Setelah insiden di-prank anak-anak desa, Lev dan Rauf memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Loksado. Wilayah ini terkenal dengan keindahan alamnya yang masih perawan, serta tradisi bamboo rafting yang mendunia. Jarak dari Kandangan tidak terlalu jauh, sekitar satu jam perjalanan dengan mobil. Lev sudah membayangkan akan mendapatkan foto-foto yang spektakuler.
"Rauf, siap-siap. Ini bakal jadi puncak petualangan kita di Hulu Sungai Selatan!" seru Lev, penuh semangat.
Rauf mengangguk, kali ini tanpa banyak berkomentar. Ia sudah tidak sabar untuk meninggalkan Kandangan yang penuh dengan kejutan-kejutan Lev.
Perjalanan menuju Loksado terasa berbeda. Jalanan yang berliku, naik-turun, dan pemandangan hutan tropis yang lebat di sisi kanan dan kiri, membuat mereka terkesima. Udara yang semakin sejuk dan segar, membuat mereka merasa lebih rileks.
"Rauf, ini namanya terapi alam. Jauh dari hiruk pikuk kota, dekat dengan alam. Ini yang Kakek maksud kayaknya," gumam Lev.
Di Loksado, mereka langsung menuju Sungai Amandit, lokasi utama bamboo rafting. Mereka melihat deretan lanting atau rakit bambu yang sudah siap. Beberapa pemandu lokal menawarkan jasa mereka.
"Mau coba bamboo rafting, Kak?" tanya seorang pemuda.
Lev melirik Rauf, matanya memohon. "Rauf, ayolah. Masa kita sudah sampai sini, enggak coba?"
Rauf menimbang-nimbang. "Aku enggak bisa berenang, Lev."
"Tenang! Ada pelampung, kok. Kan cuma ikut arus sungai. Santai aja," Lev meyakinkan.
Akhirnya, dengan beberapa rayuan Lev, Rauf pun setuju. Mereka menyewa satu rakit bambu dengan seorang pemandu lokal yang ramah. Pemandu itu menceritakan tentang asal-usul bamboo rafting, yang dulunya digunakan oleh warga setempat untuk mengangkut hasil hutan.
Di atas rakit, Lev mengambil kamera dan mulai memotret. Rauf, yang awalnya tegang, perlahan-lahan mulai menikmati pemandangan. Air sungai yang jernih, pepohonan yang rindang, dan suara gemericik air sungai, membuat mereka merasa damai.
"Rauf, lihat! Ikan-ikannya kelihatan!" seru Lev, menunjuk ke bawah rakit.
"Ya, Lev. Ikan. Ikan. Jangan heboh," Rauf terkekeh.
Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah bendungan kecil. Rakit mereka berguncang saat melewati bendungan itu. Lev, yang sedang asyik memotret, tak sengaja menjatuhkan kamera ke dalam sungai.
Byur!
"KAMERAKU!" jerit Lev.
Rauf panik. "Lev! Jangan lompat! Airnya dalam!"
Lev tidak mendengarkan. Ia melompat dari rakit, berusaha mengambil kameranya. Rauf dan pemandu langsung memeganginya, menariknya kembali ke rakit.
"Lev! Kamu gila, ya? Kamera bisa dibeli, nyawa enggak!" Rauf memarahi.
Lev yang sudah berada di rakit dengan wajah pucat, hanya bisa pasrah. Kameranya, kesayangan Lev, tenggelam ke dasar sungai.
Pemandu itu berusaha menenangkan Lev. "Tenang, Nak. Nanti kita cari. Tapi sekarang, jangan panik dulu."
Setelah sampai di ujung sungai, mereka mencari kamera Lev. Dengan bantuan pemandu dan beberapa warga, mereka menyelam ke dasar sungai. Akhirnya, setelah beberapa saat mencari, kamera Lev ditemukan. Namun, sudah dalam keadaan rusak total.
Lev sedih, tapi juga merasa lega. Ia merasa bersalah karena sudah membahayakan dirinya sendiri demi kamera. Ia menatap Rauf, lalu tersenyum tipis.
"Rauf, kamu benar. Nyawa lebih berharga daripada kamera," Lev berkata.
Di pinggir sungai, mereka bertemu dengan seorang tokoh adat Dayak Meratus yang sudah tua. Tokoh itu, dengan pakaian adatnya, tersenyum ramah.
"Anak muda, jangan terlalu khawatir. Rezeki itu sudah ada yang atur. Yang penting, kita bersyukur atas apa yang kita punya," kata tokoh itu, bijak.
Lev mendengarkan dengan seksama. Ia merasa, kakeknya ingin ia belajar hal ini. Belajar tentang arti syukur, tentang pentingnya hidup berdampingan dengan alam, dan tentang menghargai hal-hal kecil.
Malam harinya, di penginapan, Lev dan Rauf duduk di teras, memandang bintang-bintang di langit Loksado yang cerah.
"Rauf, aku merasa, di Loksado ini, aku menemukan ketenangan yang sesungguhnya. Jauh dari kebisingan kota, dekat dengan alam, dan dekat dengan Sang Pencipta," ucap Lev.
"Lev, kamu sudah mulai mendewasa," Rauf tersenyum.
"Mungkin," Lev mengangguk. Ia sudah tidak lagi meratapi kameranya yang rusak. Ia sudah belajar. Bahwa keindahan itu tidak hanya bisa diabadikan dengan kamera. Tapi juga diabadikan di dalam hati. Dan itu, jauh lebih berharga.
