Keesokan harinya, apartemen Cindy berubah menjadi medan perang yang ganjil. Di ruang tamu, beberapa koper terbuka menganga, menunggu untuk diisi. Cindy sendiri, yang biasanya berpakaian rapi dan profesional, kini hanya mengenakan kaus oblong bergambar unicorn dan celana piyama, sibuk memilah barang-barang.
"Coba cek, ma. Apa aku butuh alat sulap?" teriak Cindy dari ruang tengah, sambil memegang tongkat plastik dan bola merah.
"Alat sulap? Kamu mau ngobati Lev atau bikin pertunjukan sirkus?!" Suara ibunya terdengar jelas dari dapur, diiringi bunyi spatula beradu dengan wajan. Ibunya sedang membuatkan kue untuk bekal Cindy, meski tahu kue itu mungkin tidak akan sampai utuh di Banjarmasin.
Cindy terkekeh. "Siapa tahu Lev butuh distraksi visual, Ma. Lihat ini!" Ia lantas mempraktikkan trik sulap yang gagal, membuat bola merahnya melenting dan jatuh ke bawah sofa. "Kan lucu kalau gagalnya begini."
Ibunya berjalan ke ruang tamu sambil menggelengkan kepala, membawa sepiring kue kering. "Lucu buat kamu, belum tentu buat orang yang lagi berduka, Cindy. Ingat, kamu itu psikolog, bukan badut."
"Mama kok gitu? Kata siapa badut itu bukan psikolog? Mereka juga menyembuhkan, tapi dengan cara yang berbeda." Cindy membela diri, meskipun ia sendiri tahu argumennya agak aneh. Ia mengambil kue kering dan mengunyahnya dengan serius, seolah itu adalah bagian dari misinya.
"Lagipula, Ma, ini lebih dari sekadar liburan. Ini misi 'Operasi Senyum'. Aku harus siap dengan segala kemungkinan." Cindy memasukkan beberapa properti ke dalam koper: kacamata hidung palsu, topi baret berwarna cerah, dan sebuah boneka tangan berbentuk bebek.
Ibunya menatap barang-barang itu dengan tatapan aneh. "Astaga, Cindy. Kamu mau ke Banjarmasin, bukan ke pesta kostum anak-anak. Apa mereka pakai piyama di sana? Kamu yakin mau bawa itu?"
"Tentu saja, Ma. Aku tidak tahu apa yang sedang Lev rasakan. Mungkin dia butuh sesuatu yang aneh untuk mengalihkan pikirannya. Lagipula, ini kan bagian dari terapi humor," jelas Cindy dengan wajah penuh keyakinan. "Humor kan bisa jadi obat paling ampuh, Ma."
"Iya, tapi humor kan juga ada batasnya," kata ibunya, "Jangan sampai kamu malah bikin Lev tambah sedih."
"Aku tahu, Ma. Aku akan tahu kapan harus bertingkah konyol dan kapan harus serius. Itu keahlianku," Cindy berjanji. "Lagipula, ada hal lain yang lebih penting."
Cindy mengeluarkan sebuah kotak kecil dari laci. Di dalamnya ada beberapa buku islami dalam bahasa Indonesia, beberapa lembar doa, dan sebuah tasbih. Ibunya, yang melihat isi kotak itu, tersenyum bangga. Cindy mungkin sering konyol, tapi sisi religiusnya selalu ada.
"Selain koper properti badutmu, bawa juga hati yang tulus," ujar ibunya, mengingatkan.
Cindy memeluk ibunya. "Selalu, Ma. Ini misi tulus. Tapi juga misi paling gokil yang pernah aku lakukan."
Setelah ibunya kembali ke dapur, Cindy melanjutkan persiapan. Ia memikirkan perbedaan budaya antara Dresden dan Banjarmasin. Ia teringat cerita dari Lev tentang panasnya udara dan kentalnya adat istiadat di sana. Cindy memastikan ia membawa pakaian yang sopan, namun tetap nyaman. Ia bahkan memasukkan satu set gamis yang ia beli saat ke Frankfurt, meskipun ia jarang memakainya.
Selesai mengepak, Cindy mengambil laptopnya. Ia mulai mencari informasi tentang Banjarmasin, tentang sungai Martapura, tentang pasar terapung. Ia membayangkan bagaimana ia akan mengajak Lev berkeliling, dan bagaimana ia akan membuat Lev tertawa di tengah semua itu.
Malam itu, di tengah tumpukan barang bawaan, Cindy merasa siap. Bukan hanya sebagai dokter yang akan mengobati, tapi sebagai sepupu yang akan menemani. Ia siap menyeberangi benua, menghadapi culture shock, dan menggunakan segala cara yang ia punya dari trik sulap gagal hingga doa untuk misi "Operasi Senyum"nya. Perjalanan baru akan segera dimulai.
