Simak kisah inspiratif 5 sahabat perantau di Banjarmasin tahun 2013. Perjuangan kuliah, persahabatan anak kos, hingga kisah cinta Islami
Aroma sungai yang khas—perpaduan antara bau air tawar, kayu basah, dan asap mesin klotok—menyambut kedatangan Muhammad Hifni saat bus antarkota yang ia tumpangi memasuki gerbang batas kota Banjarmasin. Di telinganya, suara bising mesin bus perlahan kalah oleh debar jantungnya sendiri. Tahun 2013 adalah tahun penentuan. Baginya, Barabai adalah rumah, namun Banjarmasin adalah medan pembuktian.
Hifni turun di Jalan Kayu Tangi dengan tas carrier besar di punggung. Di tangannya, selembar kertas berisi alamat kos-kosan di daerah Hasan Basry menjadi satu-satunya petunjuk. Ia tidak sendirian. Di depan sebuah warung makan, empat pemuda lainnya sudah menunggu dengan barang bawaan yang tak kalah heboh.
"Hifni! Di sini, Luk!" teriak Nazib, pemuda asal Paringin dengan dialek Hulu Sungai yang kental. Nazib berdiri di samping tumpukan kardus berisi monitor tabung dan CPU—perlengkapan "perang" untuk jurusannya, Ilmu Komputer.
Hifni tersenyum lebar, menyalami sahabat-sahabatnya satu per satu. Ada Irvan Zidni dari Amuntai yang tampak rapi dengan baju koko dan kopiah hitam, mencerminkan identitasnya sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Ada Khairi dari Kandangan yang sibuk mengelap keringat, ia membawa tas besar berisi buku-buku persiapan menjadi Guru SD. Dan terakhir Amin, pemuda Martapura yang justru membawa bibit tanaman unggul di dalam polibag kecil, siap dipindahkan ke lahan percobaan Fakultas Pertanian.
"Lengkap sudah lima pendekar Hulu Sungai," kelakar Amin sambil menepuk bahu Hifni. "Ayo, sebelum matahari makin tinggi, kita cari itu Kos Keramat nomor 13."
Mereka berlima berjalan menyusuri gang-gang di daerah Kayu Tangi. Kehidupan mahasiswa di tahun 2013 masih terasa sangat analog. Belum ada aplikasi ojek online atau penunjuk jalan digital yang akurat. Mereka mengandalkan lidah untuk bertanya dan insting untuk melangkah.
"Kita ini seperti hijrahnya para sahabat," celetuk Irvan di sela perjalanan. "Meninggalkan kenyamanan masakan Ibu di kampung demi menuntut ilmu. Ingat, Man Jadda Wajada. Siapa yang bersungguh-sungguh, dia yang akan sampai."
"Tapi kalau bersungguh-sungguh jalannya sambil bawa CPU begini, bisa rontok pinggangku, Van," sahut Nazib yang langsung disambut gelak tawa lainnya.
Setelah hampir tiga puluh menit berputar-putar, mereka sampai di sebuah bangunan kayu dua lantai yang tampak kokoh namun bersahaja. Di depannya terdapat pohon mangga rimbun dan sebuah musala kecil yang hanya berjarak tiga rumah.
"Ini dia. Kos-kosan kita," ucap Hifni pelan, menatap bangunan yang akan menjadi saksi bisu perjuangan mereka empat tahun ke depan.
Mereka pun mulai membagi kamar. Hifni, sang mahasiswa Ilmu Pemerintahan, terpilih sebagai "Ketua Kos" secara tidak resmi karena sifatnya yang tenang dan organisatoris. Sore itu, mereka tidak langsung beristirahat. Sebagai anak rantau yang menjunjung tinggi adab, mereka mulai menyapu halaman dan menyapa tetangga sekitar.
"Permisi, Nek. Kami mahasiswa baru yang akan tinggal di sini," ujar Hifni dengan sopan saat menyapa seorang ibu tua yang sedang menyiram bunga di sebelah kos.
Kehidupan slice of life mereka dimulai malam itu. Di bawah lampu neon yang sedikit berkedip, mereka duduk melingkar di ruang tengah yang beralaskan tikar purun. Tidak ada meja makan mewah, hanya ada bungkusan nasi kuning seharga lima ribu rupiah yang mereka beli di simpang empat jalan.
"Tahun 2013 ini awal sejarah kita," Hifni membuka pembicaraan setelah menghabiskan suapan terakhirnya. "Empat tahun lagi, aku ingin kita semua duduk di sini lagi, tapi dengan toga di kepala dan gelar di belakang nama. Kita buktikan kalau anak daerah bisa bersaing di kota."
"Amin!" seru mereka serempak.
Di luar, hujan rintik mulai turun membasahi bumi Banjarmasin. Suara katak bersahutan dengan bunyi air sungai yang pasang di bawah kolong rumah. Bagi orang lain, itu mungkin suara bising, tapi bagi lima sahabat ini, itu adalah musik pembuka dari simfoni perjuangan mereka.
Hifni menatap langit-langit kamar. Pikirannya melayang jauh ke masa depan. Ia belum tahu tantangan apa yang menanti, atau siapa yang akan ia temui di persimpangan jalan nanti. Yang ia tahu pasti, Tuhan telah menetapkan langkahnya di sini, di Kota Seribu Sungai.
Lanjut ke Bab 2: Barabai ke Banjarmasin – Ambisi Hifni di Jurusan Ilmu Pemerintahan
