Kebencian kaum Quraisy yang memuncak setelah dakwah terang-terangan di Bukit Shafa, kini berubah menjadi teror yang kejam. Mereka tidak lagi hanya mencaci maki, tetapi mulai menyiksa para pengikut Nabi Muhammad SAW, terutama mereka yang berasal dari kalangan budak, orang miskin, atau yang tidak memiliki perlindungan klan yang kuat. Kehidupan di Mekkah menjadi neraka bagi mereka yang beriman.
Bilal bin Rabah, seorang budak berkulit hitam dari Habasyah, menjadi salah satu korban. Tuannya, Umayyah bin Khalaf, menyiksanya tanpa ampun. Setiap hari, di tengah terik matahari padang pasir, Bilal ditelentangkan di atas batu-batu yang membara. Sebuah batu besar diletakkan di atas dadanya, membuat ia sesak napas. Namun, di tengah penderitaan yang luar biasa, satu kata yang tak pernah hilang dari bibirnya adalah, "Ahad, Ahad!" (Satu, Satu!). Imannya kepada Allah, Yang Maha Esa, tak pernah goyah.
Kisah keluarga Yasir juga tak kalah tragis. Ammar bin Yasir, bersama kedua orang tuanya, Yasir dan Sumayyah, menjadi sasaran kekejaman. Mereka disiksa dengan cara yang tak berperikemanusiaan, dipaksa untuk meninggalkan Islam. Namun, iman mereka tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Sumayyah menjadi syahidah pertama dalam Islam, dibunuh secara kejam oleh Abu Jahal. Keluarganya menjadi simbol pengorbanan tertinggi demi mempertahankan agama.
Nabi Muhammad SAW menyaksikan semua ini dengan hati yang hancur. Beliau mencintai para sahabatnya melebihi dirinya sendiri. Beliau merasakan setiap penderitaan yang mereka alami. Namun, beliau tahu bahwa beliau tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan kekejaman itu. Beliau hanya bisa memberikan motivasi, doa, dan ketabahan.
Dalam kebuntuan itu, sebuah solusi datang. Nabi Muhammad SAW bersabda kepada para sahabatnya, "Pergilah ke negeri Habasyah. Sesungguhnya di sana ada seorang raja yang tidak menzalimi seorang pun. Negeri itu adalah negeri yang penuh kebaikan. Tinggallah di sana sampai Allah memberikan kelonggaran kepada kalian."
Keputusan ini adalah keputusan yang sulit. Hijrah berarti meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan keluarga dan harta benda, dan menempuh perjalanan yang penuh risiko melintasi padang pasir dan lautan. Namun, demi iman, demi keselamatan akidah, para sahabat siap menempuh segala risiko.
Gelombang pertama hijrah ke Habasyah terjadi pada tahun kelima kenabian, sekitar 615 Masehi. Rombongan kecil yang terdiri dari 12 laki-laki dan 4 wanita, dipimpin oleh Utsman bin Affan, menempuh perjalanan rahasia di bawah kegelapan malam. Di antara mereka terdapat Ruqayyah, putri Nabi Muhammad SAW, yang ikut serta bersama suaminya, Utsman. Ini adalah perpisahan yang sangat mengharukan. Nabi Muhammad SAW harus merelakan putrinya dan para sahabat terkasihnya pergi, demi menyelamatkan iman mereka.
Di tepi pantai, mereka dengan sembunyi-sembunyi menaiki kapal yang menuju Habasyah. Meskipun kaum Quraisy sempat mengetahui rencana mereka dan mengejar hingga ke pantai, takdir Allah berkata lain. Mereka berhasil berlayar dan tiba dengan selamat di Habasyah, sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja Nasrani yang adil, Najasyi.
Di Habasyah, para sahabat menemukan kedamaian yang selama ini mereka rindukan. Mereka dapat beribadah dengan tenang, tanpa rasa takut akan siksaan. Kehidupan mereka di sana menjadi bukti bahwa iman sejati takkan pernah bisa dihancurkan oleh kekuasaan duniawi.
Tidak lama setelah gelombang pertama, menyusul gelombang kedua yang terdiri dari 83 laki-laki dan 19 wanita. Kekejaman di Mekkah tidak berhenti, bahkan semakin menjadi-jadi, membuat hijrah menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang ingin mempertahankan iman.
Hijrah ke Habasyah bukan sekadar pindah tempat, tetapi sebuah pengorbanan yang monumental. Ini adalah ujian yang menunjukkan betapa tingginya nilai sebuah keimanan. Para sahabat meninggalkan kenyamanan, kemewahan, dan keluarga demi sebuah keyakinan yang mereka anggap lebih berharga dari segalanya. Dan Nabi Muhammad SAW, meskipun hatinya dipenuhi kerinduan dan kesedihan, tetap tegar, karena beliau tahu, keputusan itu adalah yang terbaik untuk keselamatan iman para pengikutnya. Kisah hijrah ini menjadi pelajaran abadi tentang ketabahan, pengorbanan, dan kekuatan iman di tengah badai cobaan.
