Di tengah kemakmuran dan kekaguman penduduk Mekkah, ada satu hati yang tak pernah tenang. Hati itu adalah milik Nabi Muhammad SAW. Meskipun ia hidup dalam kebahagiaan bersama Khadijah dan anak-anaknya, jauh di lubuk hatinya, ia merasa gundah dengan keadaan masyarakat di sekelilingnya. Ia melihat kebejatan moral, penyembahan berhala, dan ketidakadilan yang merajalela. Jiwanya merindukan sebuah kebenaran yang hakiki, sebuah cahaya yang dapat menuntun umatnya keluar dari kegelapan.
Kerinduan itu membawa Nabi Muhammad SAW ke sebuah tempat yang jauh dari hiruk pikuk kota, sebuah gua di puncak Jabal Nur (Gunung Cahaya), yang dikenal dengan nama Gua Hira. Letaknya yang terpencil dan medannya yang terjal membuat tempat itu ideal untuk berkhalwat, merenung, dan mendekatkan diri kepada Allah. Setiap tahun, selama bulan Ramadan, Nabi Muhammad SAW akan menyendiri di sana, membawa perbekalan secukupnya, dan menghabiskan hari-harinya dalam perenungan yang mendalam.
Di dalam Gua Hira, hanya ada keheningan, kegelapan, dan suara hatinya yang berbisik. Ia duduk merenung, menatap langit luas yang bertabur bintang di malam hari, dan merenungi makna kehidupan yang lebih dalam. Ia tidak mengikuti tradisi ibadah kaum Quraisy yang menyembah berhala. Hatinya yang suci hanya tertuju kepada Yang Maha Tunggal, Sang Pencipta alam semesta. Khadijah, dengan cinta dan pemahaman yang luar biasa, selalu mendukung kebiasaan suaminya ini. Ia tak pernah protes, bahkan dengan setia mengantar bekal dan menanti kepulangan sang kekasih hati.
Suatu malam di bulan Ramadan, saat Nabi Muhammad SAW sedang khusyuk dalam perenungan, sebuah peristiwa yang mengguncang jiwa terjadi. Tiba-tiba, sesosok makhluk yang luar biasa besar dan bersinar muncul di hadapannya. Itu adalah Malaikat Jibril. Jantung Nabi Muhammad SAW berdebar kencang. Ia belum pernah melihat makhluk semulia dan seagung itu sebelumnya. Ketakutan menyelimuti dirinya, namun ia tetap teguh.
Malaikat Jibril mendekat dan berkata dengan suara yang menggetarkan, "Bacalah!"
Nabi Muhammad SAW, yang tidak bisa membaca, menjawab dengan jujur, "Aku tidak bisa membaca."
Malaikat Jibril memeluknya dengan erat, sangat erat hingga Nabi Muhammad SAW merasa sesak. Kemudian, Malaikat Jibril melepaskannya dan mengulangi perintahnya, "Bacalah!"
Sekali lagi, Nabi Muhammad SAW menjawab, "Aku tidak bisa membaca."
Untuk ketiga kalinya, Malaikat Jibril memeluknya dengan lebih erat lagi, seolah ingin mentransfer seluruh pengetahuan ke dalam hatinya. Setelah melepaskannya, Malaikat Jibril kembali berkata, "Bacalah!"
Nabi Muhammad SAW kembali menjawab dengan jujur, "Aku tidak bisa membaca."
Lalu, Malaikat Jibril pun membacakan wahyu yang pertama, firman dari Tuhan semesta alam:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-Alaq: 1-5).
Kata-kata itu mengalir ke dalam hati Nabi Muhammad SAW, menembus setiap relung jiwanya. Perasaan takut, takjub, dan haru bercampur aduk. Saat Malaikat Jibril menghilang, Nabi Muhammad SAW ditinggalkan dalam keadaan gemetar. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Ia merasa ada beban yang luar biasa berat, namun juga ada kebenaran yang tak tergoyahkan.
Dengan langkah yang gontai, Nabi Muhammad SAW turun dari Gua Hira, berlari menuju rumahnya. Ia mencari Khadijah, satu-satunya tempat ia merasa aman dan tenteram. Setibanya di rumah, dengan suara gemetar, ia berkata, "Selimuti aku! Selimuti aku!"
Khadijah, tanpa banyak bertanya, segera menyelimuti suaminya. Dengan penuh kasih sayang, ia menenangkan Nabi Muhammad SAW hingga rasa takutnya mereda. Ketika Nabi Muhammad SAW menceritakan semua yang terjadi di Gua Hira, Khadijah, dengan kebijaksanaan dan ketenangan hatinya, berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau selalu menyambung tali silaturahim, berkata jujur, membantu yang lemah, menolong orang yang tidak punya, dan memuliakan tamu."
Kata-kata Khadijah bagaikan air yang menyejukkan hati. Ia adalah orang pertama yang mengimani kerasulan Nabi Muhammad SAW. Dengan keyakinan yang teguh, ia membawa Nabi Muhammad SAW kepada sepupunya, Waraqah bin Naufal, seorang pendeta yang memahami kitab-kitab suci. Setelah mendengar cerita itu, Waraqah berseru, "Demi Allah! Itu adalah An-Namus (Malaikat Jibril) yang pernah datang kepada Musa. Seandainya aku masih muda saat itu, seandainya aku masih hidup saat kaummu mengusirmu!"
Wahyu pertama yang turun di Gua Hira bukan hanya sekadar awal dari risalah Islam, tetapi juga awal dari sebuah transformasi besar. Dari keheningan Gua Hira, dari kegelapan yang pekat, muncullah cahaya yang akan menerangi seluruh dunia. Ini adalah awal dari perjalanan yang penuh tantangan, pengorbanan, dan cinta. Perjalanan yang akan mengubah wajah peradaban dan menuntun umat manusia menuju jalan kebenaran.
Catatan: Mohon maaf sebelumnya jika selama penulisan ini ada kesalahan atau kekeliruan itu semata-mata karena kurangnya ilmu pengetahuan tapi saya tetap ingin menuliskan ini karena saya hanya ingin meninggalkan kenangan sebelum saya mati untuk para pembaca di Blog ini.
