Tiga tahun telah berlalu sejak wahyu pertama turun di Gua Hira. Dalam kurun waktu itu, dakwah Nabi Muhammad SAW dilakukan secara sembunyi-sembunyi, membangun fondasi keimanan yang kokoh di antara para sahabat terdekat. Jumlah pengikut memang belum banyak, tetapi hati-hati mereka telah menyala dengan cahaya tauhid yang takkan pernah padam. Allah melihat keteguhan mereka, dan kini, saatnya telah tiba untuk melangkah ke fase berikutnya.
Wahyu baru turun, firman dari Surah Al-Hijr ayat 94: "Maka sampaikanlah (secara terang-terangan) segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik."
Ini adalah perintah yang jelas: dakwah harus diumumkan secara terbuka. Nabi Muhammad SAW tidak lagi bisa bersembunyi. Beliau harus menghadapi Mekkah yang keras kepala, yang tenggelam dalam tradisi leluhur dan penyembahan berhala. Ini adalah ujian yang jauh lebih berat dari sekadar perenungan di gua yang sepi. Ini adalah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan, antara cahaya dan kegelapan, di tengah panggung yang disaksikan semua mata.
Nabi Muhammad SAW memilih sebuah panggung yang paling menonjol di Mekkah, Bukit Shafa. Ia naik ke puncaknya, sebuah tempat yang dari sana ia bisa melihat seluruh kota dan didengar oleh seluruh penduduknya. Dengan suara yang lantang dan jelas, ia memanggil kabilah demi kabilah: "Wahai Bani Fihr! Wahai Bani 'Adi! Wahai Bani Hasyim!" Hingga seluruh kaum Quraisy berkumpul di kakinya, penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Al-Amin, sosok yang mereka hormati.
Ketika seluruh kaum telah berkumpul, Nabi Muhammad SAW bertanya, "Jika aku memberitahu kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian, apakah kalian akan memercayaiku?"
Semua orang menjawab serentak, "Kami tidak pernah mendengar engkau berbohong!" Mereka masih mengakui kejujuran Nabi Muhammad SAW yang tak tercela.
Nabi Muhammad SAW kemudian melanjutkan, suaranya kini dipenuhi dengan keteguhan risalah, "Sesungguhnya, aku datang untuk memperingatkan kalian tentang azab yang pedih. Sembahlah hanya satu Tuhan, Allah, dan tinggalkanlah berhala-berhala yang tidak dapat memberi manfaat atau mudarat!"
Reaksi yang terjadi sungguh di luar dugaan. Bukan sambutan, melainkan caci maki dan penolakan keras yang datang dari pamannya sendiri, Abu Lahab. Dengan wajah penuh amarah, ia berteriak, "Celakalah engkau! Apakah untuk ini engkau mengumpulkan kami?"
Teriakan itu bagaikan belati yang menusuk hati Nabi Muhammad SAW. Paman yang seharusnya melindunginya kini menjadi penentang utama. Tindakan Abu Lahab adalah representasi dari sikap kaum Quraisy secara keseluruhan. Mereka menolak ajaran Nabi Muhammad SAW karena takut kehilangan kekuasaan, merasa ajaran itu akan merusak tradisi nenek moyang mereka, dan merasa angkuh dengan status mereka sebagai pemuka Mekkah. Ide persamaan derajat dalam Islam adalah sesuatu yang tak bisa mereka terima.
Sejak saat itu, perlawanan kaum Quraisy terhadap dakwah Nabi Muhammad SAW semakin intens. Mereka tidak lagi bisa membiarkan ajarannya menyebar. Berbagai cara mereka lakukan untuk menghentikan penyebaran Islam. Mereka mulai mengejek, mencaci, dan mengintimidasi Nabi Muhammad SAW beserta para pengikutnya. Rumahnya dilempari kotoran, dan kata-kata kasar dilemparkan kepadanya setiap kali beliau melewati keramaian.
Namun, Nabi Muhammad SAW tidak pernah gentar. Dengan cinta dan kesabaran yang luar biasa, beliau menghadapi semua hinaan dan perlakuan kasar itu. Setiap caci maki yang ia terima, ia balas dengan doa. Setiap perlakuan buruk yang ia dapatkan, ia balas dengan maaf. Beliau menunjukkan kepada seluruh umat manusia, bahkan di tengah kebencian yang paling pekat, cinta dan kesabaran adalah senjata yang paling ampuh.
Ujian di Bukit Shafa adalah titik balik. Dakwah tidak lagi menjadi bisikan rahasia, tetapi seruan lantang yang harus didengar semua orang. Meskipun ancaman dan bahaya mengintai, cahaya kebenaran telah dinyalakan di atas bukit, dan takkan ada badai yang mampu memadamkannya. Inilah awal dari perjuangan yang sesungguhnya, sebuah perjuangan yang akan menguji kekuatan iman dan keteguhan cinta.
