Alarm di apartemen Aisha Kim berbunyi tepat pukul 04.00 KST. Ia langsung terbangun, melakukan salat Subuh, dan mengecek kembali kopernya. Perasaannya campur aduk antara nervous—karena sudah lama tidak bepergian jauh sendirian—dan excited luar biasa untuk bertemu Anindya setelah bertahun-tahun.
Dengan trolley kecil, Aisha menuju stasiun kereta bandara. Pemandangan kota Seoul di pagi buta sangat kontras dengan gambaran Banjarmasin yang ia bayangkan: Seoul dipenuhi gedung pencakar langit yang menjulang dan sistem transportasi super efisien, sementara Anindya sering bercerita tentang sungai, jukung, dan suasana yang lebih santai.
Di Bandara Internasional Incheon, salah satu bandara tersibuk dan tercanggih di dunia, Aisha menyelesaikan proses check-in dengan lancar. Saat menunggu penerbangan, pikirannya melayang kembali ke masa-masa kuliah di Manchester, Inggris.
Anindya Putri adalah orang Indonesia pertama yang ia kenal dekat. Mereka dipertemukan di kelas manajemen kuliner. Anindya, dengan logat khas Banjarnya yang lembut namun ceria, sering membuat Sora (nama Aisha saat itu) tertawa. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di kafe kampus, berbagi cerita tentang budaya masing-masing.
Flashback itu terasa nyata: Anindya yang selalu membawa bekal makanan halal dari rumahnya (yang saat itu Anindya jualan makanan catering kecil-kecilan untuk tambahan uang saku), dan Sora yang selalu penasaran dengan rempah-rempah Indonesia. Tantangan terbesar mereka saat itu adalah mencari makanan halal yang lezat di kota seperti Manchester, yang didominasi oleh kuliner Barat. Mereka berdua sering bereksperimen di dapur asrama, menciptakan resep fusi Indonesia-Korea yang menjadi cikal bakal keahlian Aisha dalam mengadaptasi resep.
"Saat itulah aku belajar banyak tentang komitmen Anindya pada agamanya," gumam Aisha. Keteguhan Anindya untuk hanya memakan yang halal, meskipun pilihannya terbatas, meninggalkan kesan mendalam bagi Sora muda yang saat itu masih sekuler.
Panggilan boarding menyadarkan Aisha dari lamunannya. Ia naik ke pesawat, memilih tempat duduk di dekat jendela, dan membaca doa perjalanan. Saat pesawat lepas landas dari landasan pacu Incheon, menembus awan kelabu pagi, Aisha memejamkan mata, memohon agar perjalanannya menuju Indonesia, menuju rumah sahabatnya, diberkahi.
Di Banjarmasin, keluarga Ryley juga memulai pagi dengan sedikit kepanikan. Bukan karena keberangkatan Aisha, tapi karena paket online Anindya.
"Bi, paket humidifier sama karpetnya sudah sampai! Di depan pagar!" teriak Anindya dari teras, suaranya terdengar panik.
Lev, yang baru saja selesai sarapan Soto Banjar, langsung berlari ke depan. Pemandangan di sana sudah seperti gudang logistik dadakan. Ada tiga kardus berukuran raksasa dan beberapa paket kecil. Kurir ekspedisi langganan mereka sampai hafal dengan rumah itu.
"Mas Lev, banyak sekali hari ini," sapa kurir ramah itu, tersenyum maklum.
"Iya, Mas. Tamu VVIP mau datang," jawab Lev, mencoba mengangkat kardus karpet yang beratnya luar biasa.
Ghina dan Rayyan, yang baru bangun tidur, langsung heboh membantu Ayahnya.
"Wah, karpet baru! Asyik, bisa buat guling-guling!" seru Rayyan polos.
Anindya sibuk mengawasi penempatan barang, memberikan instruksi layaknya mandor proyek. "Taruh humidifier di kamar tamu! Karpetnya gelar di ruang tamu sekarang juga!"
Dalam waktu satu jam, rumah keluarga Ryley mengalami transformasi minor. Ruang tamu yang tadinya ceria dengan warna-warni, kini menjadi lebih minimalis dan estetik ala Pinterest (menurut Anindya). Kamar tamu juga sudah siap dengan humidifier yang mengeluarkan uap dingin.
"Sempurna," kata Anindya, menyeka keringat di dahinya. "Sekarang kita siap menyambut Aisha."
Aisyah Humaira, yang menyaksikan drama pagi itu, hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia mengecek jadwal penerbangan Aisha yang dikirimkan sang ibu. Pesawat Aisha akan mendarat sore nanti di Bandara Syamsudin Noor sesudah singgah sebentar di Bandara Jakarta.
"Abi, Umi, kita harus siap-siap. Pesawat Aisha mendarat tiga jam lagi. Perjalanan ke bandara kan lumayan jauh," Aisyah mengingatkan.
Keluarga Ryley segera mandi dan berganti pakaian rapi. Lev Ryley, yang biasanya hanya memakai kaus oblong di akhir pekan, hari ini memakai kemeja berkerah. Anindya mengenakan gamis terbaiknya.
Di dalam mobil menuju bandara, suasana sedikit tegang, terutama Lev yang sibuk menghafal beberapa kalimat bahasa Korea dari Google Translate.
"Annyeonghaseyo... Kamsahamnida... Saranghae... eh, jangan yang terakhir deh," gumam Lev sambil menyetir.
Anindya tertawa geli. "Abi, Aisha itu muslimah sekarang, dia pasti lebih senang kalau kita sambut pakai Assalamualaikum."
Lev mengangguk, tapi tetap menghafal kata-kata Korea itu. Baginya, ini adalah momen "diplomasi internasional" pertamanya.
Di atas awan, Aisha Kim sudah bisa melihat garis pantai Kalimantan. Jantungnya berdebar kencang. Ia akan segera menginjakkan kaki di tanah Indonesia, bertemu kembali dengan masa lalunya di Manchester, dan memulai babak baru kehidupannya yang Islami di kota Banjarmasin yang asing namun menjanjikan kehangatan.
