Petualangan Bawah Air di Raja Ampat: Snorkeling Halal dan Keindahan Terumbu Karang | Wisata Papua Barat
Melanjutkan perjalanan spiritual di Indonesia Timur, empat sahabat kita menjelajahi surga bawah laut Raja Ampat. Bab ini dipenuhi keanekaragaman hayati, tantangan Candra, dan refleksi Islami yang mendalam. Destinasi impian untuk pecinta diving dan snorkeling halal.
Penerbangan panjang dari Labuan Bajo menuju Sorong, dilanjutkan dengan perjalanan kapal menuju Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat, telah menguras energi empat sahabat. Namun, lelah itu sirna seketika saat kaki mereka menginjak dermaga kayu di salah satu homestay di Pulau Kri. Air laut di bawah dermaga itu begitu jernih, memperlihatkan ikan-ikan kecil berwarna-warni berkejaran di antara terumbu karang dangkal.
"Ini... ini sih akuarium raksasa ciptaan Allah," bisik Aziz, matanya berbinar, melupakan sejenak rasa kantuknya. Kameranya sudah siap di tangan, meskipun dia tahu tantangan sebenarnya ada di bawah air.
Rencana hari ini adalah menjelajahi beberapa spot snorkeling terbaik di sekitar area Raja Ampat, sebuah destinasi yang terkenal dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di planet ini.
Candra, sang ahli logistik, kali ini tampak sedikit gelisah. Ia mengecek masker snorkelingnya berulang kali. "Kalian yakin ini aman? Aku dengar arus di sini cukup kuat di beberapa titik," tanyanya, nada suaranya sedikit tegang. Candra memang bukan perenang ulung, dan prospek menyelam di laut terbuka membuatnya was-was.
Bashir yang melihat kegelisahan Candra langsung memasang mode cheerleader kocak. "Alah, Candra, tenang aja! Ada aku, kapten tim penyelamat! Kalau ada hiu lewat, aku yang maju duluan, bilang 'Assalamualaikum, jangan makan Candra, dia belum bayar utang snorkeling sewa'."
Dani menepuk bahu Candra sambil tersenyum. "Kita akan bersama-sama, Can. Insya Allah aman. Kita baca doa naik kendaraan air dulu sebelum berangkat, ya?"
Mereka menyewa perahu kecil bersama seorang pemandu lokal bernama Pak Soleman, seorang pria asli Papua yang ramah dan fasih bercerita tentang adat istiadat dan kekayaan alam Raja Ampat.
Tujuan pertama adalah spot di dekat Pulau Mansuar. Pak Soleman menjelaskan bahwa di sini, coralnya masih sangat sehat.
Saat tiba di lokasi, Aziz dan Bashir langsung melompat ke air dengan antusias. Dani mengikuti dengan tenang. Candra ragu-ragu di pinggiran perahu.
"Ayo, Can! Airnya hangat kok!" panggil Bashir dari kejauhan, kepalanya menyembul di permukaan air.
Dengan mengumpulkan segenap keberanian, Candra akhirnya menceburkan diri. Begitu kepalanya masuk ke dalam air dan matanya terbiasa dengan pemandangan di bawah sana, napasnya tertahan.
Dunia lain terhampar di hadapannya. Ribuan ikan kecil berwarna neon berenang meliuk-liuk di antara formasi terumbu karang yang berwarna-warni—biru, ungu, merah, hijau. Ada ikan clownfish (ikan badut) bersembunyi di anemonnya, penyu hijau meluncur pelan, dan sesekali ikan pari melintas anggun.
"Subhanallah... Masya Allah..." Candra bergumam di balik maskernya. Ketakutannya menguap, digantikan oleh kekaguman yang mendalam. Ia merasa seperti berada di dalam surga duniawi.
Aziz sibuk memotret dengan kamera bawah airnya, berusaha menangkap setiap detail keajaiban itu. Bashir, di sisi lain, malah asyik berinteraksi dengan sekumpulan ikan damselfish, mencoba membuat mereka berbaris rapi layaknya sedang briefing pagi.
Di tengah keasyikan snorkeling, waktu salat zuhur dan asar tiba. Mereka naik kembali ke perahu. Pak Soleman, yang beragama Kristen yang taat, dengan sabar menunggu mereka membersihkan diri sejenak.
"Di sini memang begini, Pak. Kita hidup berdampingan. Saling menghargai waktu ibadah masing-masing," ujar Pak Soleman sambil tersenyum.
Mereka berwudu menggunakan air laut yang sedikit asin—sesuai rukhsah (keringanan) dalam fikih safar—dan melaksanakan salat jamak qasar di atas perahu yang bergoyang pelan. Pemandangan hamparan air biru luas menjadi kiblat spiritual mereka. Momen itu terasa sangat sakral.
Selesai salat, Dani memimpin diskusi singkat. "Kita melihat ribuan spesies berbeda di bawah sana, tapi semuanya hidup berdampingan dalam satu ekosistem yang seimbang. Ini pelajaran bagi kita, umat manusia. Berbeda itu fitrah, tapi hidup rukun itu perintah."
Aziz menambahkan, "Benar. Allah menciptakan semua ini dengan ukuran yang tepat. Tidak ada yang sia-sia."
Mereka melanjutkan perjalanan ke Piaynemo, ikon Raja Ampat dengan bukit-bukit karang kecil yang menjulang indah dari laut. Mereka mendaki ratusan anak tangga untuk mencapai puncak viewpoint.
Pemandangan dari atas bukit Piaynemo membuat mereka terdiam seribu bahasa. Formasi pulau-pulau karst yang tersusun rapi membentuk pola bintang di tengah lautan biru toska adalah lukisan alam paling sempurna yang pernah mereka lihat.
Aziz mengabadikan momen itu, sementara Bashir untuk kali ini, hanya diam.
"Baru kali ini aku lihat Bashir diam," bisik Candra kepada Dani.
"Keindahan yang luar biasa kadang membuat kata-kata terasa tidak cukup, Can," jawab Dani.
Mereka berempat berdiri di puncak Piaynemo, hati mereka penuh rasa syukur. Dua pantai di Indonesia Timur telah mereka singgahi, dan setiap tempat memberikan pelajaran yang berbeda. Hari mulai gelap, dan mereka turun kembali dengan tekad baru, siap untuk petualangan pantai selanjutnya di esok hari, di bagian lain nusantara.
