Anindya Putri tidak main-main dengan "Proyek Penyambutan Aisha Kim". Setelah mengirim email balasan yang penuh semangat kepada sahabatnya, ia segera duduk di meja kerja yang sebenarnya adalah meja makan yang disulap—dan membuka beberapa aplikasi e-commerce sekaligus. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, mencari barang-barang yang dianggapnya esensial.
"Kita butuh kesan pertama yang profesional, Bi," ujar Anindya kepada Lev, yang sedang memperbaiki router WiFi di sudut ruangan.
"Profesional untuk menyambut teman, Mi? Aisha kan temanmu, bukan investor," balas Lev, kepalanya nongol dari balik meja.
"Ya, tapi dia kan chef terkenal! Dia pasti memperhatikan detail estetika. Pokoknya, kita butuh bed cover motif Korea yang estetik, satu set lengkap peralatan makan keramik putih, dan karpet baru untuk ruang tamu."
"Karpet kita yang sekarang baru setahun lho, Mi," Lev mencoba bernegosiasi.
"Yang sekarang motif bunga-bunga, Aisha kan minimalis orangnya! Sudan, jangan banyak protes. Ini demi nama baik keluarga Ryley di mata internasional," Anindya memenangkan perdebatan sepihak itu dengan argumen "internasional" yang tak terbantahkan.
Ghina dan Rayyan, yang sedang mengerjakan PR di meja yang sama, berpandangan. "Umi kalau sudah mode belanja, kayak mode turbo di game balap," bisik Ghina kepada Rayyan. Rayyan mengangguk setuju, matanya yang polos mencerminkan kepolosan murni.
Di kampus ULM, Aisyah Humaira juga sibuk dengan rencananya. Sebagai organisatoris ulung, ia tahu betul bagaimana mengelola acara, termasuk acara keluarga. Ia membuat sebuah itinerary yang rapi di laptopnya, membagi tugas untuk setiap anggota keluarga.
"Oke, list tempat wisata di Banjarmasin sudah beres. Pasar Terapung wajib. Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Menara Pandang Siring, dan mungkin kunjungan ke sentra kain sasirangan. Kita harus tunjukkan budaya Banjar kita," gumam Aisyah pada dirinya sendiri.
Ia lalu membuat daftar tugas: Ayah Lev bertugas sebagai sopir dan storyteller dadakan (meski ceritanya sering melenceng), Ibu Anindya sebagai koordinator konsumsi dan akomodasi (alias belanja), Maryam sebagai dokumentasi visual (sketsa dan foto), Ghina dan Rayyan sebagai tim hiburan dan pemandu lokal cilik.
"Sempurna," kata Aisyah, puas dengan hasil kerjanya. Ia mengirim itinerary itu ke grup WhatsApp keluarga.
Beberapa menit kemudian, ponsel Aisyah bergetar. Pesan dari Lev: "Nak, itinerary ini keren, tapi Abi saran jangan terlalu padat. Nanti Tante Aisha capek. Dan tolong tambahkan budget bensin di budget total, kayaknya Abi bakal sering bolak-balik ngambil paket online Umi."
Anindya, yang juga membaca pesan itu, langsung membela diri di grup chat: "Abi, paketnya kan buat keperluan Tante Aisha juga! Ada smart garden kit lho, buat berkebun! Biar halaman kita estetik ala Korea!"
Lev membalas dengan emotikon menangis.
Sementara di kamar Maryam, suasana lebih tenang. Maryam Safiya, yang berbakat seni, sedang membuka-buka buku tentang budaya Korea yang ia pinjam dari perpustakaan sekolahnya. Ia tertarik dengan kisah Aisha yang menemukan iman di tengah gemerlap Seoul. Dalam imajinasinya, ia mulai menggambar seorang wanita berhijab dengan latar belakang Istana Gyeongbokgung. Sketsanya halus dan penuh perasaan. Baginya, menyambut Aisha adalah cara terbaik untuk belajar tentang inspirasi dan seni dari budaya lain.
Kembali ke Seoul, Aisha Kim sedang melakukan pengepakan terakhir. Ia memastikan semua bahan makanan kering halal khas Korea—seperti bubuk cabai gochugaru berkualitas tinggi, rumput laut kering, dan beberapa bumbu instan halal yang sulit dicari di luar Korea—sudah masuk ke dalam koper kedap udaranya.
"Ini pasti akan berguna saat aku mengajari mereka masak nanti," pikirnya.
Aisha juga memasukkan beberapa bibit tanaman organik langka yang ia pelajari dari ahli kebun tradisional di Korea. Ia berencana membagikan ilmunya tentang berkebun, sesuatu yang membuatnya tenang di masa-masa sulit dulu.
Dua keluarga, dua budaya, dua kota yang kontras Banjarmasin yang hijau dengan sungai-sungainya, dan Seoul yang metropolitan dengan gedung pencakar langitnya sedang bersiap untuk terhubung. Di tengah semua persiapan logistik, belanja, dan rencana perjalanan, ada benang merah persahabatan yang kuat terbentang melintasi benua.
Pesawat Aisha akan terbang besok pagi dari Bandara Incheon. Di Banjarmasin, Anindya baru saja menyelesaikan pesanan terakhirnya di e-commerce.
"Selesai! Tinggal menunggu paket datang," kata Anindya puas, menutup laptopnya.
Lev menatap tumpukan kardus di teras dengan pandangan kosong. "Tinggal menunggu bencana datang," gumamnya, membuat Ghina dan Rayyan tertawa.
Malam itu, semua orang tidur dengan perasaan campur aduk: Anindya dengan rasa penasaran, Lev dengan kecemasan finansial yang lucu, anak-anak dengan kegembiraan murni, dan Aisha dengan doa agar perjalanannya lancar. Babak baru dalam kisah mereka akan segera dimulai.
