Tiba di Kairo, udara Mesir yang kering dan berdebu langsung menyambut mereka. Kontras sekali dengan kemegahan modern Dubai, Kairo menawarkan pemandangan kota yang padat, dengan bangunan-bangunan tua yang penuh sejarah dan jalanan yang riuh oleh suara klakson dan teriakan pedagang. Bagi Fatimah, ini adalah rumahnya. Bagi Lev, Khadijah, dan Aisyah, ini adalah pintu gerbang menuju masa lalu.
"Selamat datang di Kairo, kota seribu menara!" seru Fatimah, wajahnya berseri-seri. "Tapi jangan percaya dengan mitosnya. Di balik setiap sudut, ada cerita baru."
"Wow! Ini Kairo!" Aisyah langsung mengeluarkan ponselnya, merekam setiap momen. "Kalian lihat? Ini jauh lebih nyata daripada yang ada di film!"
Lev, yang duduk di samping Fatimah, menatap Fatimah dengan pandangan kagum. "Senang melihatmu kembali ke rumah, Fatimah. Kau tampak... hidup."
Fatimah tersenyum. "Memang. Di sini, aku merasa jadi diriku sendiri. Bukan hanya seorang peneliti, tapi juga bagian dari kota ini."
Mereka menuju hotel di dekat pusat kota. Setelah check-in, mereka memutuskan untuk langsung mengunjungi Piramida Giza. Perjalanan menuju sana tidak semudah yang dibayangkan. Jalanan yang macet dan padat membuat Lev merasa seperti kembali ke Banjarmasin saat pasar sedang ramai. Aisyah, yang tak pernah kehabisan ide, merekam kemacetan itu dengan antusias. "Ini namanya real-life vlog! Perjalanan tak terduga!"
Akhirnya, mereka sampai di kompleks Piramida Giza. Pemandangan Piramida yang menjulang tinggi di bawah langit biru yang cerah membuat mereka terdiam. Lev, yang selalu melihat arsitektur dari sudut pandang teknis, kini terkesima oleh keagungan dan misterinya.
"Bagaimana... bagaimana mereka bisa membangun ini?" bisik Lev, takjub.
"Itulah pertanyaan yang belum terjawab, Lev," jawab Khadijah, dengan matanya yang berbinar. "Piramida ini adalah bukti bahwa manusia bisa mencapai hal-hal luar biasa jika mereka bersatu."
Fatimah, dengan nada kritisnya, menyela. "Atau, kalau mereka dipaksa, Khadijah. Piramida ini dibangun dengan kerja keras para budak dan rakyat jelata. Ada sisi gelap dari sejarah ini."
"Benar," Aisyah menimpali. "Tapi sisi indahnya juga ada! Keren banget, Fatimah! Lihat! Aku mau selfie sama piramida!"
Lev, yang sedang mengamati detail Piramida, tiba-tiba mendapat ide. "Aku mau buat video tentang perspektif berbeda tentang Piramida! Bukan cuma dari sisi arsitektur atau sejarah, tapi juga dari sisi humor!"
Aisyah langsung tertawa. "Ide bagus, Lev! Kita bisa sebut videonya 'Piramida: Sisi Lain dari Bangunan Kuno'."
Mereka kemudian berjalan mendekati Piramida, melewati para pedagang yang menawarkan suvenir. Seorang pedagang menawarkan Lev untuk menaiki unta. Lev, yang masih trauma dengan unta di Dubai, langsung menolak dengan sopan.
"Tidak, terima kasih. Saya lebih suka jalan kaki."
Pedagang itu bersikeras, "Unta saya lebih jinak, Bos. Tidak akan jatuh."
"Bukan untanya yang tidak jinak, Pak. Sayanya yang tidak sejinak unta," jawab Lev, membuat pedagang itu tertawa.
Di dekat Sphinx, Lev berpose dengan gaya konyol, seolah-olah ia sedang berbisik ke telinga Sphinx. Aisyah merekam adegan itu, dan Fatimah hanya bisa menggelengkan kepala, geli. Khadijah tersenyum, bahagia melihat teman-temannya menikmati perjalanan ini dengan cara mereka masing-masing.
Saat mereka beristirahat di bawah tenda, Fatimah mengisahkan cerita-cerita tentang kehidupan di Mesir. Ia menceritakan tentang perdebatan-perdebatan panas di kafe-kafe, tentang keramahan masyarakat, dan tentang perjuangan hidup di tengah tantangan ekonomi. Lev, Khadijah, dan Aisyah mendengarkan dengan saksama.
"Di sini, hidup itu seperti Piramida, Lev," kata Fatimah. "Ada sisi yang indah, megah, dan disanjung. Tapi ada juga sisi gelap, sisi yang tidak semua orang tahu. Tapi kita harus melihat keduanya untuk mengerti."
Lev mengangguk, mencerna kata-kata Fatimah. Ia tahu, perjalanan ini akan semakin menantang. Tapi ia juga tahu, ia sudah tidak sendiri lagi. Empat paspor, satu tujuan, dan kini, satu tim yang siap menjelajah.
Sore itu, di bawah bayangan Piramida yang agung, Lev, Khadijah, Fatimah, dan Aisyah merasa lebih dekat dari sebelumnya. Mesir bukan lagi sekadar nama di peta, melainkan sebuah realitas yang mereka jalani bersama.
