Musim dingin di Anchorage membawa banyak tantangan, terutama bagi seseorang yang lahir dan besar di iklim tropis. Salju yang tebal dan jalanan yang licin menjadi pemandangan sehari-hari yang harus Lev hadapi. Ia yang tidak terbiasa, beberapa kali hampir terpeleset di koridor kampus yang basah atau di trotoar yang dilapisi es.
Sindy, yang sudah lama hidup di Alaska, menganggap hal ini sebagai hiburan. Ia sering tertawa melihat Lev berjalan dengan sangat hati-hati, seolah takut menginjak ranjau darat. Namun, di balik tawanya, ia adalah teman yang paling peduli.
Suatu pagi, saat mereka berjalan bersama menuju kelas, Lev melangkah di atas es yang tidak terlihat. Kakinya tergelincir dan ia hampir jatuh, tetapi dengan sigap, Sindy menangkap lengannya. Sindy, yang tubuhnya tidak sebesar Lev, kesulitan menahan berat badan Lev. Akhirnya, mereka berdua jatuh bersamaan, membuat mereka berdua tertawa lepas.
"Dasar Lev! Jalan kayak robot aja jatuh," ledek Sindy, sambil tertawa.
"Aku bukan robot, Sindy. Aku hanya tidak terbiasa dengan es," balas Lev, sambil menyeka sisa salju dari jaketnya.
Sejak saat itu, Sindy menaruh perhatian lebih pada Lev. Ia sering berjalan di samping Lev, memastikan Lev tidak jatuh. Bahkan ia membuat sebuah peraturan lucu: setiap kali Lev hampir jatuh, ia harus membayar Sindy satu porsi nasi kuning. Lev, yang sudah terbiasa dengan tingkah Sindy, hanya bisa menggelengkan kepala.
Di sebuah siang, setelah kuliah selesai, Lev memiliki tugas untuk mengambil beberapa buku referensi dari perpustakaan. Ia berjalan sendirian, karena Sindy ada kelas lain. Tiba-tiba, ia melihat beberapa mahasiswa berkumpul di depan pintu keluar. Salah satu dari mereka, seorang mahasiswa yang dikenal karena sering membuat onar, terlihat sedang membully seorang mahasiswa lain.
Mahasiswa yang dibully itu terlihat ketakutan. Ia memegang sebuah tas, dan mahasiswa onar itu berusaha merebutnya.
"Sini, berikan saja. Kau tidak butuh uang sebanyak itu," kata mahasiswa onar itu, dengan nada mengancam.
Lev, yang menyaksikan kejadian itu, tidak bisa tinggal diam. Ia ingat pesan ayahnya. Menebar rahmat.
Dengan keberanian yang entah datang dari mana, Lev menghampiri mereka.
"Ada masalah apa di sini?" tanya Lev, dengan suara yang tegas.
Mahasiswa onar itu menoleh. Ia menatap Lev dari atas ke bawah, melihat baju koko yang dipakai Lev. "Bukan urusanmu, piyama," katanya sinis.
Lev mengabaikan sindiran itu. "Bukan piyama. Ini baju koko. Dan ini urusanku. Kau tidak bisa melakukan ini," kata Lev.
Mahasiswa onar itu tertawa. "Kau pikir bisa menghentikanku? Kau pikir dengan baju koko itu kau bisa jadi pahlawan?"
Sebelum Lev bisa menjawab, Sindy, yang kebetulan lewat, melihat kejadian itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri.
"Ada apa ini? Lepaskan dia," kata Sindy, dengan nada tegas.
Mahasiswa onar itu terkejut. Sindy adalah salah satu mahasiswa yang paling populer di kampus, dan ia tidak ingin berurusan dengannya.
"Sindy... aku... aku hanya bercanda," kata mahasiswa onar itu, mencoba membela diri.
"Tidak ada yang lucu. Pergi dari sini. Sekarang," kata Sindy, dengan tatapan tajam.
Mahasiswa onar itu akhirnya pergi dengan wajah kesal. Mahasiswa yang dibully itu, dengan mata berkaca-kaca, mengucapkan terima kasih kepada Sindy dan Lev.
"Terima kasih banyak. Kalian berdua... kalian sangat baik," katanya, lalu pergi.
Sindy menatap Lev. "Kenapa kamu diam saja? Kamu mau dia ambil tasnya?"
"Aku... aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut," aku Lev, jujur.
"Takut tidak apa-apa, Lev. Tapi bukan berarti kamu tidak bisa berbuat sesuatu," kata Sindy. "Yang paling penting, kamu harus punya keberanian untuk membela yang benar."
Lev mengangguk. "Terima kasih, Sindy. Kamu menyelamatkanku."
"Menyelamatkanmu dari apa? Dari kekonyolanmu sendiri?" Sindy terkekeh. "Aku yang seharusnya bilang begitu. Kamu memberiku keberanian. Aku belajar dari kamu untuk tidak takut."
Di tengah dinginnya Alaska, di tengah keramaian kampus yang padat, dua orang yang berbeda agama dan budaya itu menemukan kesamaan dalam hati mereka: keinginan untuk berbuat baik. Lev, dengan bajunya yang khas, dan Sindy, dengan rambutnya yang unik, saling melengkapi. Mereka adalah tim. Dan petualangan mereka baru saja dimulai.
