Sore di Sharjah menyambut mereka dengan aroma rempah-rempah yang tajam dan tawa anak-anak yang riang. Setelah seharian penuh di museum, mereka memutuskan untuk mengunjungi Pasar Malam Al-Qasba, sebuah pasar tradisional yang ramai di tepi kanal. Lampu-lampu berwarna-warni memantulkan sinarnya di permukaan air, menciptakan pemandangan yang magis. Suara penjual yang menawarkan dagangan bercampur dengan musik Arab yang mengalun dari kejauhan.
“Nah, ini baru namanya pasar,” kata Fatimah, matanya berbinar. “Aku suka suasana seperti ini. Jauh lebih hidup daripada mal-mal mewah.”
Aisyah tidak mau kalah. “Ini juga keren buat konten! Street market vlog!” Ia segera mengaktifkan kamera ponselnya dan mulai merekam.
Lev, dengan santainya, berjalan di tengah keramaian. Ia mengamati berbagai barang dagangan yang dijual, mulai dari rempah-rempah, perhiasan, kain, hingga oleh-oleh khas. Di Banjarmasin, ia terbiasa dengan pasar terapung yang ramai, tetapi suasana pasar malam di Timur Tengah ini terasa berbeda, lebih eksotis dan penuh warna.
“Khadijah, lihat ini!” Lev menunjuk sebuah toko yang menjual permadani dengan motif rumit. “Motifnya seperti yang ada di masjid kuno, tapi warnanya lebih cerah.”
Khadijah tersenyum. “Benar, Lev. Kebudayaan itu selalu berkembang. Ada elemen baru yang masuk, tapi akarnya tetap sama.”
Di sudut lain, Fatimah melihat sebuah toko yang menjual abaya dan berbagai kain. Ia tertarik pada sebuah abaya berwarna gelap dengan bordir emas yang indah. “Ini bagus juga,” gumamnya.
“Bagus? Kamu harus coba tawar, Fatimah!” Aisyah menimpali. “Tawar menawar itu seni! Aku bisa ajari kamu.”
Maka, terjadilah sebuah adegan tawar menawar yang lucu. Aisyah, dengan gayanya yang ceria, mencoba menawar harga abaya itu dengan bahasa Inggris yang sedikit kacau, diselingi dengan bahasa Arab seadanya. Penjualnya, seorang pria tua berjanggut putih, hanya tersenyum geli. Fatimah, yang blak-blakan, justru langsung menanyakan harga pasnya, membuat penjual itu sedikit terkejut.
“Tunggu, Fatimah! Itu bukan caranya!” Aisyah memprotes. “Kau harus mulai dari harga paling rendah!”
“Kenapa harus ribet? Lebih baik langsung saja, menghemat waktu,” jawab Fatimah.
Lev, yang tadinya hanya mengamati, tiba-tiba menawarkan diri. “Gini, saya coba cara orang Banjar saja ya. Kalau tawar-menawar, kita harus ramah dan sedikit drama.”
Lev kemudian menghampiri penjual itu, tersenyum lebar, dan mulai berbicara dengan bahasa Indonesia yang ia campur dengan sedikit bahasa Inggris. “Pak, this is a beautiful abaya. Tapi, saya anak kost, duitnya pas-pasan.” Ia kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan berpura-pura menghitungnya dengan cermat. “Gimana kalau segini, Pak?”
Penjual itu menatap Lev dengan heran, lalu tertawa terbahak-bahak. Mungkin ia menganggap tingkah Lev ini sangat lucu.
Khadijah, yang sudah berpengalaman, akhirnya turun tangan. Ia berbicara dengan penjual itu dalam bahasa Arab yang fasih. Mereka bernegosiasi dengan santai, diselingi tawa dan candaan. Akhirnya, mereka berhasil mendapatkan abaya itu dengan harga yang lumayan. Fatimah mengangguk puas. Aisyah merekam semua adegan itu dengan antusias.
“Kalian berdua memang jago,” kata Fatimah, menatap Khadijah dan Lev.
“Saya cuma mencoba pendekatan budaya lokal,” jawab Lev, bangga.
Aisyah memeluk Fatimah. “Lihat? Kita memang tim yang hebat! Khadijah yang pintar, Fatimah yang blak-blakan, Lev yang konyol, dan aku yang merekam semuanya!”
Setelah berbelanja, mereka melanjutkan perjalanan ke area kuliner. Di sana, mereka mencoba berbagai makanan khas Timur Tengah, seperti kebab, shawarma, dan manisan. Lev, yang konyol, mencoba mencicipi semua makanan itu dan mengomentari rasa setiap makanan dengan gaya yang lucu. Ia membandingkan kebab dengan sate Banjar, shawarma dengan nasi bungkus, dan manisan dengan kue-kue tradisional Banjar.
Malam semakin larut, dan mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Di dalam taksi, mereka berempat tertawa terbahak-bahak mengingat kekonyolan mereka di pasar.
“Aku tidak menyangka tawar-menawar bisa begitu seru,” kata Fatimah.
“Itu karena kita yang membuatnya seru,” jawab Aisyah. “Kita ini dream team!”
Khadijah mengangguk. “Ya, kita memang tim yang kompak.”
Lev menambahkan, “Dan tim yang tidak akan pernah kehabisan cerita.”
Di tengah malam yang dingin, mereka berempat menyadari bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar petualangan. Ini adalah perjalanan untuk menemukan persahabatan, untuk saling mengenal satu sama lain, dan untuk belajar dari setiap perbedaan. Pasar malam yang berisik di Sharjah menjadi saksi bisu dari ikatan yang semakin erat di antara mereka.
