Mulai dari Pantai Santa Monica: Petualangan Khalisah di Pesisir California yang Penuh Tawa dan Inspirasi Islami
Rencana itu bermula dari secangkir teh panas dan obrolan larut malam di apartemen kecil di Jakarta Selatan. Khalisah, si penggagas ide gila ini, memandang kedua sahabatnya dengan mata berbinar-binar. Di hadapannya duduk Amina, si organisator ulung dengan planner yang selalu rapi, dan Zahra, si paling spontan yang sering kali menjadi sumber kekacauan—sekaligus komedi—dalam hidup mereka.
"Serius, Lis? Amerika?" tanya Amina, alisnya terangkat skeptis. "Dua puluh lima pantai? Kamu yakin kita punya cukup cuti?"
Khalisah tersenyum penuh rahasia. "Cuti bisa diatur, Min. Yang nggak bisa diatur itu kesempatan emas ini. Sabbatical dari kantor. Tiket promo yang cuma muncul sekali seumur hidup. Ini takdir, Min! Takdir untuk mengagumi ciptaan Allah di belahan bumi lain."
Zahra, yang sejak tadi sibuk scroll Instagram, tiba-tiba berseru, "Aku vote setuju! Aku sudah bosan lihat pantai Ancol mulu. Aku butuh aesthetic view buat feed Instagram-ku!"
Maka, setelah tiga bulan persiapan yang melibatkan drama visa, riset makanan halal yang melelahkan, dan meyakinkan keluarga besar bahwa mereka akan baik-baik saja di negeri Paman Sam, tibalah mereka di Los Angeles International Airport (LAX).
Udara California menyambut mereka dengan kehangatan yang kontras dengan AC bandara yang dingin menusuk tulang. Ketiga sahabat itu saling pandang, senyum lebar merekah di wajah mereka yang sedikit kusam karena penerbangan panjang 18 jam.
"Bismillah," ucap Khalisah, memegang erat tas ranselnya. "Petualangan kita dimulai."
Tantangan pertama bukanlah jetlag, melainkan menyewa mobil. Mereka menuju konter penyewaan mobil, di mana seorang agen muda berkulit sawo matang menyambut mereka.
"Selamat datang di LA, nona-nona. Butuh mobil apa? SUV? Sedan?" tanyanya ramah.
"Kami butuh mobil yang muat tiga koper besar, tiga ransel, dan paling penting... irit bensin," jawab Amina tegas, mengeluarkan daftar ceklisnya.
Khalisah menambahkan, "Dan tolong, yang bisa kami pakai untuk road trip panjang. Dari sini sampai ke ujung timur Amerika."
Agen itu mengerjap. "Sebentar, nona. Rute Anda lumayan jauh. Apa Anda yakin?"
Zahra menyela, "Yakin banget, Mas! Kalau kata Khalisah, kita ini 'pejuang takdir'. Pokoknya kasih kita mobil yang kuat, tangguh, dan nggak rewel!"
Agen itu, yang kemudian diketahui bernama David, hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa. "Baiklah, para pejuang takdir. Saya punya Ford Escape terbaru. Lumayan irit dan ruang bagasinya cukup besar."
Setelah proses administrasi yang memakan waktu satu jam lebih—karena Amina menanyakan setiap detail asuransi—mereka akhirnya mendapatkan kunci mobil mereka.
"Oke, tujuan pertama kita!" seru Khalisah saat mereka duduk di dalam mobil sewaan yang masih berbau baru. "Pantai Santa Monica!"
Mereka berkendara menuju pantai ikonik tersebut. Jalanan LA yang padat membuat mereka sempat sedikit tegang, tetapi pemandangan palem di sepanjang jalan dan vibe kota yang berbeda dari Jakarta berhasil mengalihkan stres mereka. Mereka menyetel playlist nasyid favorit mereka keras-keras, membuat perjalanan terasa lebih hidup.
Tiba di Santa Monica, mereka langsung disambut oleh keramaian khas California Selatan. Matahari bersinar terik, memantulkan cahaya keemasan di atas pasir pantai. Pantai Santa Monica adalah simbol klasik West Coast, dengan Ferris Wheel raksasa di dermaganya yang terkenal, Pier Santa Monica.
"Masya Allah," bisik Khalisah, melepas kacamata hitamnya. "Lihatlah luasnya samudra itu. Benar-benar tiada batas."
Amina sibuk mencari spot foto yang pas, sementara Zahra langsung berlari kecil ke arah bibir pantai, terlepas dari peringatan Amina agar tidak terlalu dekat dengan air karena ombaknya cukup besar.
"Zahra! Jilbabmu basah nanti!" teriak Amina.
Zahra hanya tertawa riang, membiarkan ujung gamisnya sedikit tersentuh buih ombak. "Sekali-kali, Min! Rasain California!"
Mereka berjalan menyusuri dermaga kayu yang ramai. Ada pedagang kaki lima, pemain musik jalanan, dan aroma churros serta popcorn yang menguar di udara. Di tengah keramaian itu, mereka tetap menjaga adab dan penampilan Islami mereka, yang kadang menarik perhatian, tetapi lebih sering disambut dengan senyum ramah.
"Aku lapar," kata Khalisah tiba-tiba. "Mari kita cari makan siang halal. Misi pertama: Burger Halal di LA!"
Pencarian makanan halal selalu menjadi unsur komedi tersendiri dalam perjalanan mereka. Setelah membuka aplikasi HalalGuide, mereka menemukan sebuah kedai burger kecil tak jauh dari pantai. Sambil menikmati burger mereka, mereka merencanakan sisa hari itu.
"Habis ini kita salat Zuhur dulu, baru jalan-jalan lagi di sekitar sini," usul Amina. "Aku sudah cek, ada musala kecil di dekat tempat parkir."
Mereka menjalankan salat Zuhur di sebuah ruangan kecil yang disulap menjadi musala darurat. Di sana, mereka bertemu dengan keluarga imigran dari Iran yang juga sedang dalam perjalanan. Obrolan singkat tentang indahnya keragaman umat Muslim di berbagai negara semakin menguatkan niat tulus mereka untuk melakukan perjalanan ini—bukan sekadar liburan, tapi perjalanan untuk mengagumi keagungan Allah SWT.
Saat sore menjelang, langit Santa Monica berubah menjadi palet warna oranye, merah muda, dan ungu yang menakjubkan. Ketiganya duduk di pasir pantai, menyaksikan matahari perlahan tenggelam di cakrawala Pasifik.
"Perjalanan ini pasti akan jadi sesuatu yang nggak akan kita lupakan," kata Khalisah, matanya menerawang jauh.
Zahra mengangguk setuju. "Asal jangan lupa charger ponselku aja besok," candanya, mengundang tawa dari kedua sahabatnya.
Babak pertama perjalanan mereka di Pantai Santa Monica selesai dengan hati yang penuh rasa syukur dan memory card kamera yang penuh dengan foto. Mereka kembali ke mobil, siap untuk petualangan pantai kedua esok hari. Di balik kemudi, Khalisah bergumam, "Satu pantai selesai. Dua puluh empat pantai lagi. Bismillah, kita bisa!"
