Akhir pekan tiba, dan Perth menyambut Lev serta Jessica dengan sinar matahari yang cerah. Jessica, dengan semangatnya yang membara, mengajak Lev untuk menjelajahi keindahan kota kelahirannya. "Hari ini, aku akan menjadi pemandu wisatamu. Tur pribadi keliling Perth," katanya sambil tersenyum lebar.
Tujuan pertama mereka adalah Kings Park, salah satu taman kota terbesar di dunia yang terletak di atas Bukit Eliza. Dari sana, Lev bisa melihat pemandangan kota Perth yang membentang indah, dengan Sungai Swan yang berkelok-kelok di bawahnya. Jauh berbeda dari pemandangan Sungai Martapura di Banjarmasin, namun sama-sama memukau.
"Taman ini adalah tempat favoritku untuk bersantai," cerita Jessica. "Banyak orang datang ke sini untuk piknik, jalan-jalan, atau sekadar menikmati matahari terbenam."
Mereka berjalan santai di antara pepohonan eukaliptus yang tinggi, menghirup udara segar yang jarang ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota. Lev mengamati orang-orang yang berinteraksi dengan ramah, dan merasakan ketenangan yang menguasai tempat itu. Di salah satu sudut, Lev melihat sebuah tugu peringatan perang.
"Ini monumen untuk para pahlawan yang gugur dalam perang," jelas Jessica.
Lev mengangguk, terkesan. Ia teringat cerita ayahnya tentang para pahlawan Banjar yang berjuang untuk kemerdekaan. "Setiap bangsa punya pahlawan. Kita harus menghormati mereka yang telah berkorban," katanya.
"Kamu benar," Jessica mengangguk setuju.
Setelah menghabiskan waktu di Kings Park, mereka melanjutkan petualangan ke Rottnest Island. Perjalanan menuju pulau itu menggunakan feri yang berangkat dari Fremantle. Angin laut menerpa wajah mereka saat feri melaju membelah ombak.
Di pulau tersebut, keindahan alam yang masih sangat alami menyambut mereka. Pasir putih bersih, air laut yang jernih, dan pemandangan bawah laut yang memukau. Namun, yang paling menarik perhatian Lev adalah hewan khas yang menjadi ikon pulau ini: Quokka.
"Mereka hewan paling bahagia di dunia!" seru Jessica sambil menunjukkan seekor Quokka yang sedang memakan daun di dekat semak.
Quokka, dengan senyumnya yang khas dan tingkah lakunya yang menggemaskan, langsung membuat Lev terpikat. Ia mengambil beberapa foto bersama Quokka, tentu saja dengan mengambil jarak aman agar tidak mengganggu hewan tersebut. Tawa Lev pecah saat Quokka itu dengan berani mendekatinya, seolah-olah ingin berinteraksi.
"Lucu sekali," kata Lev sambil tertawa. "Tidak menyangka bisa bertemu mereka di sini."
Di tengah-tengah perjalanan, waktu shalat asar pun tiba. Jessica, yang sudah hafal kebiasaan Lev, bertanya, "Sudah waktunya shalat, ya?"
Lev mengangguk. "Iya."
"Bagaimana kalau kita cari tempat yang sepi lagi? Di dekat pantai sana mungkin," usul Jessica.
Mereka menemukan sebuah area berumput yang sepi di dekat pantai. Lev menggelar sajadahnya, menghadap kiblat yang sudah ia pastikan. Jessica duduk di atas pasir, menjaga tas-tas mereka sambil mengamati.
Kali ini, Jessica tidak lagi bertanya dengan kebingungan. Ia hanya duduk tenang, menghormati gerakan ibadah Lev. Setelah selesai, Lev duduk bersila di samping Jessica.
"Kamu terlihat damai saat shalat," kata Jessica pelan. "Aku bisa merasakan ketenanganmu."
Lev tersenyum. "Alhamdulillah. Itu adalah anugerah dari Allah, Jess."
Mereka berdua menikmati senja di tepi pantai Rottnest Island. Matahari perlahan-lahan tenggelam di cakrawala, menciptakan pemandangan yang indah dengan gradasi warna jingga, ungu, dan merah. Lev mengambil ponselnya dan memotret pemandangan itu.
"Aku akan kirim ini ke keluargaku di Banjarmasin. Mereka pasti senang melihatnya," kata Lev.
"Tentu. Aku juga akan memotretmu dengan latar belakang ini," ujar Jessica.
"Aku juga akan mengambil gambarmu dengan latar belakang yang sama," kata Lev. "Ini akan menjadi kenangan yang tak terlupakan."
Mereka berdua berfoto, dengan senyum lebar dan latar belakang senja yang mempesona. Lev merasa bersyukur. Di negeri yang jauh, ia tidak hanya menemukan ilmu, tapi juga persahabatan sejati. Perbedaan tidak lagi terasa sebagai penghalang, melainkan sebagai jembatan yang menghubungkan dua dunia yang berbeda. Dan Kings Park serta Rottnest Island menjadi saksi bisu dari persahabatan unik mereka.
