Kemenangan gemilang di Sungai Barito adalah cambuk bagi Pangeran Tumenggung. Kabar kekalahan pasukannya membuat dirinya semakin paranoid. Di dalam istana, ia mengumpulkan semua pembesar, memaki-maki mereka, dan menuduh mereka berkhianat. Namun, ia tidak tahu bahwa ancaman sebenarnya sedang datang. Samudra, dengan pasukan gabungan dari gerilyawan, perompak, dan prajurit Demak, kini bergerak menuju Daha.
Taktik yang digunakan Samudra adalah pengepungan. Ia tahu, menyerbu Daha secara langsung akan memakan banyak korban. Pengepungan akan membuat Daha kelaparan, dan memaksa Tumenggung untuk menyerah. Namun, ia tidak akan melakukan pengepungan biasa. Ia akan menggunakan taktik gerilya dan pertempuran air yang telah mereka kuasai untuk mengisolasi Daha dari luar.
Samudra memerintahkan Sangkuriang dan para perompaknya untuk menguasai jalur-jalur sungai yang menuju Daha. Mereka harus mencegat semua kapal yang mencoba masuk atau keluar, baik itu kapal dagang maupun kapal perang. Dengan begitu, mereka akan memblokade pasokan makanan dan senjata ke Daha. Sangkuriang, dengan mata yang liar, menyambut tugas itu dengan antusias. "Kami akan memastikan tidak ada yang bisa keluar masuk Daha, Pangeran," katanya.
Sementara itu, Bagus dan para gerilyawannya akan menguasai hutan-hutan di sekitar Daha. Mereka akan menggunakan taktik perang hutan mereka untuk memutus jalur darat. Mereka akan menyerang patroli-patroli Tumenggung, menyabotase logistik, dan membuat kekacauan di luar tembok kota. Bagus, dengan wajahnya yang tegas, mengangguk setuju. "Kami akan membuat Tumenggung merasa seperti dikepung dari segala arah, Pangeran," katanya.
Pasukan Demak, di bawah pimpinan Khatib Dayyan, akan berada di barisan terdepan, mengawasi pergerakan Tumenggung dari jarak dekat, dan memberikan dukungan kepada pasukan Samudra. Mereka akan membangun benteng-benteng kecil di sekitar Daha, dan menunggu saat yang tepat untuk menyerang.
Di Daha, Pangeran Tumenggung merasakan pengepungan. Pasokan makanan dan senjata semakin menipis. Rakyat mulai kelaparan, dan para prajurit mulai lelah. Tumenggung mencoba untuk mengirim pasukan untuk memecah pengepungan, tetapi pasukan Sangkuriang yang tangguh dan pasukan Bagus yang lincah selalu berhasil mengalahkan mereka.
Khatib Dayyan, ulama dari Demak, juga menggunakan taktik diplomasi. Ia mengirimkan utusan ke Daha, mencoba untuk bernegosiasi dengan Tumenggung. "Kami tidak ingin pertumpahan darah," katanya. "Kami hanya ingin keadilan. Jika kau menyerahkan takhta, kami akan memastikan kau hidup damai."
Namun, Tumenggung menolak. Ia tidak mau menyerah. Ia tahu, menyerah berarti kehilangan segalanya. Ia memilih untuk bertarung sampai akhir. Pengepungan berlangsung selama berminggu-minggu. Rakyat Daha semakin menderita. Mereka mulai memberontak. Mereka menuntut Tumenggung untuk menyerah. Namun, Tumenggung tetap keras kepala.
Samudra, melihat penderitaan rakyat Daha, merasa sedih. Ia tidak ingin melihat rakyatnya sendiri menderita. Ia memutuskan untuk mengakhiri pengepungan. Ia merencanakan serangan besar ke Daha.
Bab ini berakhir dengan pasukan Samudra yang bersiap untuk serangan terakhir. Mereka telah mengepung Daha selama berminggu-minggu, dan kini, saatnya untuk menyerang. Samudra berdiri di atas sebuah bukit, memandang ke arah Daha. Ia tahu, pertempuran ini akan menjadi yang paling sengit. Tetapi ia juga tahu, ini adalah pertempuran yang harus ia menangkan. Untuk rakyatnya, untuk Banjar, dan untuk keadilan. Dengan tekad yang membara, ia mengayunkan pedangnya, dan memerintahkan pasukannya untuk menyerbu. Pertarungan terakhir telah dimulai.
