Ribuan kilometer jauhnya dari keriuhan Banjarmasin, di sebuah apartemen minimalis namun elegan di pusat kota Seoul, Aisha Kim (dulunya Kim Sora) sedang menyesap teh boricha hangat sambil membalas email Anindya yang penuh antusiasme. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
Apartemen Aisha mencerminkan kepribadian barunya. Dindingnya yang rapi dihiasi kaligrafi Arab minimalis, dan di salah satu sudut ruangan, rak buku dipenuhi literatur tentang Islam dan buku resep masakan halal. Tidak ada lagi suasana dapur restoran yang penuh tekanan dan teriakan. Yang ada kini hanya ketenangan.
Melalui flashback Aisha, kita dibawa kembali ke masa lalu kelamnya sebagai Kim Sora. Ia adalah chef muda berbakat, bintang baru di dunia kuliner Seoul. Kariernya melesat cepat, menguasai masakan tradisional Joseon hingga kuliner modern bintang lima. Namun, kesuksesan itu datang dengan harga mahal: waktu tidur yang sedikit, tekanan konstan dari atasan, dan kekosongan spiritual yang mendalam.
"Aku punya segalanya, tapi aku merasa tidak punya apa-apa," bisik Aisha pada dirinya sendiri, mengenang masa-masa itu.
Pencerahan itu datang secara tidak terduga. Suatu sore, setelah shift panjang, Sora—yang kelelahan secara fisik dan mental—kabur dari keramaian dan mencari ketenangan di area Istana Gyeongbokgung. Di sana, ia terpesona oleh arsitektur tradisional Korea yang damai dan harmonis dengan alam. Ia merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya, sesuatu yang lebih besar dari sekadar Michelin Star.
Pencariannya berlanjut. Saat berjalan-jalan di kawasan belanja Myeongdong, di tengah lautan manusia dan lampu neon, ia bertemu dengan sekelompok mahasiswa muslim dari Indonesia yang sedang membagikan selebaran tentang Islam. Bukan karena isinya, tapi karena keramahan dan keteduhan wajah mereka, Sora tertarik. Ia mulai mencari tahu, membaca, dan mempelajari Islam secara diam-diam.
"Anindya adalah salah satu orang pertama yang aku hubungi saat itu," kenang Aisha. Anindya, yang saat itu sudah menikah dengan Lev dan tinggal di Indonesia, memberinya dukungan moral dan pengetahuan tentang Islam melalui video call yang intens.
Proses mualaf itu tidak mudah. Keluarganya terkejut, beberapa teman kerjanya menjauh. Namun, Aisha menemukan kekuatan dalam salatnya. Ia meninggalkan dunia restoran yang penuh bahan non-halal dan mulai membangun kembali kariernya sebagai chef pribadi dan konsultan kuliner halal. Ia juga menekuni hobi lamanya: berkebun. Di balkon apartemennya yang kecil, ia mulai menanam sayuran organik secara modern.
Kini, Aisha Kim, sang ahli masak dan ahli kebun, merasa siap untuk sebuah petualangan baru: mengunjungi sahabatnya di Indonesia, negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.
"Mungkin di sana aku bisa menemukan inspirasi baru untuk resep-resep halalku," pikirnya sambil mulai mengepak barang-barangnya. Ada beberapa bumbu khas Korea yang ia masukkan ke dalam koper, dan tak lupa, buku panduan berkebun terbarunya.
Aisha memesan tiket penerbangan dari Bandara Internasional Incheon. Pikirannya melayang pada Anindya yang lincah, Lev yang humoris (Aisha sudah sering mendengar cerita Lev yang lucu dari Anindya), dan keempat anak mereka yang pasti sudah besar.
"Banjarmasin... Serambi Mekkah di Kalimantan," gumam Aisha. "Aku datang."
Di Banjarmasin, Anindya sudah sibuk di depan laptopnya. Ia sedang membuat daftar belanja daring terbesar dalam sejarah keluarga Ryley.
"Oke, Lev, dengarkan baik-baik," kata Anindya, matanya menatap layar laptop dengan fokus seorang jenderal perang. "Kita butuh humidifier biar Aisha tidak kaget dengan udara kering di sini, smart garden kit yang bisa dikontrol pakai aplikasi untuk Aisha berkebun, dan satu set panci non-stick terbaru."
Lev, yang sedang membenahi tumpukan paket seminggu lalu, hanya bisa mengangguk pasrah. "Siap, Umi. Credit card Abi sudah siap sedia untuk berjuang," jawabnya dramatis.
Ghina dan Rayyan lewat di belakang ayah mereka, saling berbisik. "Ayah kasihan ya, Kak," kata Rayyan. Ghina hanya tertawa.
Malam itu, di dua belahan bumi yang berbeda, Anindya dan Aisha sama-sama memandang langit. Mereka berdua tidak sabar untuk reuni, sebuah pertemuan yang melampaui batas geografis dan budaya, disatukan oleh persahabatan lama dan ikatan iman yang baru. Anindya siap dengan strategi belanjanya, dan Aisha siap dengan resep serta kisah inspiratifnya. Banjarmasin siap menyambut Seoul.
