Malam di atas perahu klotok terasa syahdu. Suara mesin perahu yang menderu pelan berpadu dengan suara alam: jangkrik yang berisik, dan sesekali, suara primata yang bersahutan dari kejauhan. Lev, Faruq, dan Rizky duduk di dek perahu, membiarkan mata mereka menikmati pemandangan sungai yang gelap, hanya diterangi oleh cahaya remang-remang dari perahu mereka.
"Wah, ini rasanya berbeda sekali dengan Banjarmasin, ya," kata Lev, sambil menghirup udara malam yang segar.
Rizky mengangguk. "Tentu saja, mas. Di sini, kita bisa benar-benar merasakan alam. Jauh dari hiruk-pikuk kota."
Faruq tersenyum. "Makanya, nikmati, Lev. Jangan sampai bikin ulah lagi."
"Siap, Faruq!" kata Lev.
Mereka melanjutkan perjalanan. Lev merasa takjub dengan keindahan alam di sekitarnya. Hutan-hutan tropis yang lebat, pohon-pohon yang menjulang tinggi, dan sungai yang tenang, menciptakan suasana yang magis.
"Aku tidak sabar untuk memotret orangutan," kata Lev, dengan nada penuh semangat.
Rizky tersenyum. "Orangutan itu adalah satwa yang unik, mas. Mereka punya karakter yang berbeda-beda. Ada yang pemalu, ada yang agresif, ada juga yang suka bermain."
"Jadi, kita tidak boleh sembarangan mendekati mereka, ya?" tanya Lev.
"Tentu saja. Kita harus menghormati mereka. Mereka adalah tuan rumah di sini," jawab Rizky.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, mereka sudah terbangun. Kabut tipis menyelimuti sungai, menciptakan pemandangan yang eksotis. Suara-suara alam terdengar lebih jelas. Lev merasa semangatnya kembali membara.
"Faruq, ayo kita cari orangutan!" kata Lev, dengan nada tak sabar.
"Sabar, Lev. Kita sarapan dulu," kata Faruq, yang sudah duduk di meja makan perahu klotok.
Setelah sarapan, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka melewati hutan-hutan yang lebat, dan sesekali melihat beberapa jenis primata lain, seperti bekantan dan owa.
"Nah, itu dia, orangutan!" Rizky menunjuk ke arah pohon.
Lev langsung mengarahkan kameranya. Di atas pohon, seekor orangutan sedang duduk santai, memakan buah-buahan. Lev mengambil beberapa foto. Ia merasa senang, ia mendapatkan foto yang bagus.
"Jangan hanya memotret, Lev. Perhatikan juga perilaku mereka," kata Rizky.
Lev mengangguk. Ia mulai mengamati orangutan itu. Ia melihat bagaimana orangutan itu memakan buah, bagaimana ia bergerak dari satu dahan ke dahan lain. Ia merasa terinspirasi, ia ingin mendokumentasikan setiap detailnya.
"Aku akan memotret interaksi mereka dengan lingkungan sekitar," bisik Lev.
Faruq dan Rizky mengangguk. Mereka berdua membiarkan Lev fokus pada pekerjaannya.
Setelah beberapa jam, mereka tiba di sebuah kamp rehabilitasi orangutan. Di sana, mereka bertemu dengan para penjaga yang dengan ramah menyambut mereka.
"Selamat datang, nak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga.
"Kami mau melihat orangutan, pak. Dan juga mendokumentasikannya," kata Faruq.
"Silakan, nak. Tapi jangan mengganggu mereka, ya," kata penjaga itu.
Lev, Faruq, dan Rizky masuk ke dalam kamp. Mereka melihat banyak orangutan yang sedang beraktivitas. Ada yang sedang bermain, ada yang sedang makan, ada juga yang sedang berinteraksi dengan penjaga.
"Ini rasanya berbeda, Faruq. Mereka terlihat begitu... dekat dengan manusia," kata Lev.
"Mereka memang sudah terbiasa dengan manusia, Lev. Tapi kita tetap harus menghormati mereka," jawab Faruq.
Lev mengambil beberapa foto lagi. Ia merasa senang, ia mendapatkan banyak foto yang bagus. Ia merasa beruntung bisa berada di sana, melihat orangutan secara langsung.
"Kalian tahu? Orangutan itu adalah salah satu primata yang paling cerdas," kata Rizky.
"Benarkah?" tanya Lev, penasaran.
"Iya. Mereka bisa belajar, bisa meniru, dan juga bisa berkomunikasi dengan sesamanya," jawab Rizky.
Lev merasa kagum. Ia menyadari, di balik kekonyolannya, ia masih bisa belajar banyak hal.
Setelah selesai mendokumentasikan, mereka kembali ke perahu klotok. Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Ia telah mendapatkan pengalaman yang berharga.
"Lev, kamu tahu? Perjalanan ini bukan hanya tentang memotret orangutan, tapi juga tentang belajar menghargai alam," kata Faruq.
Lev mengangguk. "Aku mengerti, Faruq. Aku akan lebih menghargai alam. Dan juga, aku akan lebih menghargai persahabatan kita."
Malam itu, mereka kembali ke dermaga Kumai. Lev, Faruq, dan Rizky berpamitan. Lev berterima kasih kepada Rizky, karena telah memberikan banyak pelajaran.
"Sama-sama, mas Lev. Semoga kita bisa bertemu lagi," kata Rizky.
Lev, Faruq, dan Rizky saling berpelukan, lalu Rizky pergi. Lev dan Faruq kembali ke penginapan, Lev merasa lelah, tapi ia merasa bahagia. Ia telah mendapatkan pengalaman yang berharga. Perjalanan ini mungkin akan diwarnai kekonyolan, tapi persahabatan mereka yang kuat akan membuat segalanya terasa mudah. Ia tahu, dengan Faruq di sisinya, petualangan ini pasti akan penuh warna. Dan yang terpenting, ia akan membawa niat baik dan semangat untuk mendokumentasikan keindahan Borneo, satu foto dan satu tawa pada satu waktu.
