Beberapa minggu berlalu sejak Emily memutuskan untuk memamerkan lukisannya di jendela. Reaksinya di luar dugaannya. Banyak orang berhenti untuk mengagumi karyanya, dan beberapa bahkan meninggalkan catatan kecil di bawah pintu. Emily merasa seperti ia tidak hanya melukis untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang lain yang pernah merasakan duka yang sama. Ia menyadari, cara move on setelah ditinggal suami tidak berarti melupakan, tetapi menemukan cara baru untuk mencintai dan dikenang, dan dalam kasusnya, ia menemukan cara untuk berbagi cinta dan kenangan itu dengan orang lain.
Suatu sore, saat Emily sedang mengecat kanvas, bel apartemennya berbunyi. Emily membuka pintu dan melihat seorang wanita tua yang ia lihat di depan jendelanya beberapa minggu yang lalu. Wanita itu tersenyum dan menyerahkan sebuah amplop kepada Emily. Emily mengambil amplop itu dan wanita itu berbalik pergi.
Emily menutup pintu dan membuka amplop itu. Di dalamnya, ada sebuah surat yang ditulis dengan tangan dan sebuah foto tua. Surat itu menceritakan kisah wanita tua itu, tentang bagaimana ia kehilangan suaminya di Paris, dan bagaimana ia kembali ke sana untuk mengenang. Wanita itu mengatakan bahwa lukisan Emily telah memberinya keberanian untuk menghadapi masa lalunya.
Emily menatap foto itu. Foto itu menunjukkan wanita tua itu dan suaminya, duduk di bangku taman yang sama di Jardin du Luxembourg, tempat Emily menemukan ukiran "E" dan "A". Emily terkejut. Ia menyadari, kisah duka di Paris yang ia alami tidak unik. Ada banyak orang di kota ini yang juga pernah merasakan kehilangan, dan mereka semua menemukan cara untuk sembuh.
Emily meneteskan air mata. Air mata haru. Ia tidak lagi merasa sendirian. Ia merasa terhubung dengan orang-orang yang tidak ia kenal, melalui lukisan dan kenangan. Ia menyadari, novel tentang duka yang ia tulis bukan hanya tentang dirinya dan Adam, tetapi juga tentang semua orang yang pernah merasakan kehilangan. Ia merasa Adam ada di sana, tersenyum, bangga dengan apa yang telah ia lakukan.
Emily kembali ke kanvasnya dan mulai melukis lagi. Kali ini, ia melukis wajah wanita tua itu, dengan senyum di bibirnya dan mata yang penuh harapan. Ia melukis tentang bagaimana duka bisa menjadi jembatan untuk terhubung dengan orang lain. Ia melukis tentang bagaimana cinta tidak pernah mati, meskipun orangnya sudah tiada. Ia melukis tentang bagaimana ia menemukan kembali dirinya sendiri di Paris, kota yang dulunya terasa dingin dan asing, kini terasa hangat dan penuh cinta. Ia siap untuk babak selanjutnya. Ia siap untuk melanjutkan hidup, dengan cinta Adam yang abadi di dalam hatinya, dan kenangan yang ia bagikan dengan dunia.
