Setelah makan malam yang lezat dan obrolan yang hangat dengan marbot masjid, Lev dan Rauf kembali ke penginapan mereka. Sepanjang jalan, Lev terus saja berbicara tentang kesan pertamanya di Kandangan. "Rauf, aku merasa damai di sini. Udara segar, orang-orangnya ramah, dan suasana Islaminya terasa sekali. Ini bukan lagi sekadar misi dari Kakek, ini sudah jadi petualangan spiritual," ucap Lev, matanya berbinar.
Rauf tersenyum. "Baru satu hari, Lev. Jangan terlalu terbawa perasaan. Kamu kan gampang terkesima sama hal-hal baru."
Keesokan paginya, mereka berencana untuk mengunjungi sebuah desa di sekitar Kandangan. Pak Amang, penjual es kelapa yang mereka temui kemarin, memberikan petunjuk. "Kalau mau lihat kehidupan pedesaan yang asli, kalian ke desa sana. Nanti kalian tanya orang di sana, pasti tahu," katanya.
Berbekal petunjuk Pak Amang yang samar-samar dan peta buta bikinan Lev sendiri, mereka berangkat dengan mobil sewaan. Jalanan menuju desa itu kecil, berliku, dan sesekali berlumpur. Lev dengan semangat mengambil kamera, siap memotret.
"Rauf, ini nih. Off-road tipis-tipis. Keren kan?" Lev berseru.
"Keren apanya? Ini namanya nyasar, Lev. Peta buta bikinanmu ini enggak ada gunanya," Rauf mengomel.
Setelah beberapa jam menyusuri jalanan yang tidak jelas, mereka sampai di sebuah persimpangan. Di sana, ada tiga anak laki-laki yang sedang bermain kelereng.
"Dek, permisi. Mau tanya, kalau ke desa A di mana, ya?" tanya Lev, ramah.
Anak-anak itu berhenti bermain. Salah satu dari mereka, yang paling besar, menunjuk ke arah jalanan yang sepi dan berbatu. "Lurus aja, Kak. Nanti ada jembatan, nah di situ desanya."
Lev mengangguk, berterima kasih. Mereka melanjutkan perjalanan sesuai petunjuk. Jalanan yang semakin sepi dan berbatu membuat Rauf semakin khawatir. "Lev, ini beneran? Kok kayaknya enggak ada tanda-tanda kehidupan?"
Lev dengan santai melihat peta buta-nya. "Tenang, Rauf. Feelingku kuat kalau ini jalan yang benar. Kan kata anak-anak tadi, ada jembatan."
Setelah berjalan cukup lama, mereka sampai di sebuah jembatan kayu yang sudah reyot. Jembatan itu tampak tidak aman untuk dilewati mobil.
"Lev, ini bukan jembatan buat mobil," Rauf panik.
"Tenang, Rauf. Kita tinggal parkir di sini, terus jalan kaki aja. Kan petualangan," jawab Lev enteng.
Mereka memarkir mobil di pinggir jalan, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Jalanan yang mereka lalui semakin kecil, berliku, dan diapit oleh pepohonan rindang. Setelah berjalan cukup jauh, mereka menemukan sebuah rumah panggung tua yang sepi. Tidak ada tanda-tanda desa.
"Lev, kita nyasar," Rauf berbisik, wajahnya pucat.
Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara tawa anak-anak yang riang. Lev dan Rauf menoleh, melihat tiga anak yang tadi memberi mereka petunjuk, sedang melambaikan tangan.
"Kak! Kena prank! Desanya bukan di sini!" seru salah satu anak, tertawa terbahak-bahak.
Lev dan Rauf melongo. Wajah mereka memerah menahan malu dan kesal. Anak-anak itu, setelah puas menertawakan mereka, menghampiri.
"Maaf, Kak. Kami cuma iseng," ucap anak yang paling besar, masih sisa tawa.
"Jadi, desa yang sebenarnya di mana?" tanya Rauf, berusaha menahan emosi.
"Di sana, Kak. Sebelah persimpangan yang tadi. Kami cuma mau coba-coba, siapa tahu ada orang nyasar," jawab anak itu, polos.
Lev dan Rauf hanya bisa menggelengkan kepala. Mereka kembali ke mobil dengan perasaan campur aduk. Lucu, kesal, malu, semua menjadi satu.
Di dalam mobil, Rauf mengomel. "Lev! Tadi kamu bilang feeling-mu kuat! Ini namanya feeling-nya buta!"
Lev hanya nyengir malu. "Ya, namanya juga anak-anak, Rauf. Kan kangen juga di-prank kayak gitu. Lagipula, kan jadi ada cerita."
Akhirnya, dengan petunjuk yang benar dari anak-anak yang sudah kapok menipu mereka, Lev dan Rauf sampai di desa yang sebenarnya. Desa itu indah, dengan rumah-rumah panggung yang rapi, dan hamparan sawah yang hijau. Mereka disambut hangat oleh warga desa. Lev kembali mengambil kamera, tapi kali ini ia lebih berhati-hati.
"Rauf, ini namanya hikmah. Dari kejadian di-prank, kita jadi lebih peka. Jadi lebih tahu, kalau anak-anak itu polos dan jujur. Kadang, orang dewasa yang terlalu banyak akal-akalan," ucap Lev, sambil memotret pemandangan sawah.
Rauf hanya bisa tersenyum. Lev, dengan segala kecerobohannya, kadang bisa mengeluarkan kata-kata yang bijak. Petualangan mereka di Kandangan, sepertinya akan terus dipenuhi dengan kejutan-kejutan yang tak terduga, baik yang lucu maupun yang penuh hikmah.
