"Salju! Salju turun!"
Suara pekikan Sofia terdengar riang dari telepon. Lev, yang sedang membereskan kamarnya, buru-buru berlari ke jendela. Benar saja. Di luar, butiran-butiran putih kecil mulai turun dari langit kelabu, menari-nari dalam hening. Ini adalah kali pertama seumur hidupnya Lev melihat salju, dan ia merasa seperti anak kecil yang baru mendapat mainan.
"Lev! Pakai jaketmu! Kita harus keluar sekarang!" suara Sofia tidak memberi Lev kesempatan untuk menolak.
Lima belas menit kemudian, Lev sudah berdiri di depan gedung apartemennya, menunggu Sofia. Ia mengenakan jaket tebal berlapis, syal, sarung tangan, dan topi kupluk. Walaupun sudah berpakaian tebal, udara dingin masih terasa menggigit. Namun, hatinya menghangat oleh antusiasme.
Tak lama, Sofia datang dengan pipi yang memerah karena dingin. "Lihat! Cantik sekali, kan?" katanya, menengadah ke langit, membiarkan butiran salju jatuh di wajahnya.
Lev hanya bisa mengangguk. Ia tidak bisa berkata-kata. Pemandangan di sekelilingnya seperti lukisan yang hidup. Jalanan yang tadinya basah, kini mulai tertutup lapisan putih. Atap-atap rumah dan ranting-ranting pohon yang gundul dihiasi kristal es.
"Coba ini!" Sofia tiba-tiba mengambil segumpal salju dan melemparkannya ke arah Lev.
Lev terkejut. Salju itu jatuh di bahu jaketnya. "Hei!"
Sofia tertawa lepas, lalu mengambil salju lagi. Lev, yang awalnya bingung, akhirnya ikut bermain. Ia menggulirkan salju menjadi sebuah bola dan melemparkannya kembali ke Sofia. Mereka berdua terlibat dalam perang bola salju yang riang, tertawa terbahak-bahak seperti anak kecil. Tangan Lev terasa dingin, tapi ia tidak peduli. Perasaan bahagia itu jauh lebih kuat.
Setelah merasa puas bermain, mereka berdua berjalan menyusuri jalanan yang berselimut salju. Suasana terasa sunyi, damai. Hanya ada suara sepatu bot mereka yang berderit di atas salju.
"Ini rasanya... seperti berada di dalam film," bisik Lev.
"Memang begitu. Perm musim dingin sangat indah," jawab Sofia. "Kamu suka?"
"Sangat suka. Saya tidak pernah membayangkan akan melihat ini seumur hidup saya," Lev mengakui. "Di Banjarmasin, kita tidak punya salju. Hanya hujan dan panas."
Mereka berdua berhenti di sebuah taman kecil. Sebuah pohon dengan ranting-ranting yang dibalut salju berdiri di tengahnya. Lev menyentuh ranting itu dengan sarung tangannya. Kristal es terasa dingin di telapak tangannya.
"Subhanallah..." gumam Lev tanpa sadar.
"Apa?" tanya Sofia.
"Artinya... Maha Suci Allah," jelas Lev. "Melihat semua ini... saya tidak bisa tidak merasa kagum dengan kebesaran Tuhan. Dia menciptakan hal-hal yang begitu indah, dan saya bisa melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Sofia terdiam sejenak, memandangi wajah Lev. Ia melihat ketulusan yang mendalam di mata Lev. "Saya mengerti," bisik Sofia, suaranya terdengar lembut. "Mungkin bagi kami ini biasa, tapi bagi kamu... ini adalah hal yang luar biasa."
Mereka kembali melanjutkan perjalanan. Mereka berbicara tentang makna keindahan. Lev berbicara tentang bagaimana Islam mengajarkan untuk selalu melihat keindahan di setiap ciptaan-Nya. Sofia mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Saya seringkali merasa, di dunia yang serba cepat ini, kita lupa untuk berhenti sejenak dan mengagumi hal-hal kecil," kata Sofia. "Contohnya salju ini. Kami di sini sudah terbiasa. Tapi kamu mengingatkan saya lagi bahwa ini adalah sesuatu yang istimewa."
Lev tersenyum. "Itu karena saya melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Dari sudut pandang orang yang tidak pernah melihatnya sebelumnya. Mungkin itu salah satu hikmahnya, kenapa saya harus jauh-jauh ke sini."
Setelah berjalan cukup lama, mereka memutuskan untuk kembali. Tangan dan kaki mereka terasa beku, tapi hati mereka hangat. Lev merasa sangat bersyukur. Ia mendapatkan pengalaman yang tak terlupakan, dan ia mendapatkannya bersama Sofia, sahabat barunya.
Saat mereka berpisah di depan apartemen Lev, Sofia menatap Lev dengan senyum yang tulus. "Terima kasih sudah mengingatkan saya, Lev. Tentang keindahan yang seringkali saya lupakan."
"Sama-sama, Sofia. Terima kasih juga sudah mengajak saya bermain salju. Mungkin lain kali, saya yang akan mengajakmu main air di sungai Martapura," gurau Lev.
Sofia tertawa. "Saya tunggu. Sampai jumpa besok!"
Lev melambaikan tangan, lalu masuk ke apartemennya. Ia menanggalkan jaket tebalnya dan menatap keluar jendela. Salju masih turun, lebih tebal dari sebelumnya. Lampu-lampu jalan memudar di balik tirai putih. Lev tersenyum. Ia tidak hanya mendapatkan pemandangan yang indah, tetapi juga pelajaran berharga tentang makna persahabatan dan kekaguman. Perjalanan ini, jauh dari rumah, ternyata membawanya semakin dekat dengan banyak hal. Termasuk dengan dirinya sendiri, dan dengan Sang Pencipta.
