"Pesta kostum?" ulang Lev, memastikan ia tidak salah dengar. Ia dan Sofia sedang duduk di sebuah kafe, menyesap teh panas untuk menghangatkan diri. Sofia baru saja menerima sebuah undangan dari temannya, Sasha.
"Ya. Pesta ulang tahun Sasha. Dia temanku di universitas. Temanya 'Legenda Kuno'," jelas Sofia. "Kamu harus datang! Pasti seru."
Lev ragu. "Saya... saya tidak punya kostum. Dan saya tidak tahu legenda kuno Rusia."
"Tenang saja. Kita bisa buat kostum sederhana. Atau kamu pakai kostum khas Indonesia saja. Pasti tidak ada yang punya," bujuk Sofia. "Lagipula, nanti ada makanan halal di sana. Aku sudah bilang pada Sasha."
Akhirnya Lev setuju. Ia yakin, dengan ditemani Sofia, ia akan baik-baik saja.
Malam pesta tiba. Sofia menjemput Lev dengan penampilan yang memesona. Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit dengan detail yang rumit, lengkap dengan mahkota perak. "Saya Putri Salju," jelasnya. "Atau Snegurochka, legenda rakyat Rusia. Putri Salju, cucu Baba Yaga."
Lev menatap Sofia dengan takjub. Sahabatnya terlihat seperti seorang putri sungguhan. "Kamu cantik sekali, Sofia."
"Terima kasih. Sekarang, mana kostummu?" tanya Sofia.
Lev dengan bangga menunjukkan kostumnya. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi, lengkap dengan peci hitam. "Ini... saya pahlawan Indonesia," katanya.
Sofia mengerutkan dahi. "Pahlawan?"
"Ya. Pahlawan," jawab Lev yakin. "Di Indonesia, ini kostum yang biasa dipakai untuk acara-acara penting."
Sofia menatap Lev dari atas ke bawah. "Kamu yakin? Kostum yang lain pasti akan lebih meriah dari ini, Lev."
"Tenang. Pahlawan Indonesia harus percaya diri," kata Lev, dengan keyakinan yang terlalu besar.
Mereka tiba di apartemen Sasha. Suara musik terdengar dari luar. Saat pintu terbuka, Lev langsung terpaku. Seluruh tamu mengenakan kostum yang luar biasa. Ada yang berkostum dewa-dewa Yunani, prajurit Viking dengan tanduk di helm mereka, hingga penyihir dari dongeng. Mereka semua mengenakan kostum yang megah dan mencolok.
Dan di tengah-tengah keramaian itu, berdirilah Lev, mengenakan kemeja batik dan peci. Ia terlihat seperti seorang guru yang datang untuk menghadiri rapat sekolah, bukan pesta kostum. Beberapa pasang mata menatapnya dengan heran. Ada yang berbisik-bisik, ada yang tertawa kecil.
Wajah Sofia langsung memerah. Ia tahu Lev sudah salah besar. Ia sudah mencoba memperingatkan, tapi Lev terlalu percaya diri. Ia segera menarik tangan Lev, membawanya ke sudut ruangan yang lebih sepi.
"Lev! Ini bukan pesta kantor!" bisik Sofia, menahan tawa dan rasa malu.
"Tapi... saya kan pahlawan," jawab Lev, masih tidak mengerti.
"Iya, tapi... kostum ini terlalu... formal. Kamu seperti datang dari rapat komite," bisik Sofia lagi.
Sasha, teman Sofia yang berulang tahun, datang menghampiri mereka. Ia mengenakan kostum ratu yang terbuat dari bulu-bulu. "Sofia, Lev! Selamat datang! Oh, Lev, kostummu... unik sekali. Kamu ini pahlawan dari mana? Pahlawan yang mau presentasi?" Sasha bertanya, berusaha menahan senyum.
"Pahlawan dari Indonesia. Pahlawan kemerdekaan!" jawab Lev, bangga.
Sasha mengangguk-angguk, masih tampak bingung. "Ah... menarik. Silakan nikmati pestanya!"
Sepanjang pesta, Lev menjadi pusat perhatian. Setiap kali ada yang bertanya tentang kostumnya, Lev akan dengan bangga menjelaskan tentang batik dan pahlawan Indonesia. Awalnya, ia merasa percaya diri. Namun, setelah beberapa kali dipertanyakan, ia mulai menyadari kesalahannya.
"Saya seperti... salah planet, ya?" bisik Lev kepada Sofia.
Sofia tertawa. "Tidak juga. Hanya saja, lain kali, kalau tema pestanya 'Legenda Kuno', kita harus riset dulu."
Saat tengah malam, saat semua orang sedang menari, Lev memutuskan untuk membuat kejutan. Ia berbisik pada Sofia. "Saya akan menunjukkan pahlawan dari Indonesia tidak hanya pakai baju, tapi juga punya bakat!"
Lev lalu naik ke atas panggung kecil yang disediakan untuk karaoke. Ia mengambil mikrofon, membuat semua orang terdiam. Sofia menutup wajahnya dengan telapak tangan, merasa malu.
"Teman-teman! Ini pahlawan dari Indonesia! Lev!" kata Lev dengan aksen Rusia yang masih kental. "Saya mau menyanyi lagu... Indonesia."
Lalu, Lev mulai menyanyikan lagu "Halo-Halo Bandung". Suaranya tidak terlalu bagus, tapi semangatnya luar biasa. Ia menyanyikannya dengan penuh perasaan. Awalnya, para tamu hanya terdiam. Namun, setelah beberapa bait, mereka mulai bertepuk tangan, terhibur dengan penampilan Lev yang aneh tapi penuh semangat.
Sofia, yang tadinya malu, kini merasa bangga. Lev mungkin salah kostum, tapi ia tidak salah dalam menunjukkan siapa dirinya. Ia tetap Lev, pemuda jujur dari Banjarmasin, yang berani menampilkan keunikannya di tengah orang asing.
Setelah menyanyi, Lev turun dari panggung dengan wajah memerah karena malu, tapi senang. Sofia langsung memeluknya.
"Kamu gila!" bisik Sofia, tertawa.
"Tapi... menyenangkan, kan?" tanya Lev.
"Sangat menyenangkan," jawab Sofia, masih tertawa.
Malam itu, Lev mungkin menjadi satu-satunya tamu dengan kostum yang salah. Tapi ia juga menjadi tamu yang paling berkesan, karena ia berani menjadi dirinya sendiri. Sofia menyadari, persahabatannya dengan Lev adalah petualangan yang tidak akan pernah membosankan.
