Keesokan harinya, Anatasya datang ke perpustakaan dengan rencana baru. Setelah membaca beberapa halaman The Republic, ia merasa pikirannya terlalu kacau untuk memecahkan misteri di balik pesan Lev. Ia butuh bantuan. Bantuan yang handal, cerdas, dan tidak terlalu dramatis. Tapi karena bantuan yang handal dan cerdas tidak ada, ia memanggil Maja.
Ponselnya bergetar saat ia sedang menyusun buku-buku di rak paling atas. Pesan dari Maja: "Aku sudah di depan perpustakaan. Misi mata-mata pustakawan akan dimulai. Pakaian penyamaran sudah siap."
Anatasya menghela napas. Pakaian penyamaran? Ia tidak tahu apa yang harus ia harapkan.
Maja masuk dengan mengenakan mantel trench berwarna krem, kacamata hitam besar, dan topi fedora. Anatasya hampir tidak mengenalinya. Maja terlihat seperti detektif swasta yang sedang menyamar di film-film lama.
"Maja! Apa-apaan ini?" bisik Anatasya.
"Ini adalah pakaian penyamaran," kata Maja, dengan nada berbisik yang keras. "Kita tidak boleh terlihat mencolok."
Anatasya menunjuk pada topi fedora Maja yang miring. "Tapi kau terlihat sangat mencolok."
"Itu bagian dari rencananya," kata Maja, mengedipkan mata. "Mereka akan terlalu fokus pada penyamaranku sehingga tidak menyadari misi kita yang sebenarnya."
Anatasya tidak yakin, tetapi ia membiarkan Maja melanjutkan.
"Jadi, apa rencana kita?" tanya Maja, berbisik lagi. "Kita akan mengamati Lev Ryley. Mencari tahu tentang dirinya. Lalu, kita akan menggunakan informasi itu untuk membuat dia jatuh cinta padamu."
Anatasya merasa rencana itu terlalu berlebihan, tetapi ia tidak punya pilihan lain. "Baiklah. Kita mulai dengan mengamati. Tapi tanpa pakaian aneh."
"Sip!" kata Maja, melepas jaket dan topi fedoranya. "Jadi, apa yang kita tahu sejauh ini?"
"Dia mantan jenius IT, dia suka membaca buku filsafat, dan dia tertawa saat aku terjatuh," kata Anatasya, dengan nada yang sedikit kesal.
"Tertawa?" tanya Maja, dengan mata berbinar. "Itu bagus! Itu berarti dia punya selera humor!"
Anatasya menghela napas. "Mungkin. Tapi itu juga berarti dia menganggapku konyol."
"Konyol itu menarik," kata Maja, tersenyum. "Kau harus melihatnya dari sudut pandang yang berbeda."
Mereka memulai misi mata-mata mereka. Anatasya dan Maja duduk di meja yang agak jauh dari Lev Ryley. Maja mengeluarkan buku catatan kecil dan pensil.
"Baik," kata Maja, berbisik. "Fase pertama: pengamatan. Kita harus mencatat setiap gerakannya. Apa yang dia lakukan?"
Anatasya melirik ke arah Lev Ryley. "Dia membaca buku."
"Mencatat!" kata Maja, menulis dengan cepat di buku catatannya. "Gerakan minim. Fokus pada buku."
"Aku sudah bilang begitu," kata Anatasya.
"Tentu saja," kata Maja, mengabaikannya. "Fase kedua: interaksi tidak sengaja. Kita harus membuat dia berinteraksi denganmu secara tidak sengaja."
"Bagaimana caranya?" tanya Anatasya.
"Kita bisa membuat keributan," kata Maja, dengan senyum nakal. "Seperti... menjatuhkan buku lagi. Atau..."
Anatasya menatap Maja dengan pandangan tajam. "Jangan. Kita sudah cukup dengan kekacauan."
