Hari-hari di Uni Emirat Arab berlalu dengan cepat, diwarnai tawa, perdebatan seru, dan penemuan-penemuan baru. Lev Ryley, yang awalnya merasa asing dan canggung, kini sudah merasa nyaman di tengah ketiga sahabat barunya. Mereka berempat tidak lagi sekadar kenalan, melainkan sebuah tim solid yang saling melengkapi. Namun, setiap petualangan pasti memiliki akhir, dan bagi mereka, akhir itu adalah saatnya mengambil keputusan untuk melanjutkan perjalanan atau berpisah.
Suatu sore, mereka berkumpul di sebuah kafe di Dubai Marina, dengan pemandangan kapal-kapal pesiar mewah yang berlabuh. Matahari terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit, menciptakan siluet yang indah. Khadijah, seperti biasa, adalah yang pertama membuka percakapan serius.
"Aku sangat menikmati kebersamaan ini," katanya, memandang wajah teman-temannya satu per satu. "Tapi, kita harus memutuskan rencana selanjutnya."
"Ya," timpal Fatimah. "Risetku sudah cukup banyak di sini. Aku harus kembali ke Mesir untuk mendalami data yang sudah aku kumpulkan."
"Dan aku harus membuat video di Mesir!" Aisyah langsung antusias. "Makam kuno, piramida, dan sejarahnya! Ini akan sangat keren!"
"Bagaimana denganmu, Lev?" tanya Khadijah. "Apakah kamu akan langsung pulang ke Banjarmasin?"
Lev terdiam sejenak. Ia memandang langit yang mulai gelap, merasakan angin malam berhembus. Jauh di lubuk hatinya, ia merasa belum puas. Petualangan ini telah membuka matanya lebar-lebar tentang kekayaan peradaban Islam. Ia tidak bisa hanya pulang begitu saja, membawa pulang oleh-oleh berupa pengalaman singkat. Ia ingin lebih. Ia ingin melihat lebih banyak, belajar lebih dalam.
"Aku... belum mau pulang," jawab Lev perlahan. "Aku ingin melanjutkan perjalanan. Ke Mesir, lalu ke Iran. Melihat arsitektur yang lebih kuno. Aku merasa... panggilan."
Fatimah menatapnya dengan pandangan tak percaya. "Serius, Lev? Setelah semua kekonyolanmu? Kau yakin bisa bertahan di Mesir dan Iran?"
"Aku tidak tahu," Lev mengangkat bahu, tersenyum kecil. "Tapi aku ingin mencobanya. Aku ingin tahu, apa lagi yang bisa aku temukan di sana."
Aisyah langsung memeluk Lev. "Wah! Ini berita bagus! Kita bisa membuat konten bersama lagi! Judulnya, 'Timur Tengah bersama Lev yang Konyol!'"
"Aisyah, jangan panggil aku konyol," protes Lev, namun tak bisa menahan senyumnya.
Khadijah, yang bijaksana, hanya mengamati mereka dengan tenang. Ia tahu, keputusan Lev bukanlah sekadar ikut-ikutan. Ada tekad yang kuat di balik kekonyolannya. "Kalau begitu, kita harus membuat rencana perjalanan yang matang," katanya. "Mesir dulu, lalu kita lanjutkan ke Iran."
Maka, di bawah langit malam Dubai yang bertabur bintang, mereka merencanakan petualangan selanjutnya. Khadijah, dengan pengetahuannya tentang sejarah dan budaya, menyusun rute yang efisien. Fatimah, dengan kritisisme dan pengetahuannya tentang politik, memberikan masukan-masukan penting. Aisyah, dengan semangatnya, sudah merencanakan ide-ide konten untuk setiap lokasi. Dan Lev, dengan kekonyolan dan semangat belajarnya, siap mengamati setiap detail arsitektur yang akan ia temui.
Malam itu, mereka berempat duduk di kafe hingga larut malam. Mereka berbincang tentang perbedaan-perbedaan budaya yang mungkin akan mereka temui di Mesir dan Iran. Lev menceritakan dengan antusias tentang keinginan terbesarnya untuk melihat langsung peninggalan-peninggalan Islam kuno.
"Di Mesir, aku ingin melihat Al-Azhar," kata Fatimah. "Arsitekturnya, dan tentu saja, sejarah panjangnya sebagai pusat pendidikan Islam."
"Aku ingin melihat Piramida dan Sphinx!" seru Aisyah. "Sudah pasti itu!"
"Dan aku ingin melihat Masjid Sultan Hassan," tambah Khadijah. "Salah satu contoh terbaik dari arsitektur Mamluk."
"Aku... ingin melihat semuanya," kata Lev, tersenyum lebar. "Aku ingin menyerap semua ilmu yang ada."
Keputusan untuk melanjutkan perjalanan bersama ke Mesir dan Iran adalah sebuah langkah besar. Ini bukan lagi sekadar liburan, melainkan sebuah misi. Misi untuk belajar, untuk menemukan makna, dan untuk mengikat persahabatan yang unik ini. Mereka tidak tahu apa yang menanti mereka di depan, namun mereka siap menghadapinya bersama.
Keesokan paginya, mereka check-out dari hotel. Koper besar Lev yang penuh dengan rengginang kini terasa lebih ringan. Bukan karena isinya berkurang, melainkan karena bebannya kini berbagi dengan tiga sahabatnya. Mereka menuju bandara, bukan dengan perasaan khawatir, melainkan dengan semangat yang membara. Dubai menjadi babak pembuka yang manis, dan kini, Mesir menanti untuk diceritakan.
Bab sebelum nya:
