Beberapa hari setelah pertemuan di masjid, Karina dan Adam kembali bertemu di perpustakaan. Kali ini, mereka memang sudah janjian. Karina merasa ada hal yang harus ia tanyakan kepada Adam, pertanyaan yang sudah lama mengendap di hatinya, namun belum pernah ia ungkapkan pada siapa pun.
Mereka duduk di sebuah meja di sudut perpustakaan, di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi. Adam menyapa Karina dengan senyum ramah seperti biasa.
"Jadi, kamu mau tanya apa?" tanya Adam, seolah sudah tahu bahwa Karina memiliki pertanyaan penting.
Karina menarik napas dalam, merangkai kata-kata di kepalanya. "Adam, aku merasa... kosong. Maksudku, aku punya segalanya. Pendidikan bagus, orang tua yang mendukung, kesempatan besar di sini. Tapi rasanya ada yang kurang. Hampa."
Adam mendengarkan dengan saksama, tidak menyela. Ia membiarkan Karina melanjutkan.
"Aku melihatmu di masjid waktu itu," kata Karina pelan. "Kamu terlihat sangat tenang. Damai. Aku melihat hal yang sama dari orang-orang lain yang keluar dari sana. Apa... apa rahasianya?"
Adam tersenyum lembut. "Tidak ada rahasia, Karina. Itu namanya ketenangan hati. Dan ketenangan hati itu datang dari kedekatan kita dengan Sang Pencipta."
"Tapi... kenapa? Kenapa harus ada Sang Pencipta?" tanya Karina, kebingungan. "Bukankah kita bisa bahagia dengan semua yang kita miliki?"
"Kebahagiaan yang kita miliki di dunia ini sifatnya sementara," jelas Adam. "Ia datang dari hal-hal yang fana. Kita bisa bahagia karena punya uang, punya teman, punya pekerjaan bagus. Tapi semua itu bisa hilang kapan saja, kan? Dan kalau itu hilang, apa yang tersisa?"
Karina terdiam. Kata-kata Adam menusuk langsung ke titik sensitif di hatinya. Kekhawatiran itu memang selalu ada, meskipun ia selalu berusaha mengabaikannya. Kekhawatiran bahwa suatu hari, semua yang ia miliki bisa lenyap.
"Tapi kedekatan dengan Sang Pencipta itu beda," lanjut Adam. "Ia abadi. Ia tidak akan pernah hilang. Justru, ketika kita merasa dekat dengan-Nya, kita akan menemukan ketenangan yang sejati. Ketenangan yang tidak tergantung pada apapun di dunia ini."
Karina mendengarkan dengan penuh perhatian. Kata-kata Adam terdengar begitu sederhana, namun membawa beban makna yang begitu besar. Ia teringat kembali pada suara azan yang ia dengar, pada wajah-wajah damai di masjid, dan pada ketenangan yang selalu terpancar dari Adam.
"Jadi... itu sebabnya kamu terlihat tenang?" tanya Karina.
Adam mengangguk. "Itu sebabnya. Karena aku tahu, ada Dia yang selalu bersamaku. Di setiap langkah, di setiap napas. Itu yang membuat hatiku tenang."
Karina merasa ada sesuatu yang bergetar di dalam hatinya. Ia tidak tahu apakah itu ketakutan, harapan, atau perpaduan dari keduanya. Ia merasa seperti berada di ambang sebuah pintu besar, pintu yang selama ini tidak pernah ia sadari keberadaannya. Dan kini, dengan bantuan Adam, ia mulai melihat celah cahaya dari balik pintu itu.
Malam itu, setelah kembali ke apartemennya, Karina tidak langsung tidur. Ia memikirkan semua yang dikatakan Adam. Tentang kebahagiaan yang fana dan ketenangan yang abadi. Ia menyadari, bahwa selama ini, ia hanya mengejar hal-hal yang fana. Dan kini, sebuah jalan baru terbentang di hadapannya. Jalan menuju ketenangan yang sejati. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa memiliki tujuan yang jelas, bukan hanya sekadar ambisi. Ia telah memulai dialog dengan hatinya, dan hatinya menunjuk ke arah yang belum pernah ia bayangkan.
