Sore hari di rumah keluarga Al-Fatih selalu menjadi momen paling ditunggu. Setelah lelah mengantar katering, Haris dan Zayn memilih bersantai di ruang tamu. Sementara Aisyah dan Zoya membersihkan dapur dan mengecek stok bahan makanan, Haris dan Zayn memulai ritual khas mereka: berdebat soal sepak bola.
Ruang tamu mereka adalah kuil kecil pemujaan terhadap Manchester United. Karpet merah dengan aksen logo klub, bantal sofa berwarna merah-hitam, dan sebuah TV layar datar besar yang siap menyiarkan siaran langsung Liga Inggris adalah pemandangan biasa. Satu-satunya benda yang 'berbeda' adalah sebuah plakat kaligrafi "Masya Allah" yang dipasang tepat di atas TV, menjaga keseimbangan antara fanatisme duniawi dan spiritualitas.
"Zayn, Abi sudah bilang. Masalah MU musim ini cuma satu: Lini tengah kita kurang kreativitas. Bruno Fernandes terlalu sering dipaksa turun," ujar Haris, duduk santai di sofa sambil menyesap kopi tubruk panas.
Zayn, yang duduk di karpet sambil menyortir koleksi kartu pemainnya, mendengus. "Bukan, Abi. Masalahnya di bek kanan. Full-back kita sering overlap tapi telat turun. Ruang kosong itu yang dieksploitasi tim lain. Kalau Wan-Bissaka main terus, kita beres."
Perdebatan mereka biasanya akan berlangsung berjam-jam, melibatkan statistik, formasi, dan teori konspirasi soal wasit yang selalu merugikan MU.
Di tengah keasyikan berdebat, Hana dan Adam ikut bergabung. Hana duduk di sebelah Haris, sementara Adam langsung merebut kartu pemain dari tangan Zayn.
"Abi, Zayn, kalian berdua salah besar," sela Hana, melepas kacamatanya sejenak untuk membersihkan lensanya. Suaranya terdengar serius, seperti seorang pundit profesional.
Haris dan Zayn menoleh, terkejut. "Lho, pakar cilik kita sudah mau kasih analisis?" goda Haris.
Hana membetulkan posisi duduknya. "Menurut data statistik yang aku baca di Sky Sports, masalah MU itu ada di manajemen klubnya. Transfer pemainnya sering gak jelas arahnya. Musim ini beli pemain mahal di posisi yang sudah penuh, tapi di posisi striker murni kita malah kekurangan."
Haris terdiam. Analisis Hana, meski disampaikan dengan lugu, cukup menohok. Zayn pun terlihat berpikir.
"Nah, kalau menurutku, masalahnya karena kita tinggal di London!" celetuk Adam polos, membuat semua orang di ruangan itu tertawa.
"Maksudnya, Adam?" tanya Zayn.
"Iya, kalau kita tinggal di Manchester kan, auranya beda. Pasti MU jadi juara terus. Di sini banyak fans Chelsea sama Arsenal, jadi energinya negatif," jawab Adam mantap.
Tawa Haris semakin meledak. Aisyah dan Zoya yang baru masuk ke ruang tamu membawa sepiring pisang goreng renyah ikut tersenyum mendengar celoteh Adam.
"Ada-ada saja kamu, Dam. Energi negatif itu datang dari Mr. Davies yang fans Arsenal tadi pagi," timpal Haris, mengedipkan mata ke arah Aisyah.
"Abi sama Zayn ini memang paling keras kepala soal bola," ujar Aisyah, meletakkan pisang goreng di meja. "Di sini London, kita hidup rukun sama siapa saja. Mau dia fans Arsenal, Chelsea, Spurs, atau bahkan tim League One. Yang penting silaturahmi jalan terus."
"Betul Umi. Keragaman itu indah, kecuali kalau mereka bilang MU itu klub buruk," sahut Zayn, mengundang tawa lagi.
Perdebatan soal taktik dan transfer pemain berlanjut hingga maghrib tiba. Bagi keluarga Al-Fatih, momen-momen ini adalah cara mereka mempererat ikatan. Di tengah kota metropolitan London yang serba cepat dan individualistis, ruang tamu mereka menjadi benteng kehangatan, tempat di mana kecintaan pada Manchester United bersanding damai dengan nilai-nilai keluarga Islami, dan analisis sepak bola bisa datang dari siapa saja, bahkan dari pakar cilik berusia sepuluh tahun.
Malam itu, mereka berkumpul untuk salat Maghrib berjamaah, dipimpin oleh Haris. Setelahnya, suasana ruang tamu kembali hening. TV menyala, menyiarkan pra-pertandingan Liga Inggris. Malam ini, MU akan bertandang ke markas tim papan tengah.
"Bismillah, semoga tiga poin," bisik Haris, memasang jersey merah kebanggaannya, siap menyambut "Hari Sakral" selanjutnya.
