Setelah penerbangan panjang dari Dresden, Cindy akhirnya tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Jam menunjukkan pukul 11 malam, namun hiruk pikuk khas bandara internasional masih terasa. Aroma khas masakan Indonesia yang samar-samar tercium di udara membuat perutnya keroncongan. Di balik lelahnya, semangat "Operasi Senyum" tetap membara.
"Maaf, apa ini pintu keluar menuju taksi?" tanya Cindy pada seorang petugas yang sedang lewat, menggunakan bahasa Indonesia yang sedikit terbata-bata.
Petugas itu tersenyum ramah. "Iya, Mbak. Tapi kalau mau pesan taksi, bisa lewat aplikasi."
Cindy mengangguk, berusaha memahami. Di Dresden, segalanya teratur. Namun di sini, ia merasakan energi yang berbeda, sebuah dinamika yang membingungkan tapi menarik. Saat ia sedang sibuk mencari taksi, koper unicornnya yang dihiasi stiker-stiker warna-warni terseret di belakangnya. Tiba-tiba, tali koper itu putus.
"Oh, verdammt!" seru Cindy secara refleks. "Bukan sekarang!"
Koper itu terguling, isinya berhamburan. Celana piyama unicornnya, kacamata hidung palsu, dan boneka bebeknya tersebar di lantai bandara yang ramai. Beberapa orang menoleh, menahan tawa. Cindy, yang biasanya tenang, kini panik. Ia segera berjongkok, mencoba mengumpulkan barang-barangnya, sementara wajahnya memerah.
"Butuh bantuan, Mbak?" tanya seorang pria muda yang kebetulan lewat.
Cindy mendongak, melihat seorang pemuda berkemeja batik dan wajah yang ramah. "Ya ampun, maaf, ini berantakan sekali," kata Cindy, merasa malu.
Pemuda itu tersenyum geli melihat barang-barang bawaan Cindy yang tak biasa. "Santai saja, Mbak. Sini saya bantu."
Dengan sigap, pemuda itu membantu Cindy mengumpulkan barang-barang, termasuk kacamata hidung palsu yang nyaris terinjak. Saat memegang boneka bebek, ia tak bisa menahan tawanya. "Ini boneka lucu sekali. Apa Mbak mau jadi badut?"
Cindy tertawa kecil, sedikit lega karena pemuda itu tidak menertawakannya dengan sinis. "Kurang lebih. Ini buat misi khusus. Misi 'Operasi Senyum'," jelasnya, sambil menunjuk kacamata hidung palsunya. "Targetnya sepupu saya yang lagi sedih."
Pemuda itu mengangguk mengerti. "Wah, mulia sekali. Semoga sukses, ya, Mbak. Oiya, nama saya Raka."
"Cindy," balas Cindy sambil menjabat tangan Raka. "Terima kasih banyak, Raka. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku sudah diusir satpam karena bikin bandara kayak pasar loak."
Setelah barang-barangnya terkumpul kembali dan diikat dengan tali cadangan, Raka mengantarkan Cindy ke area taksi. "Mbak ke mana? Kalau searah, saya bisa antar," tawar Raka.
"Saya mau ke hotel dekat bandara dulu. Besok pagi baru lanjut terbang ke Banjarmasin."
"Wah, Banjarmasin. Kota seribu sungai. Semoga betah, ya."
Selama perjalanan ke taksi, mereka mengobrol santai. Raka banyak bercerita tentang Jakarta dan sedikit tentang Indonesia, sementara Cindy menceritakan sedikit tentang Dresden. Interaksi ini membuat Cindy merasa lebih nyaman dan bersemangat. Ia menyadari bahwa di balik segala kekacauan yang ada, ada kehangatan dan keramahan yang tulus.
Setibanya di hotel, Cindy mengucapkan terima kasih sekali lagi pada Raka. Raka melambaikan tangan sambil tersenyum. "Sampai jumpa, Cindy. Semoga misi 'Operasi Senyum'-nya berhasil!"
Di kamar hotel, Cindy merenung. Insiden di bandara tadi mungkin memalukan, tapi juga mengingatkannya pada satu hal penting: bahwa di tempat asing sekalipun, selalu ada kebaikan yang bisa ditemui. Pengalaman kecil itu memberinya energi ekstra. Ia tahu, di Banjarmasin nanti, ia harus siap menghadapi hal-hal yang tak terduga, dan mungkin saja, hal-hal tak terduga itulah yang akan menjadi kunci untuk menyentuh hati Lev.
Ia meraih ponselnya, mengetik pesan untuk keluarganya di grup obrolan. "Jakarta sukses membuatku jadi badut bandara. Misi berlanjut ke Banjarmasin besok. Doakan aku, ya! Jangan kaget kalau nanti lihat berita 'turis Jerman bikin heboh bandara'.. hehe."
Pesan itu dibalas dengan tawa dan emoji hati dari keluarganya. Cindy tersenyum, hatinya terasa hangat. Ia tahu, ia tidak sendirian. Kini, ia siap untuk melanjutkan perjalanan, membawa tawa dan kasih sayang dari Dresden, untuk Lev di Banjarmasin.
