Beberapa bulan telah berlalu sejak Sultan Suriansyah naik takhta. Kota Daha, yang sempat porak-poranda oleh perang, perlahan bangkit kembali. Masjid agung yang dijanjikan mulai dibangun, dengan desain yang menggabungkan arsitektur Banjar dan sentuhan Demak. Di bawah kepemimpinan yang baru, rakyat bekerja dengan semangat, karena mereka tahu, mereka membangun bukan hanya sebuah kota, melainkan sebuah Kesultanan baru.
Namun, tidak semua orang senang dengan perubahan ini. Beberapa bangsawan lama, yang terbiasa dengan sistem lama, tidak menyukai reformasi yang dilakukan Sultan Suriansyah. Mereka melihat Islam sebagai ancaman bagi tradisi leluhur mereka, dan mereka melihat Sultan Suriansyah sebagai boneka dari Kesultanan Demak. Mereka bertemu secara rahasia, merencanakan cara untuk menggulingkan Sultan Suriansyah dan mengembalikan kekuasaan lama.
Samudra, yang kini dipanggil Sultan Suriansyah, menyadari ancaman ini. Ia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan militer. Ia harus menggunakan diplomasi dan kebijakan yang bijaksana untuk memenangkan hati para bangsawan yang ragu. Ia mengundang mereka ke istana, mendengarkan keluhan mereka, dan menjelaskan visi-visinya untuk masa depan Banjar.
"Perubahan adalah keniscayaan," katanya kepada mereka. "Kita tidak bisa hidup di masa lalu. Kita harus melihat ke depan. Islam tidak akan menghancurkan tradisi kita, tetapi akan memperkuatnya. Kita akan membangun Banjar yang lebih kuat, lebih makmur, dan lebih adil."
Meskipun beberapa bangsawan masih ragu, beberapa lainnya mulai luluh. Mereka melihat ketulusan di mata Sultan Suriansyah, dan mereka melihat bukti dari reformasinya. Perdamaian dan kemakmuran mulai kembali ke Banjar, dan mereka tahu, ini adalah hasil dari kepemimpinan Sultan Suriansyah.
Di sisi lain, ancaman juga datang dari luar. Kerajaan-kerajaan tetangga, yang iri dengan kekayaan dan kemajuan Banjar, mulai merencanakan serangan. Mereka melihat Banjar sebagai musuh, dan mereka ingin mengambil alih kekuasaan.
Samudra, yang kini dipanggil Sultan Suriansyah, tidak panik. Ia sudah siap untuk menghadapi ancaman ini. Ia memperkuat angkatan lautnya, melatih pasukannya, dan menjalin aliansi dengan kerajaan-kerajaan yang bersahabat. Ia juga mengirimkan mata-mata ke kerajaan-kerajaan tetangga, untuk mengetahui rencana mereka.
Suatu hari, seorang mata-mata kembali dengan kabar buruk. "Paduka, Kerajaan Kutai sedang merencanakan serangan besar," katanya. "Mereka akan menyerang kita dari laut dan darat."
Sultan Suriansyah tidak membuang waktu. Ia memanggil para panglimanya, Bagus, Sangkuriang, dan panglima dari Demak. Mereka merencanakan strategi. "Kita tidak akan menunggu mereka," kata Sultan Suriansyah. "Kita akan menyerang mereka lebih dulu. Kita akan menyerang di tempat yang tidak mereka duga."
Bab ini berakhir dengan pasukan Sultan Suriansyah yang bersiap untuk pertempuran. Mereka telah membangun kembali Banjar, tetapi mereka tahu, mereka harus siap untuk mempertahankannya. Di bawah langit senja yang memerah, mereka berdiri tegak, siap untuk menghadapi ancaman yang datang. Perjuangan belum berakhir, dan mereka siap untuk bertempur.
