Sebagai seorang perantau, Lev tahu betul bahwa tidak ada obat rindu yang lebih manjur daripada masakan ibu. Suatu sore, ide gila muncul di benaknya: ia akan memasak makanan khas Banjar untuk Jessica. Ia ingin Jessica merasakan kehangatan dan kekayaan budaya dari kampung halamannya, tidak hanya dari cerita.
"Jess, besok malam kamu ada acara?" tanya Lev saat mereka berjalan pulang dari kampus.
"Tidak ada. Kenapa?" jawab Jessica.
"Aku mau memasak makanan khas dari kampungku. Kamu mau coba?" tawar Lev dengan sedikit cemas. Ia takut masakannya tidak sesuai dengan lidah Jessica.
"Mau banget!" jawab Jessica bersemangat. "Aku sudah tidak sabar mencicipi 'ular ikan'-mu itu!"
"Bukan ular ikan, Jess. Itu ikan gabus," koreksi Lev sambil tertawa. "Tapi kali ini aku tidak masak itu. Aku mau masak soto banjar."
Keesokan harinya, Lev pergi ke pasar Asia di Perth untuk mencari bahan-bahan. Mencari rempah-rempah yang familiar seperti pala, cengkeh, dan kayu manis di tengah deretan rempah-rempah eksotis lainnya adalah tantangan tersendiri. Ia berhasil menemukan sebagian besar bahan yang dibutuhkan. Ia juga membeli ayam, soun, dan telur bebek.
Malam harinya, dapur asrama yang biasanya sunyi menjadi ramai dengan aktivitas Lev. Ia mulai memotong-motong ayam, mengulek bumbu, dan menyiapkan nasi. Aroma harum rempah-rempah mulai tercium, menarik perhatian beberapa mahasiswa lain yang penasaran.
Saat Jessica datang, ia disambut dengan aroma yang luar biasa. "Wah, ini aroma yang paling enak yang pernah tercium di dapur ini!" serunya sambil mengedarkan pandangan.
Lev tersenyum bangga. "Aku harap rasanya juga enak," katanya.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Saat Lev mencoba memisahkan kuning telur dari putihnya, tangannya terpeleset dan seluruh telur tumpah ke lantai. PRAK!
"Ya ampun!" seru Lev kaget.
Jessica, yang melihat kejadian itu, langsung tertawa terbahak-bahak. "Oh, Lev! Dapurmu jadi dapur bencana sekarang!"
Lev hanya bisa menggelengkan kepala, ikut tertawa. Mereka berdua membersihkan kekacauan itu bersama-sama. Jessica, yang tidak terbiasa dengan masakan tradisional, mencoba membantu tapi malah membuat kekacauan baru. Ia tidak sengaja menumpahkan soun yang sudah direbus ke dalam panci sup yang sudah matang, membuat soto banjar Lev jadi terlalu kental.
"Ups! Maaf, Lev," kata Jessica dengan wajah bersalah, tapi ia juga tidak bisa menahan tawa.
"Tidak apa-apa, Jess. Ini jadi soto banjar spesial, namanya soto banjar plus soun," canda Lev.
Akhirnya, soto banjar yang 'tidak sempurna' itu siap disajikan. Lev menyajikan soto itu dengan telur bebek, soun, potongan ayam, dan perkedel kentang. Jessica mencicipi soto itu dengan hati-hati.
"Hmmm... ini... enak sekali!" serunya dengan mata berbinar. "Rasanya sangat kaya, dan aromanya... ini benar-benar masakan ibu, ya?"
"Mirip," jawab Lev. "Aku juga merasakan kehangatan dari masakan ini."
Mereka berdua makan dengan lahap, sambil sesekali saling melontarkan lelucon. Lev bercerita tentang betapa ibunya akan marah jika melihat dapur asrama yang berantakan, dan Jessica bercerita tentang pengalaman buruknya saat mencoba memasak kue dan berakhir dengan asap memenuhi seluruh rumah.
Malam itu, dapur asrama menjadi saksi bisu tawa Lev dan Jessica. Mereka bukan hanya menikmati hidangan, tapi juga kebersamaan. Lev menyadari bahwa memasak bukan hanya tentang menciptakan makanan, tapi juga tentang berbagi cinta dan kebahagiaan. Dan meskipun soto banjarnya tidak sempurna, soto itu telah berhasil menyatukan dua sahabat dari dua dunia yang berbeda.
Setelah makan, mereka membersihkan dapur bersama-sama. Lev merasa bersyukur memiliki Jessica, sahabat yang tidak hanya menerima dirinya apa adanya, tapi juga ikut menikmati setiap momen konyol yang mereka lalui. Komedi di dapur internasional ini menjadi kenangan manis yang takkan pernah mereka lupakan.
