Kembali ke pondok, suasana yang tadinya hangat karena api unggun kini terasa dingin dan tegang, lebih dingin dari udara Siberia di luar. Pilihan yang disodorkan Arion membebani hati setiap anggota tim. Mereka semua tahu arti dari pengorbanan, tetapi memilih siapa yang akan mengorbankan diri adalah hal yang mustahil.
"Aku akan melakukannya," kata Cindy, memecah keheningan. Matanya memancarkan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku adalah tank, pelindung kalian. Tugasku adalah untuk melindungi kalian semua. Ini adalah tugas terakhirku."
"Tidak," sahut Vania dengan suara keras. "Kamu adalah pelindung kami di garis depan. Tanpa perisaimu, kita tidak akan selamat dari banyak pertempuran. Perhitungan saya menunjukkan bahwa peluang kita untuk berhasil di masa depan akan menurun drastis tanpamu."
"Itu hanya teori, Vania," jawab Cindy. "Kadang, kau harus berkorban untuk mencapai tujuan yang lebih besar."
"Bagaimana dengan aku?" Anatasya, yang biasanya pendiam, kini berbicara. "Aku adalah yang paling gesit. Aku bisa mencapai jantung itu dengan cepat dan menyuntikkan kristal. Mungkin ini yang terbaik."
Lev menatap Anatasya, lalu ke Cindy, dan akhirnya menatap api unggun. "Bukan. Aku yang akan melakukannya. Aku adalah pemimpin. Tanggung jawab ini ada di pundakku."
"Kau gila," kata Andriy, yang selama ini diam. "Kau adalah yang terkuat dari kita. Tanpamu, kita tidak akan bisa mengalahkan musuh-musuh yang lebih kuat di masa depan. Kita masih butuh kekuatanmu."
"Kau juga kuat, Andriy. Jangan meremehkan dirimu," jawab Lev. "Panahmu adalah kunci di banyak pertempuran."
Mereka berdebat sepanjang malam. Mereka membahas setiap kemungkinan, setiap skenario. Tetapi tidak ada jawaban yang memuaskan. Setiap anggota tim menawarkan diri untuk berkorban, tetapi yang lain selalu menemukan alasan untuk menolak.
Vania, dengan ekspresi frustrasi, memukul meja kayu. "Ini tidak ada gunanya. Kita tidak bisa memutuskan ini. Ini bukan pilihan yang bisa kita buat."
