Senin pagi di SD Tunas Bangsa, suasana terasa berbeda. Pagi itu akan diadakan upacara khusus untuk memberikan penghargaan kepada guru-guru berprestasi. Vania, yang beberapa minggu lalu dipilih sebagai "Guru Teladan" oleh yayasan sekolah, merasa antara bangga dan cemas. Ia bangga karena kerja kerasnya diakui, tapi cemas karena ia tahu dirinya mudah sekali tergelincir, baik dalam arti kiasan maupun harfiah.
Mia dan Sarah sudah lebih dulu datang ke sekolah untuk memberi dukungan. Mereka duduk di kursi tamu, tak henti-hentinya berswafoto dengan latar panggung yang dihias. "Van, kamu kelihatan cantik banget hari ini!" puji Mia sambil mengambil foto. "Pakai baju batik ini jadi makin bersinar."
"Iya, semoga aja aura bersinarnya nggak luntur karena bebek lagi," timpal Sarah, sedikit menggoda.
Vania hanya tersenyum kecut. Ia mencoba menenangkan dirinya, membayangkan dirinya berjalan dengan anggun ke atas panggung, menerima piala, dan mengucapkan pidato yang inspiratif.
Acara dimulai. Vania duduk di barisan depan bersama guru-guru lainnya. Setelah beberapa sambutan dan pengumuman, tibalah saatnya penyerahan penghargaan.
"Dan, inilah dia, Guru Teladan kita tahun ini, Ibu Vania Larasati!" seru pembawa acara dengan suara lantang.
Tepuk tangan riuh terdengar. Vania menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberaniannya. Ia berjalan ke arah panggung, berusaha agar langkahnya terlihat anggun dan berwibawa. Namun, saat menaiki tangga panggung, rok span yang ia kenakan ternyata terlalu ketat. Kakinya tersangkut.
Gubrak!
Vania terjatuh. Piala yang ada di tangan ketua yayasan ikut terlempar. Vania jatuh terduduk, pandangannya kabur. Ia mendengar suara tawa tertahan dari beberapa murid, dan bisik-bisik dari para orang tua. Wajahnya merah padam. Ia merasa seperti ingin kabur ke kolong meja, atau menenggelamkan diri di Sungai Martapura.
Mia dan Sarah langsung bangkit dari kursi mereka, berlari ke arah Vania.
"Vania! Kamu tidak apa-apa?" tanya Mia dengan wajah panik.
"Lihat tuh! Rok kamu robek, Van!" seru Sarah, sambil menutupi rok Vania yang sedikit sobek di bagian lutut.
Vania tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya sudah siap tumpah. Semua mata tertuju padanya. Ia merasa ini adalah hari terburuk dalam hidupnya.
Tiba-tiba, seorang pria paruh baya yang merupakan guru BP di sekolah, Pak Budi, datang menghampiri. Dengan sigap, ia menutup tubuh Vania dengan kain batik yang ia bawa. "Sudah, Vania, tidak apa-apa. Itu cuma kecelakaan kecil," bisiknya.
Vania merasa sedikit tenang. Ia mencoba bangkit, dibantu oleh Pak Budi dan sahabat-sahabatnya. Ia berjalan dengan menunduk ke belakang panggung. Di belakang panggung, Mia dan Sarah langsung menenangkannya.
"Van, jangan sedih," kata Mia, memeluk Vania. "Kan kamu masih dapat pialanya, meskipun penyambutannya agak... berkesan."
"Iya, Van. Tenang aja. Nanti kita perbaiki rok kamu," timpal Sarah.
Vania hanya bisa mengangguk. Ia merasa sangat malu. Ia sudah berusaha keras untuk tampil sempurna, tapi nasib berkata lain. Kejadian ini pasti akan jadi bahan cerita seumur hidup.
"Permisi, Vania?" sebuah suara berat terdengar dari belakang.
Vania menoleh. Di belakangnya berdiri Lev Ryley, pria misterius itu. Ia mengenakan kemeja rapi dan celana kain, tapi kali ini wajahnya terlihat khawatir. Ia membawa selembar kain batik di tangannya.
"Ini, Pak Budi tadi pinjam kain batik saya. Saya kembalikan," katanya pada Vania, tapi matanya menatap langsung ke mata Vania. "Maaf, saya tidak bermaksud menguping. Tapi, Anda tidak apa-apa?"
Vania menggeleng pelan, merasa semakin malu. Ia menunduk, tidak berani menatap wajah Lev.
"Anda tidak perlu malu," kata Lev, suaranya lembut. "Saya yakin semua orang juga pernah mengalami hal seperti ini. Jadi, jangan terlalu dipikirkan."
"Lev! Kamu... wali murid baru, ya?" tanya Vania, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Iya," Lev mengangguk. "Anak saya masuk di kelas 3B. Dia anak yang usil, jadi mohon bantuannya, ya."
Vania terkejut. "Anak Anda... Naufal?"
Lev tersenyum. "Iya. Dia anak saya."
Mia dan Sarah yang dari tadi hanya diam, kini saling pandang dengan mata membulat. Anak dari pria misterius itu adalah Naufal, murid Vania yang paling usil. Dunia memang sempit.
Lev melihat jam tangannya. "Kalau begitu, saya permisi dulu. Sampai jumpa lagi, Bu Guru." Lev berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Vania yang masih terkejut dengan fakta yang baru ia dengar.
Vania tidak bisa berkata apa-apa. Rasanya ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Betapa sialnya ia, harus menumpahkan es kelapa muda ke baju ayah dari muridnya sendiri. Ia merasa semua ini adalah lelucon semesta. Tapi, ia juga merasa ada sesuatu yang aneh. Apakah ini semua kebetulan, atau memang sudah takdirnya?
Vania hanya bisa menghela napas, sambil memegang piala di tangannya. Ia mendapat penghargaan, tapi juga mendapat aib yang tak terlupakan. Ia hanya bisa berdoa, semoga kejadian ini tidak akan merusak citranya sebagai guru, dan semoga Lev tidak menganggapnya sebagai guru yang ceroboh. Tapi, melihat senyumnya tadi, sepertinya ia tidak perlu khawatir. Justru ia harus khawatir, karena ia merasa hatinya mulai berdebar lebih kencang dari biasanya.
