Kesibukan di kediaman Al-Fatih meningkat drastis setelah sarapan. Rumah yang biasanya hanya diramaikan obrolan santai soal formasi 4-3-3 MU, kini berubah menjadi markas operasional katering Aisyah. Dapur mengepul, aroma kunyit, santan, dan cabai merah yang baru diulek memenuhi udara, memaksa jendela dapur dibuka lebar-lebar ke arah taman belakang yang basah oleh embun London.
"Zoya, tolong pastikan container rendang tertutup rapat. Haris, saya butuh bantuan angkat kotak ayam balado ke mobil," komando Aisyah, mengenakan apron khasnya. Wajahnya berseri-seri, meskipun peluh mulai membasahi dahinya. Bisnis kateringnya sedang naik daun. Pesanan hari ini datang dari sebuah acara kantor multinasional di Notting Hill—area yang jauh lebih modis dan mahal dibanding Brent.
Haris, yang sedang bersiap untuk bekerja dari rumah sore nanti, segera sigap. "Siap, Bu Komandan! Misi mengamankan logistik katering dimulai."
Zayn muncul dari kamarnya dengan mata masih sedikit sembab karena begadang. "Aku bantu packing, Umi."
"Bagus. Kamu sekalian cek bumbu cadangan di gudang belakang, Zayn. Umi khawatir stok cabai kering kita menipis," pinta Aisyah.
Di tengah hiruk pikuk persiapan, sebuah "krisis" kecil melanda. Aisyah memeriksa daftar pesanan sekali lagi, matanya terbelalak.
"Astaghfirullah! Pesanan ini... mereka minta sambal matah otentik dengan sedikit minyak kelapa murni yang sudah dipanaskan," seru Aisyah panik.
"Lho, masalahnya apa, Mi? Bukannya kita jago bikin itu?" tanya Haris, bingung.
"Masalahnya, minyak kelapa murni yang impor dari Indonesia sudah habis total! Stok di toko Asia langganan kita di Kilburn juga kosong. Yang ada hanya minyak zaitun atau minyak bunga matahari biasa. Rasanya beda jauh!" jelas Aisyah, mulai panik. Bagi Aisyah, rasa otentik adalah segalanya.
Hana, yang sedang asyik mencatat sesuatu di buku hariannya, menyela dengan polos, "Minyak zaitun kan sehat, Umi. Extra virgin lagi. Mungkin kliennya suka yang lebih sehat?"
Aisyah menggeleng cepat, "Bukan soal sehatnya, Nak. Soal rasanya! Sambal matah pakai minyak zaitun itu seperti Manchester United main di Champions League tapi pakai aturan offside Liga Tarkam! Rasanya janggal!"
Haris tertawa terbahak-bahak mendengar analogi istrinya yang selalu nyambung ke sepak bola. "Analogi yang bagus, Sayang. Oke, tenang. Kita cari solusi. London ini besar, pasti ada yang jual."
Zoya, yang sudah duduk di kursi pengemudi mobil van katering mereka, menambahkan, "Aku bisa mampir ke toko lain di Ealing Broadway, Mi. Atau kita go public di grup WhatsApp PPI London, pasti ada yang punya stok darurat."
Situasi krisis minyak kelapa itu akhirnya teratasi berkat koneksi luas Aisyah di komunitas Indonesia London. Seorang teman yang baru pulang dari Jakarta ternyata punya stok lebih dan bersedia meminjamkannya. Misi katering terselamatkan.
Perjalanan menuju Notting Hill pun dimulai. London di akhir pekan selalu ramai. Di dalam van katering, Haris duduk di kursi penumpang depan, sementara Aisyah sibuk mengecek detail di belakang bersama Zayn. Zoya menyetir dengan lihai di jalur kanan London yang padat.
"Abi, lihat! Itu toko merchandise Chelsea. Jorok sekali warnanya biru begitu," komentar Zayn sambil menunjuk toko di pinggir jalan, memicu tawa Haris.
"Sabar, Zayn. Keragaman itu indah, meskipun seleranya salah soal klub bola," balas Haris.
Mereka tiba di alamat tujuan di Notting Hill, sebuah kantor modern yang elegan. Klien mereka, seorang manajer acara asal Inggris bernama Mr. Davies, menyambut mereka dengan ramah.
"Mrs. Aisyah! Kami sudah dengar reputasi katering Anda. Baunya luar biasa!" sambut Mr. Davies, hidungnya kembang kempis mencium aroma rendang.
Saat Aisyah menjelaskan hidangan satu per satu, dia sempat menyinggung sedikit soal "krisis" minyak kelapa yang berhasil diatasi. Mr. Davies tertawa.
"Dedikasi yang luar biasa untuk sambal! Saya suka semangat itu. Sama seperti dedikasi fans Manchester United yang selalu optimis setiap musimnya," kata Mr. Davies.
Haris dan Zayn langsung tersentak kaget.
"Anda fans MU juga, Sir?" tanya Haris, matanya berbinar penuh harap.
Mr. Davies tersenyum, "Oh, bukan. Saya fans berat Arsenal. North London is red," ujarnya sambil menyeringai.
Seketika, suasana yang tadinya hangat langsung berubah jadi sedikit dingin (dari sisi Haris dan Zayn). Zoya menahan tawa.
"Ah, begitu rupanya. Pantas saja selera makan Anda bagus, tapi selera sepak bola Anda perlu dipertanyakan," celetuk Haris dengan nada bercanda yang kaku.
"Setidaknya kami punya stadion baru yang megah, Tuan Haris," balas Mr. Davies, menikmati momennya.
Aisyah dengan cepat menengahi, "Baiklah, Bapak-bapak, makanannya sudah siap. Semoga dinikmati. Kami permisi dulu."
Mereka meninggalkan kantor dengan tawa kecil. Di dalam mobil, Haris dan Zayn langsung kompak menggerutu soal Arsenal dan superioritas MU yang tidak perlu diragukan.
"Dasar Gooners. Tidak tahu sejarah," gerutu Haris.
Zoya hanya tersenyum. Misi katering selesai, krisis teratasi, dan permusuhan alami antara fans dua klub raksasa Liga Inggris kembali terjadi di jalanan London. Semua berjalan normal di kehidupan keluarga Al-Fatih.
