Pagi kedua di Kandangan. Lev dan Rauf sudah siap memulai eksplorasi. Berbekal sarapan nasi kuning yang dibeli di warung dekat penginapan, mereka memulai perjalanan ke Pasar Los Batu, pusat keramaian kota Kandangan. Pukul tujuh pagi, pasar itu sudah ramai oleh penjual dan pembeli.
"Rauf, ini nih. Human interest!" seru Lev, matanya berbinar melihat keramaian pasar. Ia mengambil kamera, mulai membidik beberapa objek: ibu-ibu yang menawar harga dengan penjual sayur, seorang kakek yang dengan sabar menunggu pembeli, dan anak kecil yang membantu ibunya menjajakan kue.
Rauf berjalan di sampingnya, matanya waspada mengawasi Lev. Pengalaman kemarin saat Lev menabrak seorang ibu-ibu di pasar masih membekas.
"Tugas kita hari ini: cari dodol kandangan. Lalu, Rauf, kita wawancara penjualnya. Biar otentik," usul Lev.
Rauf menghela napas. "Terserah. Tapi jangan bikin keributan, ya."
Mereka menyusuri lorong pasar, mengikuti petunjuk ibu-ibu kemarin. Akhirnya, mereka sampai di warung Ibu Tini. Seorang perempuan paruh baya dengan senyum ramah menyambut mereka.
"Wah, anak muda. Mau cari dodol?" sapanya.
"Iya, Bu. Mau yang paling enak," jawab Lev.
"Semua dodol saya enak. Tapi kalau mau yang paling enak, ya yang rasa original. Manisnya pas, enggak terlalu nyegrak di tenggorokan," Ibu Tini mempromosikan dagangannya.
"Kalau boleh tahu, kenapa dodol ibu bisa seenak ini?" tanya Lev, mengarahkan kamera ke arah Ibu Tini.
"Walah, Nak. Ini mah rahasia. Enggak boleh bocor," jawab Ibu Tini, terkekeh.
Lev tidak menyerah. Ia melihat ke arah wajan besar di belakang Ibu Tini, di mana adonan dodol sedang diaduk-aduk. Lev mengambil inisiatif. "Biar saya bantu aduk, Bu. Biar makin enak."
Ibu Tini kaget. "Walah, enggak usah, Nak. Ini sudah mau matang. Kalau diaduk sama kamu nanti malah gosong."
Lev tidak mendengarkan. Ia mengambil spatula kayu yang disiapkan, dan dengan semangat mengaduk-aduk adonan dodol. Gerakannya cepat, tidak beraturan. Ibu Tini dan Rauf hanya bisa melongo.
"Pelan-pelan, Lev. Nanti tumpah," Rauf mengingatkan.
Brak!
Tiba-tiba, spatula kayu itu patah. Adonan dodol yang setengah matang tumpah ke lantai. Ibu Tini menjerit kaget, Rauf menghela napas pasrah. Lev memegang sisa spatula di tangannya, wajahnya panik.
"Maaf, Bu... aku enggak sengaja," ucap Lev pelan.
Ibu Tini, setelah beberapa saat terdiam, akhirnya tertawa terbahak-bahak. "Aduh, Nak. Kamu ini ada-ada saja. Tenaga kamu terlalu kuat seharusnya pelan-pelan saja. Sudah, sudah, sini biar ibu saja yang lanjutkan. Dodol ibu jadi dodol patah hati kalau kamu yang aduk."
Lev merasa malu, tapi juga geli. Kejadian itu menjadi bahan obrolan lucu di warung itu. Beberapa pembeli yang melihat ikut tertawa. Setelah membeli beberapa bungkus dodol dan lemang, mereka beranjak dari warung Ibu Tini.
"Lev, lain kali kalau mau bantu orang, lihat-lihat dulu keadaannya. Ini dodol ibu Tini hampir gosong gara-gara kamu," Rauf mengomel.
"Kan aku mau bantu, Rauf. Enggak tahu kalau spatulanya rapuh," bela Lev.
Mereka berjalan keluar dari pasar. Di luar pasar, mereka bertemu dengan seorang pedagang es kelapa. Pedagang itu tersenyum melihat mereka.
"Nah, anak muda yang kemarin. Mau coba es kelapa saya?" sapanya.
Ternyata, pedagang itu adalah pak Amang, penjual es kelapa yang juga menjual sayur di pasar. Lev dan Rauf menerima es kelapa dari pak Amang. Es kelapanya terasa segar dan manis, sangat pas untuk menghilangkan penat.
"Gimana, Nak? Seru di sini?" tanya pak Amang.
Lev menceritakan pengalamannya di pasar. Pak Amang tertawa terbahak-bahak.
"Itu namanya pengalaman, Nak. Enggak semua hal harus berjalan mulus. Kadang, dari kesalahan, kita belajar," kata pak Amang bijak.
Lev mengangguk, mencerna kata-kata pak Amang. Kejadian di pasar tadi, meskipun memalukan, ternyata memberikan banyak pelajaran. Ia belajar tentang keramahtamahan warga Kandangan, tentang pentingnya berinteraksi sosial, dan tentang cara membuat dodol yang benar.
"Iya, Pak. Aku jadi tahu, kalau aduk dodol itu enggak bisa sembarangan. Harus pelan-pelan, tapi pasti," kata Lev, tersenyum.
Pak Amang menepuk pundak Lev. "Itu dia. Belajar dari kesalahan. Itu namanya pendewasaan, Nak."
Rauf yang mendengarnya, hanya bisa tersenyum. Kakek Lev, sepertinya berhasil. Sedikit demi sedikit, Lev mulai berubah. Petualangan mereka di Kandangan baru saja dimulai. Kejutan dari kota ini, sepertinya akan terus berdatangan.
