Beberapa "waktu" berlalu—konsep waktu di alam barzakh terasa cair dan berbeda dengan detik jam di Banjarmasin. Vania mulai terbiasa dengan keberadaannya sebagai roh. Rasa panik dan kesedihan ekstrem mulai mereda, digantikan oleh rasa penasaran dan keinginan mendalam untuk menguasai "seni" memandang dunia dari kacamata spiritual.
Pemandunya, yang Vania panggil "Syekh" karena keteduhan auranya, mengajarkannya teknik yang unik. Vania tidak bisa menggunakan mata fisik. Untuk melihat orang tuanya atau Lev, dia harus fokus pada cahaya yang dipancarkan dari hati mereka, yang merupakan refleksi dari keimanan, doa, dan ketulusan mereka.
"Setiap amal baik yang mereka lakukan, setiap ayat Quran yang mereka baca untukmu, menjadi bahan bakarmu di sini, dan juga menjadi 'layar' tempat kau bisa mengintip," jelas Syekh.
Vania memejamkan mata spiritualnya dan berkonsentrasi. Dia memikirkan Bu Fatma. Seketika, muncul kilasan. Bu Fatma sedang menyiram tanaman anggrek di halaman depan, matanya masih sembab, tetapi gerakannya tegar. Cahaya dari hatinya berpendar lembut, cahaya keikhlasan. Vania melihat ibunya tersenyum tipis saat menatap bunga yang mekar, seolah Vania ada di sana.
"Dia baik-baik saja, Syekh. Dia kuat," kata Vania lega.
"Alhamdulillah. Sekarang, cobalah fokus pada Lev Ryley. Dia jiwa yang sedang berjuang lebih keras," perintah Syekh.
Vania memfokuskan energinya pada Lev. Gambaran muncul: Lev di studio arsitekturnya di pusat kota, tampak berantakan. Ada tumpukan maket rumah adat Banjar yang belum selesai. Lev terlihat kacau, namun dia sedang mendengarkan kajian online melalui ponselnya sambil sesekali menghapus air mata dengan kasar.
Cahaya Lev lebih bergejolak. Kadang terang benderang saat dia khusyuk berdoa atau mendengarkan ceramah, kadang meredup saat kesedihan dan keraguan menghantamnya.
"Dia masih sangat terluka," bisik Vania, merasakan gelombang simpati yang kuat. "Bisakah aku memberinya tanda bahwa aku baik-baik saja?"
"Tidak secara langsung. Itu melanggar aturan alam. Tapi cahayamu sendiri, ketenanganmu di sini, akan memengaruhi mimpinya nanti, atas izin Allah. Doamu untuk ketenangan hatinya akan sampai," jawab Syekh.
Vania bertekad untuk lebih tenang, demi Lev. Dia tidak ingin kesedihannya di alam barzakh justru memberatkan orang-orang yang dicintainya di dunia.
Beberapa hari "waktu barzakh" berikutnya dihabiskan Vania untuk mengamati ritme kehidupan di Banjarmasin pasca-kepergiannya. Dia melihat teman-teman mengajarnya di sekolah bergotong royong membersihkan kelas yang dulu diampunya, menaruh vas bunga baru di meja guru Vania. Momen slice of life yang sederhana namun penuh makna.
Vania juga mulai menyadari dinamika baru di antara teman-temannya. Mereka berusaha keras menghibur Lev, seringkali dengan cara yang canggung dan lucu, yang membuat Vania, sang roh, tersenyum geli.
"Mereka memang begitu adanya," gumam Vania.
Syekh tersenyum. "Kehidupan terus berjalan, Vania. Duka adalah bagian dari iman, tetapi hidup juga adalah anugerah yang harus dilanjutkan. Cahaya iman mereka membuktikan itu."
Vania akhirnya menemukan ketenangan. Dia tidak bisa kembali, tetapi dia bisa mengawasi mereka, mendoakan mereka, dan menjadi lebih baik di alamnya sendiri. Dia telah berdamai dengan realitas alam barzakh. Kini, dia siap menyaksikan bagaimana orang-orang yang dicintainya menghadapi masa depan tanpa kehadirannya secara fisik di tanah Banjar.
