Pertemuan Kembali Lev dan Vania: Kisah Cinta Mahasiswa ULM di Banjarmasin.
Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Sejak kembali ke Banjarmasin, pikiranku dipenuhi oleh Vania Larasati. Suara tawanya, senyumnya yang hangat, dan matanya yang berbinar saat berbicara tentang melukis seakan tak pernah pergi. Buku-buku yang biasanya menjadi pelarianku, kini terasa hambar. Aku, Lev Ryley, mahasiswa pustakawan ULM, yang selalu nyaman di antara tumpukan buku, kini lebih tertarik pada satu orang.
Dua hari setelah pertemuan di Pantai Takisung, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Vania: Hai, ini Vania. Masih ingat aku? Yang hampir kehilangan kanvasnya di Takisung.
Senyum bodoh muncul di wajahku. Tentu saja aku ingat. Tanpa pikir panjang, aku segera membalas pesannya.
Lev: Tentu saja. Bagaimana kanvasmu? Apa lukisan senja di Takisung berhasil kamu selesaikan?
Kami mulai rutin berkomunikasi. Pesan demi pesan mengalir, dari yang sekadar basa-basi hingga percakapan yang lebih mendalam. Kami menemukan banyak kesamaan, dari selera musik hingga ketertarikan pada seni. Vania mengirimiku foto-foto lukisannya, dan aku mengiriminya foto-foto buku langka yang kutemukan di perpustakaan.
Hingga pada suatu sore, Vania mengajakku bertemu. "Aku ada di Siring Sungai Martapura, di dekat jembatan. Datang, ya?"
Jantungku berdebar kencang. Pertemuan di Pantai Takisung terasa magis karena suasana liburan. Tapi ini, di kota Banjarmasin, di tengah rutinitas sebagai mahasiswa, rasanya jauh lebih nyata dan mendebarkan.
Aku tiba di Siring. Lampu-lampu mulai menyala, memantulkan cahaya di permukaan air. Suara klakson dan keramaian kota berbaur dengan nyanyian kapal klotok yang melintas. Aku mencari-cari sosok Vania. Tak butuh waktu lama, aku menemukannya. Vania berdiri di dekat jembatan, menghadap sungai, mengenakan jaket berwarna pastel yang senada dengan kepribadiannya.
"Lev!" panggilnya, melambaikan tangan.
Aku menghampirinya. "Hai."
"Maaf kalau ganggu waktumu," kata Vania.
"Tidak sama sekali. Aku senang kamu ajak bertemu."
Kami berjalan beriringan menyusuri Siring, sambil menikmati pemandangan sore. Obrolan kami berlanjut. Vania menceritakan tentang studinya di PGSD ULM dan kecintaannya pada dunia anak-anak. Aku menceritakan tentang kerumitanku sebagai mahasiswa pustakawan yang mencoba memahami dunia di luar buku. Kami tertawa, berbagi cerita, seolah kami sudah saling mengenal sejak lama.
"Kurasa, aku tidak akan pernah lupa pertemuan kita di Takisung," ucap Vania, menatap mataku.
"Aku juga," jawabku, tulus. "Kamu seperti karakter dari novel romantis yang selama ini kucari."
Vania tersenyum malu. "Begitu juga denganmu. Pustakawan pendiam yang tiba-tiba muncul di pantai," candanya.
Sore itu, di Banjarmasin, di pinggir Sungai Martapura yang menjadi denyut nadi kota, Lev Ryley dan Vania Larasati mengukir babak baru dalam kisah cinta mereka. Kenangan Takisung menjadi jembatan yang menghubungkan mereka, dan kini, kota Seribu Sungai menjadi saksi bisu dari pertemuan kembali yang penuh makna ini.
Pesan untuk Pembaca (SEO):
Novel romantis ini makin seru! Lev Ryley dan Vania Larasati akhirnya bertemu kembali di Banjarmasin.
Apakah ini awal dari kisah cinta mahasiswa yang bahagia? Ikuti terus cerita novel ini!
Dua hati yang berbeda, terikat oleh takdir dan kenangan Takisung. #NovelRomantis #KisahCinta #MahasiswaULM #Banjarmasin #SadEnding #LevVania
