Hari-hari pertama di kampus tidak jauh berbeda dari kesan pertama Lev: teratur, efisien, dan dingin, secara harfiah dan metaforis. Kecuali saat bersama Sindy, yang selalu berhasil membawa sedikit kekacauan menyenangkan ke dalam rutinitasnya. Lev mulai terbiasa dengan jadwal kuliah yang padat dan bahasa Inggris yang harus ia gunakan setiap hari. Namun, ada satu hal yang menjadi pusat perhatian: penampilannya.
Di sebuah siang yang cerah, saat salju baru saja turun, Lev berjalan menuju gedung fakultas dengan jaket musim dingin tebal dan syal. Jaket itu ia pinjam dari Sindy, yang selalu merasa kasihan melihat Lev kedinginan. Di balik jaket tebal itu, ia mengenakan baju koko andalannya. Ia nyaman dengan pakaian itu, merasa terhubung dengan rumah. Namun, banyak pasang mata yang menatapnya dengan rasa ingin tahu.
Di kantin, ia dan Sindy duduk di sebuah meja. Sindy, dengan rambutnya yang kini berwarna ungu menyala, menatap Lev.
"Lev, serius deh, baju koko itu keren banget. Tapi kenapa kamu pakai itu terus?" tanya Sindy. "Di sini orang-orang pakainya jaket, hoodie, atau baju rajut."
"Ini pakaian yang paling nyaman bagiku," jawab Lev santai, sambil menyuap sendok berisi sup hangat. "Lagipula, aku tidak punya baju lain sebanyak itu."
Sindy terbahak. "Terus kalau bajunya kotor semua, kamu gimana?"
"Aku cuci, lah," jawab Lev.
"Tidak, maksudku... apa kamu tidak punya kaus oblong atau kemeja yang biasa dipakai orang sini?"
"Ada. Tapi baju koko ini spesial. Ini dari almarhum ayahku," kata Lev, matanya menerawang. "Setiap aku pakai ini, aku merasa dekat dengan beliau. Jadi, kenapa tidak?"
Sindy terdiam sejenak. Ada gurat pengertian di matanya. "Oh... oke. Aku mengerti," katanya lembut. "Tapi, nanti kalau musim semi, kamu pakai itu juga?"
Lev mengangkat bahu, "Mungkin. Tergantung nanti."
Saat mereka sedang asyik berbincang, seorang mahasiswa lain yang duduk di meja sebelah dengan sengaja berdeham kencang. Ia menatap Lev dengan pandangan merendahkan. Lev mengabaikannya, tetapi Sindy tidak.
"Ada apa, Bro? Ada yang salah dengan supmu?" Sindy menyindir.
Mahasiswa itu memutar bola matanya. "Hanya aneh saja melihat ada yang pakai piyama ke kampus," katanya sinis.
Mendengar itu, Lev merasakan panas di dadanya. Namun, ia ingat pesan ayahnya. Menebar rahmat, jangan dendam.
"Ini bukan piyama," jawab Lev dengan tenang. "Ini baju koko. Kemeja tradisional dari Indonesia."
"Oh, jadi kamu orang Indonesia?" tanya mahasiswa itu, nada sinisnya masih kentara. "Pantas saja. Aku kira kamu... ah sudahlah."
Sindy sudah bersiap melontarkan balasan pedas, tetapi Lev dengan cepat menyentuh lengannya. "Tidak apa-apa, Sindy," bisiknya.
"Tapi dia kasar, Lev! Kamu tidak bisa biarkan dia begitu saja," protes Sindy.
Lev menggelengkan kepalanya. "Dia tidak tahu. Tidak semua orang tahu tentang budaya kita," katanya.
Mahasiswa itu pergi setelah melirik sinis sekali lagi. Sindy mendengus kesal.
"Kau terlalu baik, Lev," kata Sindy.
"Bukan masalah baik atau tidak, Sindy. Tapi masalah pilihan. Mau bereaksi dengan amarah, atau dengan kesabaran. Aku memilih yang kedua," jelas Lev. "Lagipula, dia tidak menyakitiku secara fisik. Hanya kata-kata."
Sindy merenung. Perdebatan kecil itu membuat pandangannya terhadap Lev semakin dalam. Di balik kebiasaannya yang kadang terlihat kaku dan aneh baginya, ada kekuatan dan ketenangan yang luar biasa.
Setelah makan siang, mereka berjalan menuju perpustakaan. Sindy mengenakan jaket musim dinginnya yang tebal, dengan jaket hoodie di dalamnya, dan celana jeans yang sobek di lutut. Lev berjalan di sisinya, dengan jaket musim dingin yang sama, namun dengan baju koko di dalamnya. Di mata orang lain, mungkin mereka terlihat seperti pasangan yang aneh, dua dunia yang berbeda. Tapi bagi mereka, itulah keindahan persahabatan mereka.
"Kamu tahu, Lev," kata Sindy, memecah keheningan. "Aku jadi berpikir, mungkin aku harus coba pakai baju koko juga suatu saat nanti. Biar aku bisa lihat reaksi orang-orang."
Lev tersenyum. "Kenapa tidak?"
"Tapi aku tidak punya," Sindy menggerutu.
"Nanti aku belikan," jawab Lev, yang membuat Sindy berjingkrak kegirangan.
Perbedaan mereka bukan lagi sebuah jurang, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan mereka. Lev, dengan baju kokonya yang membawa kehangatan dari Banjarmasin, dan Sindy, dengan jaket musim dinginnya yang penuh warna dari Amerika, siap untuk melanjutkan perjalanan mereka, satu sama lain.
