Sabtu pagi di Banjarmasin selalu identik dengan keriuhan yang manis di kediaman keluarga Ryley. Matahari Kalimantan Selatan sudah tinggi, memanaskan udara yang masih terasa segar di sekitar komplek perumahan sederhana namun asri itu.
Di dapur, aroma haruan bakar (ikan gabus) yang bercampur dengan bumbu kunyit sudah menguar, didominasi oleh suara wajan yang berdenting riang. Anindya Putri, sang ibu cerdas yang juga aktif di majelis taklim, sedang sibuk mempersiapkan sarapan. Meskipun seorang influencer belanja online lokal dengan ribuan pengikut—yang ironisnya lebih sering memasak dengan asisten rumah tangga ketimbang dirinya sendiri—pagi ini ia terlihat cekatan.
"Abi, tolong angkat jemuran di belakang! Matahari sudah terik!" seru Anindya dari dapur, suaranya melengking menembus ruang keluarga.
Lev Ryley, sang ayah modern humoris yang bekerja di bidang IT, sedang asyik meneliti layar laptopnya di sofa ruang tamu, headset bertengger di telinga. Pria itu—yang sering kewalahan dengan paket belanja online istrinya—melenguh malas. "Iya, Umi, sebentar lagi deployment-nya selesai," jawabnya tanpa menoleh, fokus pada barisan kode di hadapannya.
Di lantai atas, keriuhan juga terasa. Aisyah Humaira (20), si sulung mahasiswi PGSD ULM yang cerdas dan organisatoris ulung itu, sedang memilih baju untuk rapat organisasi kampusnya. Maryam Safiya (14), siswi SMP Islami yang pendiam dan berbakat seni, sedang asyik menggambar sketsa di buku catatannya, mengabaikan keributan di sekitarnya. Sementara Ghina Qalbi (12) dan Rayyan Zuhayr (9), si lincah dan si polos, sedang kejar-kejaran di koridor rumah, membuat lantai bergetar.
"Rayyan! Jangan lari-lari! Nanti jatuh!" teriak Ghina, mengejar adiknya yang tertawa cekikikan.
Tepat di tengah kekacauan pagi yang normal itu, ponsel Anindya yang tergeletak di meja makan bergetar dan menyala, menampilkan notifikasi email dengan subjek yang menarik perhatiannya: "Kabar Bahagia dari Seoul, Anin!"
Mata Anindya langsung membulat. Ia segera meninggalkan wajan panasnya (hampir saja melupakan haruan bakarnya) dan berlari kecil ke meja makan. Jantungnya berdebar kencang. Ia mengenali pengirim email itu: Kim Sora, sahabat lamanya dari zaman kuliah di Manchester.
Dengan jari bergetar, Anindya membuka email tersebut.
Assalamualaikum Anindya sayang,
Apa kabar kamu dan keluarga di Banjarmasin? Masya Allah, sudah lama sekali ya kita tidak bertemu sejak lulus dari Manchester. Aku harap kalian semua sehat.
Alhamdulillah, banyak hal terjadi di sini. Aku sudah mantap berhijab sekarang, dan namaku kini Aisha Kim. Doakan istiqomah ya, sahabat.
Intinya, aku punya kabar gembira. Insya Allah, kalau tidak ada halangan, aku berencana untuk mengambil cuti panjang dan ingin sekali mengunjungi kalian di Indonesia! Aku ingin melihat "Serambi Mekkah"-nya Kalimantan yang sering kamu ceritakan itu, dan tentu saja, bertemu langsung dengan Lev dan anak-anakmu yang lucu-lucu.
Bagaimana, apa kalian bersedia menerima tamu jauh ini? Aku sudah tidak sabar mencicipi masakan rumahmu!
Salam hangat dari Seoul,
Aisha Kim (Sora)
Anindya membaca email itu dua kali, memastikan matanya tidak salah baca. Aisha Kim! Sahabatnya yang super chef itu akan datang!
"A-abi!" panggil Anindya lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih excited ketimbang menyuruh jemur pakaian.
Lev Ryley, yang akhirnya selesai dengan pekerjaannya, mencopot headset-nya dan berjalan ke ruang makan. "Ada apa, Umi? Kaget Abi," ujarnya, melihat ekspresi Anindya yang berseri-seri.
Anindya menunjuk layar ponselnya dengan jari telunjuk yang masih sedikit basah. "Aisha... Aisha Kim mau datang ke Banjarmasin!"
Lev mengerutkan kening sejenak, memproses nama itu. "Aisha Kim? Oh, Sora temanmu yang chef dari Korea itu? Masya Allah, serius?" Wajahnya ikut berseri.
"Serius! Dia mau datang ke sini, Bi! Ke rumah kita!"
Tiba-tiba, mata Anindya berbinar dengan kilatan yang sangat dikenal oleh Lev. Kilatan itu bukan kilatan kebahagiaan biasa, melainkan kilatan "misi belanja".
"Kita harus siapkan kamar terbaik! Kita harus redecorate ruang tamu! Kita harus beli peralatan masak baru yang canggih! Aisha itu chef bintang lima, Bi! Malu kalau dapur kita begini-begini saja!" Rentetan rencana belanja mulai meluncur dari bibir Anindya, lebih cepat dari koneksi internet tercepat Lev.
Lev Ryley hanya bisa menelan ludah. Ia sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi dalam beberapa hari ke depan: notifikasi dari kurir paket yang tidak akan berhenti berbunyi, tumpukan kardus di depan pintu, dan saldo rekeningnya yang menangis di pojokan.
"Umi, kita baru saja melunasi sofa bulan lalu..." Lev mencoba mengingatkan dengan halus.
"Ah, Abi jangan pelit! Ini tamu agung dari luar negeri! Lagipula, aku kan influencer belanja, nanti bisa di-endorse sedikit-sedikit," Anindya membalas cepat, otaknya sudah memikirkan strategi marketing untuk menyambut Aisha.
Di koridor atas, Ghina dan Rayyan berhenti berlari. Mereka menguping pembicaraan orang tua mereka.
"Siapa yang mau datang, Kak Ghina?" tanya Rayyan polos.
"Tante Korea katanya. Pasti dia bawa snack banyak!" jawab Ghina penuh harap, matanya berbinar memikirkan Topokki instan atau ramyeon halal.
Sementara di kamar Aisyah, si sulung sudah membuka aplikasi peta dan mulai merencanakan rute wisata: "Pasar Terapung, Menara Pandang, Masjid Raya Sabilal Muhtadin... fix, harus jadi itinerary yang keren!"
Di kamarnya, Maryam tersenyum tipis. Dalam hati, ia penasaran dengan sosok Aisha yang diceritakan Anindya sebagai orang yang menemukan Islam di negeri ginseng. Maryam mengambil pensil warnanya, siap membuat sketsa kedatangan tamu istimewa itu.
Pagi itu, rumah keluarga Ryley di Banjarmasin terasa lebih hidup dari biasanya. Kedatangan Aisha Kim dari Seoul bukan hanya sebuah kunjungan biasa, melainkan awal dari sebuah petualangan lintas budaya yang akan membawa tawa, inspirasi, dan tentu saja, banyak paket belanja online. Lev Ryley hanya bisa berdoa agar server ekspedisi lokal kuat menampung pesanan istrinya.
