Mentari subuh di Kota Banjarbaru belum sepenuhnya unjuk gigi. Udara segar khas Kalimantan Selatan yang masih sedikit dingin meresap ke pori-pori. Di Kompleks Griya Indah Blok C No. 25, alarm subuh—kali ini berupa lantunan merdu azan dari Masjid Al-Hikmah—sudah membangunkan seisi rumah keluarga Salman.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar...”
Di kamar utama, Fikri Salman, kepala keluarga yang berusia 45 tahun, menggeliat. Istrinya, Aisyah (43), sudah lebih dulu duduk di tepi ranjang, merapikan mukenanya. Pasangan ini adalah inti dari kebahagiaan rumah tangga yang jarang absen dari tawa, meskipun terkadang tawa itu dipicu oleh hal-hal yang—menurut standar orang lain—agak unik.
“Mas, buruan bangun. Nanti telat salat subuh berjamaah di masjid,” tegur Aisyah lembut.
Fikri mengucek matanya, menyengir lebar. “Siap, Umi. Semangat pagi! Kayaknya hari ini cerah, secerah mood-ku habis dengar suara azan semerdu almarhum Chrisye kalau lagi ngaji,” celetuknya, memasukkan unsur selebriti idolanya di pagi buta.
Aisyah hanya menggelengkan kepala, maklum. Fikri memang punya cara pandang unik, di mana setiap momen hidup bisa dikaitkan dengan musisi atau aktor terkenal Indonesia.
Setelah Fikri bergegas ke kamar mandi, Aisyah mengecek kamar anak-anaknya. Rumah tangga mereka dianugerahi empat permata hati: dua putra dan dua putri.
Di kamar Rizki, si sulung (18), Aisyah mendapati anaknya sudah rapi dengan sarung dan peci. Rizki adalah mahasiswa kedokteran yang serius, calon dokter kebanggaan keluarga Banjarbaru.
“Sudah siap, Nak?” tanya Aisyah.
“Sudah, Mi,” jawab Rizki sambil merapikan letak pecinya. “Habis salat, mau langsung review materi kuliah. Doakan semoga cepat jadi dokter secepat Reza Rahadian dapat Piala Citra.”
Giliran Aisyah yang menahan tawa. Rupanya ‘penyakit’ ayahnya menular ke si sulung.
Di kamar sebelah, Zahra (16) masih bergulat dengan selimut. Aisyah harus sedikit keras membangunkan putri remajanya yang terobsesi dengan fashion hijab syar'i modern.
“Zahra, bangun! Subuh!”
“Iya, Umi, lima menit lagi,” sahut Zahra dengan suara parau. “Aku semalam begadang scroll Instagram Dian Pelangi cari inspirasi style buat acara sekolah besok.”
Aisyah menghela napas. Baiklah, pagi ini diwarnai obsesi fashion lagi.
Terakhir, kamar dua jagoan kecil. Fahmi (10) dan Mila (6). Kamar ini selalu jadi pusat komedi. Fahmi sudah bangun, tapi sedang asyik bergumam lagu rap yang liriknya diubah jadi puji-pujian Islami, meniru gaya Atta Halilintar yang sedang semangat berdakwah.
Mila, si bungsu yang polos, masih terlelap sambil memeluk boneka mikrofon.
“Fahmi, ganti baju. Jangan nyanyi terus,” perintah Aisyah.
“Siap, Umi! Suaraku kan merdu kayak sound system masjid,” balas Fahmi percaya diri.
Setelah salat subuh berjamaah di masjid kompleks, keluarga Salman berkumpul di meja makan. Pagi ini menu sarapan adalah nasi kuning khas Banjar, makanan favorit semua anggota keluarga. Kehidupan bermasyarakat di Banjarbaru sangat terasa di kompleks ini; tetangga kanan-kiri sudah saling menyapa dari teras rumah.
Saat sarapan berlangsung, keharmonisan keluarga terlihat jelas.
“Yah, tadi Pak RT cerita, persiapan acara Baayun Maulid bulan depan sudah mulai dirapatkan,” ujar Aisyah membuka obrolan.
“Oh ya? Alhamdulillah,” respons Fikri antusias. “Tradisi kita di Banjarbaru ini harus terus dilestarikan. Nanti kita siapkan ayunan terbaik, Mi. Seperti panggung konser Ebiet G. Ade, harus sempurna dan menyentuh hati.”
Fahmi menyela dengan mulut penuh nasi kuning, “Ayah, kalau Fahmi yang ikut Baayun boleh nggak? Biar viral kayak di YouTube-nya Om Atta!”
Rizki, si sulung yang kalem, tersenyum geli. “Kamu sudah kelewatan umur, Fahmi. Baayun itu buat bayi.”
“Oh iya, Umi,” Zahra menambahkan, “Temanku di sekolah ada yang mau belajar hijab style syar’i. Boleh aku ajak main ke rumah? Katanya dia ngefans berat sama Kak Ria Miranda.”
“Boleh sekali, Nak. Ajak saja. Kita bisa sekalian belajar bareng di majelis taklim,” jawab Aisyah ramah.
Di ujung meja, Mila yang pendiam tiba-tiba berdiri di kursinya, memegang sendok nasi kuningnya seolah-olah itu adalah mikrofon emas.
“Ku menari dan bernyanyi, bersama para peri...” Mila mulai bernyanyi dengan suara cempreng, meniru persis gaya penyanyi cilik Naura Ayu saat konser.
Seketika, tawa meledak di meja makan keluarga Salman. Fikri sampai tersedak kuah nasi kuning.
“Masya Allah, Mila! Pagi-pagi sudah konser,” kata Fikri sambil tertawa.
“Biar jadi artis terkenal se-Indonesia Yah!” seru Mila polos.
Pagi itu, di rumah sederhana di Banjarbaru, kebahagiaan terasa lengkap. Kehidupan Islami yang damai berpadu dengan bumbu komedi ringan khas referensi selebriti Indonesia, menjadi awal yang berkah bagi keluarga Salman. Mereka siap menjalani hari di kota yang sedang berkembang pesat itu, dengan iman di dada dan senyum di wajah.
