Hari Jumat pertama Lev di Alaska terasa berbeda. Suhu udara memang menusuk tulang, tetapi dalam hatinya, ada kehangatan yang merindukan suasana salat Jumat di kampung halamannya. Ia merindukan khotbah yang kadang diselingi tawa, aroma wangi dupa yang khas, dan sapaan akrab dari sesama jamaah. Jauh di Anchorage, ia hanya punya satu pilihan: Islamic Community Center of Anchorage (ICCA), yang terletak tidak jauh dari kampus.
Saat Lev berjalan tiba-tiba Cindy menyapa. "Hi Lev mau kemana?"
“ Hi Sindy, mau ke masjid? mau salat Jumat,” Sahut Lev pada Sindy yang sedang asyik mendengarkan musik di kamarnya.
Sindy mengangkat headphone-nya. “Ke masjid? Serius? boleh ikut?"
“Iya. Kenapa mau ikut?” Lev tersenyum.
"Aku mau lihat bagaimana umat Muslim di sini beribadah? Atau mau lihat bagaimana para imam berkhotbah?” Sindy berpikir sejenak. Tapi aku harus pakai apa? Aku tidak punya baju koko sekeren kamu,” candanya.
“Boleh deh, pakai baju yang sopan saja. Dan kamu butuh kerudung. Nanti di masjid ada kok kalau kamu tidak punya tapi di belakang Mesjid aja ya kamunya di tempat istirahat,” jelas Lev.
Sindy mengangguk setuju. Ia lalu memilih pakaian yang paling sopan di lemarinya: celana jeans panjang dan kaus lengan panjang berwarna hitam. Lev mengenakan baju koko terbaiknya dan jaket tebal yang ia pinjam dari Sindy.
Mereka berangkat dengan berjalan kaki, melawan angin dingin yang kencang. Dalam perjalanan, Sindy banyak bertanya tentang masjid.
“Masjid itu sama kayak gereja, kan?”
“Hmm, mirip. Tapi beda. Di masjid, kita salatnya sama-sama. Ada imam yang memimpin. Dan di masjid tidak ada patung atau lukisan,” jelas Lev.
Sindy mengangguk-angguk, mencoba memahami. “Jadi, semua orang salat menghadap ke satu arah yang sama?”
“Betul. Ke Ka’bah, di Mekkah,” jawab Lev.
“Wah, itu jauh sekali, ya? Dari Alaska ke Mekkah. Kamu pasti rindu banget sama kampung halaman,” kata Sindy, dengan nada tulus.
Lev hanya tersenyum. “Begitulah.”
Mereka tiba di ICCA. Bangunannya tidak seperti masjid di Indonesia yang memiliki kubah dan menara menjulang. Bangunan itu lebih mirip rumah atau gedung perkantoran, dengan tulisan Islamic Community Center of Anchorage di depannya. Tepat di sebelahnya, ada sebuah gereja Korea Presbyterian. Pemandangan itu membuat Sindy terkejut.
“Wow, itu… sebelahan?” tanya Sindy, takjub.
“Iya,” jawab Lev, tersenyum. “Di sini kita hidup berdampingan. Ada gereja, ada masjid, bahkan ada tempat parkir yang dipakai bersama.”
Sindy mengangguk-angguk kagum. “Keren.”
Mereka masuk ke dalam. Lev melepaskan sepatunya di area yang telah disediakan. Sindy melihat beberapa orang lain melakukan hal yang sama dan mengikutinya. Di dalam, sudah banyak orang. Bau harum khas masjid langsung menyambut hidung Sindy, membuat dia merasa nyaman.
Seorang pria paruh baya dengan senyum ramah menghampiri mereka.
“Welcome! Are you new here?” sapanya.
“Yes. I’m Lev, from Indonesia. And this is my friend, Sindy,“ jawab Lev.
Pria itu tersenyum pada Sindy. “You need a headscarf, sweetie?”
Sindy mengangguk. Pria itu mencarikan di dalam Mesjid selembar kain yang lembut dan berwarna kalem. Sindy mencoba memakainya, tetapi ia tidak tahu caranya. Lev dengan sabar membantu, membuat Sindy merasa malu-malu.
“It’s okay. Santai saja,” bisik Lev.
Sindy lalu duduk di salah satu karpet yang bersih di belakang Mesjid, memperhatikan para jamaah yang berdatangan dari berbagai etnis dan negara. Ada yang dari Timur Tengah, ada yang dari Asia Selatan, ada juga yang kulit putih. Bahkan ia melihat ada beberapa orang dengan mata sipit yang mirip dengan penduduk asli Alaska.
“Kamu tahu, Lev? Aku pikir semua orang di sini sama,” bisik Sindy. “Ternyata tidak.”
“Islam itu universal, Sindy. Siapa saja bisa jadi Muslim,” kata Lev.
Khutbah dimulai. Lev duduk dengan khusyuk, sementara Sindy mendengarkan dengan penuh perhatian, meskipun ia tidak memahami semua yang diucapkan oleh imam. Ia mengamati gerak-gerik para jamaah yang salat bersama, merasa ada kedamaian yang aneh di sana.
Setelah salat selesai, banyak jamaah yang menyambut Lev dengan ramah. Mereka tahu bahwa Lev adalah mahasiswa baru dari Indonesia. Seorang pria paruh baya dari Timur Tengah menepuk pundak Lev.
“Brother, welcome to Alaska. We are glad to have you here,“ sapanya ramah.
Sindy terharu melihat keakraban itu. Ia merasa seperti melihat keluarga besar yang baru ia kenal. Toleransi yang ia lihat di sini tidak hanya sebatas antaragama, tetapi juga antaretnis.
Saat pulang, Sindy berjalan di samping Lev dengan wajah penuh pikiran.
“Lev, aku jadi berpikir. Selama ini aku pikir orang Islam itu semua sama. Sama-sama kaku, sama-sama… ya begitulah,” katanya, merasa bersalah. “Tapi setelah aku lihat tadi, kalian itu beda-beda. Tapi bisa bersatu.”
Lev tersenyum. “Islam itu kan bukan tentang seragam, Sindy. Tapi tentang hati. Tentang iman. Dan yang paling penting, tentang rahmat,” jelas Lev, mengutip pesan ayahnya.
“Jadi, rahmat itu kayak… toleransi?”
“Bisa jadi. Rahmat itu kasih sayang. Kasih sayang yang diberikan kepada semua orang, tanpa memandang suku, warna kulit, atau bahkan agama,” kata Lev, sambil menatap langit Alaska yang mulai menghitam.
Di tengah dinginnya Alaska, Sindy menemukan sebuah kehangatan yang baru ia sadari. Baju koko Lev, kerudung yang ia coba, khotbah yang tidak ia mengerti, semua itu mengajarkannya tentang toleransi, persahabatan, dan arti rahmat yang universal. Ia tahu, petualangannya bersama Lev di Amerika tidak akan pernah membosankan.