"Baiklah, baiklah," kata Maja, mengangkat tangan. "Kita bisa coba dengan cara yang lebih halus. Kita bisa memintanya untuk membantumu mengambil buku di rak atas."
"Aku bisa mengambilnya sendiri," kata Anatasya.
"Itu bukan poinnya!" Maja berbisik. "Poinnya adalah membuat dia berinteraksi denganmu!"
Anatasya merasa malu, tetapi ia mengikuti saran Maja. Ia berjalan ke rak buku di dekat tempat Lev Ryley. Ia melihat-lihat buku, lalu berpura-pura tidak bisa mencapai buku di rak atas.
"Oh, astaga," gumam Anatasya, dengan nada yang dibuat-buat khawatir. "Aku tidak bisa mencapainya."
Maja, yang mengamati dari kejauhan, mengangguk memberi semangat.
Anatasya melihat ke arah Lev Ryley. Pria itu masih membaca. Ia tidak melihat Anatasya. Anatasya merasa kesal.
Ia mencoba lagi. "Apakah ada yang bisa membantuku?" kata Anatasya, sedikit lebih keras.
Lev Ryley masih tidak menoleh. Anatasya merasa frustrasi.
"Sudahlah," kata Anatasya kepada Maja, yang kini berjalan ke arahnya. "Ini tidak akan berhasil."
"Aku punya ide yang lebih baik," kata Maja, dengan senyum licik. "Kita akan membuat dia datang padamu."
Maja berjalan ke arah tempat duduknya. Ia mengambil secangkir kopi, lalu sengaja menjatuhkannya, tetapi kali ini, tumpahan kopi itu berada di dekat Lev Ryley.
Anatasya membelalakkan matanya. "Maja! Apa yang kau lakukan?"
"Tunggu saja," kata Maja, tersenyum.
Anatasya melihat Lev Ryley. Pria itu menoleh, melihat tumpahan kopi, lalu melihat Maja dan Anatasya.
Maja berpura-pura panik. "Oh, astaga! Aku minta maaf! Aku tidak sengaja!"
Lev Ryley menghela napas. Ia bangkit dari kursinya, mengambil kain lap, dan berjalan ke arah tumpahan kopi.
Anatasya merasa malu, tetapi juga merasa senang. Rencana Maja berhasil. Lev Ryley datang.
Lev Ryley membersihkan tumpahan kopi, lalu menatap Maja. "Tolong lain kali, lebih hati-hati," katanya, dengan nada yang dingin.
"Aku akan," kata Maja, tersenyum. "Tapi... apakah kau tahu bahwa sahabatku, Anatasya, juga pernah menumpahkan kopi? Tapi ia tidak sengaja."
Lev Ryley menatap Anatasya, lalu tersenyum. Bukan senyum geli, tetapi senyum yang ramah. "Aku tahu. Tapi ia lebih jujur daripada kau."
Anatasya merasa pipinya memerah. Ia merasa malu, tetapi juga merasa senang. Lev Ryley mengingatnya.
Maja, yang tidak tahu malu, menyenggol Anatasya. "Tuh kan! Aku sudah bilang, konyol itu menarik!"
Lev Ryley kembali ke kursinya, melanjutkan membacanya.
Anatasya menatap Maja. "Maja! Kau membuatku malu!"
"Tapi aku membuat dia datang padamu!" kata Maja, dengan bangga. "Itu adalah langkah pertama menuju cinta!"
Anatasya mendesah. Ia tidak tahu apakah Maja benar atau tidak, tetapi ia merasa ada sesuatu yang berubah. Ia merasa Lev Ryley tidak lagi menjadi pria misterius di Sudut Rak. Ia menjadi... Lev Ryley. Dan ia merasa ingin mengenalnya lebih jauh.
Misi mata-mata mereka mungkin gagal, tetapi itu menghasilkan interaksi yang lebih intim. Dan Anatasya tahu, ini baru permulaan.
