. Perjalanan ini sepertinya tidak akan biasa. Ini bukan sekadar liburan, melainkan misi rahasia dari Kakek yang penuh misteri. Lev hanya bisa membayangkan, berapa banyak kisah lucu dan absurd yang akan ia dapatkan di sana. Yang pasti, ia tidak bisa melakukannya sendirian. Ia butuh bala bantuan, seorang sahabat yang setia untuk menemaninya dalam petualangan ini. Rauf, sahabat setianya, pasti akan menjadi "korban" selanjutnya. Lev tersenyum jahil, membayangkan wajah Rauf saat ia mengutarakan rencananya. Misi dimulai.
