Kehidupan kampus mulai menemukan ritmenya. Lev semakin terbiasa dengan bahasa Inggris yang kadang masih ia ucapkan dengan aksen Banjarmasin yang kental, dan Sindy semakin akrab dengan berbagai istilah dari Kalimantan yang kadang Lev selipkan tanpa sadar. Persahabatan mereka menjadi pemandangan yang menarik bagi mahasiswa lain: seorang pria dari Indonesia dengan baju koko dan jaket tebal, berjalan beriringan dengan seorang wanita berambut ungu dengan gaya pakaian yang unik. Mereka seperti dua kutub yang berlawanan, tetapi somehow mereka cocok.
Suatu sore, mereka sedang makan di kantin kampus. Hari itu, menu makanannya cukup beragam, tapi Lev tetap memilih menu yang paling aman: salad dan roti panggang. Sindy mengambil porsi yang lebih banyak dengan lauk pauk yang beraneka macam.
“Lev, kenapa sih makanannya itu-itu aja?” tanya Sindy, sambil mengamati piring Lev. “Kamu nggak bosan?”
“Aku harus hati-hati, Sindy. Makanan di sini banyak yang tidak halal,” jawab Lev. “Jadi lebih baik pilih yang aman saja.”
“Apa yang bikin nggak halal?” tanya Sindy, dengan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
“Babi. Atau makanan lain yang dimasak bersama-sama dengan babi,” jelas Lev.
“Oh… jadi maksudmu, kalau ada babi yang nyasar terus masuk ke dalam sup sayur, sup itu jadi haram?” Sindy bertanya dengan wajah polos, membuat Lev harus menahan tawa.
“Tidak begitu juga, Sindy. Maksudnya, kalau masaknya pakai daging babi, ya tidak boleh. Kalau panci yang dipakai untuk masak babi, dipakai untuk masak sayur, juga tidak boleh,” jelas Lev, sabar.
Sindy mengangguk-angguk, "Ohhh... Jadi, panci juga bisa dosa, ya?"
“Panci tidak dosa, Sindy. Tapi kita yang makan makanan itu yang berdosa,” kata Lev, menahan diri untuk tidak terbahak.
Sindy terbahak mendengar jawaban Lev. "Hahahaha... lucu banget sih, Lev! Aku kira panci juga bisa masuk neraka karena udah berbuat dosa."
Di tengah percakapan ringan itu, seorang profesor dari jurusan arsitektur, Profesor Anderson, yang terkenal galak dan perfeksionis, lewat di meja mereka. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat kaku dan disiplin. Lev, yang pernah mengambil mata kuliahnya, sangat menghormati beliau.
“Good afternoon, Professor,” sapa Lev, dengan sedikit canggung.
Profesor Anderson mengangguk, menatap sekilas piring makanan Lev dan Sindy. Ia melihat piring Sindy yang berisi banyak lauk, dan piring Lev yang terbilang sedikit.
“Mr. Ryley, saya rasa kamu tidak akan bisa fokus kuliah kalau makanmu sedikit seperti itu,” kata Profesor Anderson, dengan nada khasnya yang dingin. “Otak butuh energi. Jangan terlalu hemat.”
Lev bingung mau menjawab apa. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa ia harus memilih-milih makanan karena alasan halal. Sindy, yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba menimpali.
“Profesor, Lev bukan hemat. Dia lagi diet. Lagi nge-gym biar punya otot kayak Chris Hemsworth,” kata Sindy, dengan wajah serius, membuat Lev terkejut.
Profesor Anderson terdiam, menatap Lev dari atas ke bawah. “Oh, saya tidak tahu. Kalau begitu, lanjutkan. Tapi jangan sampai nilaimu jelek karena fokusmu terpecah,” kata Profesor Anderson, lalu pergi.
Lev menatap Sindy dengan wajah syok. "Sindy! Kenapa kamu bilang begitu?"
Sindy tertawa terbahak-bahak. "Kenapa? Itu kan lucu, Lev! Dia pasti berpikir kamu sedang berjuang jadi binaragawan," katanya.
"Aku tidak bisa bohong begitu!"
"Aku tidak bohong! Aku hanya memberikan penjelasan yang lebih logis di mata orang-orang sini," jawab Sindy, sambil tertawa.
Perbincangan mereka menarik perhatian beberapa mahasiswa lain. Salah satu dari mereka, seorang mahasiswi bule bernama Clara, menghampiri mereka.
"Kamu mau nge-gym bareng kita, Lev?" tanya Clara, dengan senyum ramah. "Aku dan teman-teman ke gym setiap sore."
Lev semakin panik. Ia tidak pernah pergi ke gym. Di Banjarmasin, olahraganya ya berenang di sungai atau bermain bola di lapangan kampung. Mana ia tahu cara memakai alat-alat di gym yang terlihat rumit itu?
"Aku... aku... aku tidak bisa..." jawab Lev, gagap.
"Oh, ayolah. Tidak usah malu. Aku dan Sindy bisa ajari kamu kok," kata Clara, mengira Lev malu-malu.
Lev menatap Sindy dengan wajah memohon. Sindy, yang masih tertawa geli, mencoba menahan tawanya.
"Ehm... Lev lagi sibuk. Dia lagi proyek bareng aku," kata Sindy, berbohong lagi.
Clara mengangguk, "Oh... ya sudah. Lain kali, ya."
Setelah Clara pergi, Lev langsung menatap Sindy. "Sindy, kamu ini bikin masalah terus, ya?"
"Masalah? Ini bukan masalah! Ini komedi, Lev! Komedi yang tidak direncanakan," kata Sindy, sambil mengedipkan mata.
Lev hanya bisa menggelengkan kepala. Ia tahu, persahabatan dengan Sindy akan penuh dengan kejutan. Tapi di sisi lain, ia juga bersyukur. Di balik tingkahnya yang kadang konyol, Sindy telah membantunya beradaptasi dengan lingkungan baru. Dan yang terpenting, ia tidak pernah sendirian. Di Alaska yang dingin, ia menemukan kehangatan dari seorang teman yang berbeda, tapi tulus.
